Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelligence)

Bisnis

Pendanaan Fintech Asia Tenggara Anjlok ke Level Terendah Sejak 2016

JUMAT, 14 NOVEMBER 2025 | 08:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekosistem financial technology (fintech) di Asia Tenggara memasuki fase pengetatan modal. Menurut laporan bersama UOB, PwC Singapura, dan Singapore FinTech Association (SFA), pendanaan di sektor ini selama sembilan bulan pertama tahun 2025 telah turun ke level terendah sejak tahun 2016.

Perlambatan ini cukup signifikan. Total nilai pendanaan fintech di kawasan ini anjlok 36 persen menjadi hanya sekitar 835 juta Dolar AS, sementara jumlah transaksi merosot tajam hingga 60 persen, menjadi 53 kesepakatan. 

Penurunan ini kontras dengan tren global, di mana pendanaan fintech dunia justru naik 13 persen. 


Meskipun nilai totalnya turun, para investor menunjukkan pergeseran fokus dengan mencari perusahaan yang lebih matang. Sebanyak 67 persen pendanaan kini mengalir ke startup tahap lanjut (later-stage) yang sudah mengejar profitabilitas dan model bisnis berkelanjutan.

Fokus pada kualitas ini tercermin dari naiknya rata-rata nilai transaksi tahap lanjut sebesar 40 persen, didorong oleh tiga kesepakatan jumbo senilai hampir 450 juta Dolar AS.

“Peningkatan ukuran transaksi dan kinerja kuat dari perusahaan tahap lanjut menegaskan keyakinan investor terhadap potensi jangka panjang Asia Tenggara sebagai ekonomi digital yang berkembang,” ujar Janet Young, Managing Director UOB, dikutip dari Businesstimes, Jumat 14 November 2025.

Singapura kembali menegaskan posisinya sebagai pusat fintech regional dengan menyerap 87 persen dari total pendanaan yang ada. Sementara itu, negara-negara lain menunjukkan aktivitas yang sepi. Porsi Indonesia anjlok tajam dari 15 persen pada 2024 menjadi hanya 4 persen  persen pada 2025. Thailand erosot dari 12 persen menjadi kurang dari 1 persen. Filipina memperoleh sekitar 4 persen dari total pendanaan, diikuti Vietnam (3 persen) dan Malaysia (2 persen).

Sektor pembayaran (payments) muncul sebagai penerima dana terbesar (41 persen), menggantikan banking tech yang pendanaannya menyusut.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya