Berita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Foto: Jewish News Syndicate)

Dunia

Netanyahu Tetap Tolak Akui Palestina sebagai Negara

SENIN, 17 NOVEMBER 2025 | 07:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina, hanya sehari sebelum Dewan Keamanan PBB memberikan suara atas rancangan resolusi buatan AS yang membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari rencana perdamaian Gaza.

Dalam rapat kabinet pada Minggu, 16 November 2025, Netanyahu mengatakan posisi Israel tidak berubah sedikit pun. Ia menilai negara Palestina hanya akan menguntungkan Hamas dan berpotensi menciptakan entitas yang lebih besar dan berbahaya di perbatasan Israel. 

Netanyahu juga menegaskan bahwa ia telah menggagalkan berbagai upaya menuju negara Palestina selama bertahun-tahun dan tidak terpengaruh tekanan internasional. “Saya tidak membutuhkan ceramah siapa pun,” ujarnya, dikutip dari AFP, Senin 18 November 2025.


Rancangan resolusi AS tersebut muncul setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang ditengahi Presiden Donald Trump. Dokumen itu mencakup pembentukan pemerintahan transisi dan penempatan pasukan keamanan internasional sementara, serta untuk pertama kalinya memasukkan kemungkinan berdirinya negara Palestina di masa depan -- hal yang langsung ditolak pemerintah Israel.

Di dalam negeri, Netanyahu mendapat tekanan dari sekutu koalisinya. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendesaknya mengeluarkan sikap tegas bahwa Israel tidak akan pernah menyetujui negara Palestina. Menteri Pertahanan Israel Katz juga menulis bahwa “kebijakan Israel jelas: tidak akan ada negara Palestina,” sementara Menteri Luar Negeri Gideon Saar menyebut negara itu tak akan menerima “negara teror” di jantung wilayah Israel. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir bahkan menyebut identitas Palestina sebagai “penemuan.”

Penolakan Israel semakin keras sejak beberapa negara Barat, termasuk Inggris, Australia, dan Kanada secara resmi mengakui negara Palestina pada September lalu. Netanyahu menuduh pengakuan tersebut sebagai “hadiah” untuk Hamas di tengah perang Gaza yang masih berlangsung.

Sementara itu, tahap pertama gencatan senjata telah menghasilkan pembebasan 20 sandera Israel dan hampir semua jenazah 28 sandera yang telah tewas. Sebagai imbalannya, Israel membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan mengembalikan sekitar 330 jenazah.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya