Berita

Ilustrasi PDB tumbuh 5,04 persen. (Foto: sindonews)

Bisnis

PDB Tumbuh 5,04 Persen: Kebangkitan Investasi atau Ilusi Eksternal?

RABU, 12 NOVEMBER 2025 | 21:36 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

 INDONESIA menutup Triwulan III-2025 dengan pertumbuhan 5,04% (y-on-y), 1,43% (q-to-q), dan 5,01% (c-to-c). Di atas kertas, ini konsisten dengan lintasan 5%-an yang kerap dipuji “stabil”. Namun stabil tidak identik dengan aman -apalagi optimal.

Di balik angka headline, ada dua bacaan yang sama kuat: perspektif “kebangkitan investasi yang menular ke manufaktur”, dan perspektif tandingannya-“ opname yang tersamar oleh dorongan ekspor dan efek impor yang mengempis.” Keduanya patut diperdebatkan secara jujur sebelum kita mengambil kesimpulan kebijakan.

Investasi Bangkit, Manufaktur Menggeliat


Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melonjak 6,37% (q-to-q) dan 5,04% (y-on-y). Ini bukan sekadar angka; PMTB adalah jembatan dari permintaan ke kapasitas produksi masa depan.

Lonjakan kuartalan sebesar ini -bersanding dengan pertumbuhan industri pengolahan 4,09% (q-to-q) dan 5,54% (y-on-y)- memberi sinyal bahwa mesin penawaran (supply-side) tidak lagi terengah-engah. Manufaktur tetap menjadi jangkar PDB (19,15% dari struktur PDB triwulan ini), sementara konstruksi melaju 5,28% (q-to-q). Bila tren ini berlanjut, produktivitas bisa terdongkrak dan “batas kecepatan” jangka menengah ekonomi (potential growth) berpeluang naik mendekati 5,5%.

Ekspor barang dan jasa juga tumbuh kencang 6,77% (q-to-q) dan 9,91% (y-on-y). Meski ekspor memang dipengaruhi siklus harga komoditas dan pemulihan mitra dagang, kenaikan bersamaan dengan PMTB mengisyaratkan kombinasi yang sehat: ekspor memberi pasar, investasi menyediakan kapasitas.

Di sektor, jasa pendidikan tumbuh dua digit (10,59% y-on-y) yang memperkaya “komponen jasa bernilai tambah”?"aset penting untuk ekonomi yang ingin keluar dari perangkap pendapatan menengah. Secara spasial, Jawa menyumbang 56,68% PDB dan tumbuh 5,17% (y-on-y), sementara Sulawesi menjadi juara pertumbuhan 5,84%?"cermin bahwa penguatan manufaktur dan hilirisasi di luar Jawa mulai terasa.

PDB Terbantu ‘Mekanik’

Kabar baik dari BPS tersebut tentu perlu diteliti juga sisi bayangannya. Pertama, konsumsi rumah tangga?"tulang punggung lebih dari separuh PDB?"justru terkontraksi 0,56% (q-to-q), meskipun masih tumbuh 4,89% (y-on-y). Secara struktural, porsi konsumsi rumah tangga masih mendominasi (53,14%), tetapi pelemahan kuartalan ini sulit diabaikan, terutama ketika daya beli digerus harga pangan/energi yang bergejolak dan suku bunga riil yang belum benar-benar longgar sekalipun sudah ada injkesi likuiditas IDR200 T dan BI rate di turunkan.

Kedua, impor barang dan jasa turun 0,74% (q-to-q). Secara akuntansi PDB, impor adalah pengurang; ketika impor melemah, PDB “naik” secara mekanis. Namun bagi mesin produksi, impor yang lemah bisa menandakan tendensi lemahnya bahan baku/kapital yang justru dibutuhkan industri -atau perlambatan volume perdagangan. Dengan kata lain, sebagian dari pertumbuhan kuartalan mungkin ‘terlihat kuat’ karena efek pengurang impor, bukan karena permintaan domestik yang benar-benar bergairah.

Pada sektor keuangan dan asuransi juga tercatat menyusut 4,13% (q-to-q), dan administrasi pemerintahan tertekan 17,15% (q-to-q)?"memang sekalipun bermotif musiman, tetapi tetap menjadi pengingat betapa siklus fiskal/likuiditas domestik bisa menyeret permintaan agregat di periode tertentu. Di sisi produksi tahunan, pertambangan dan penggalian minus 1,98% (y-on-y), menandakan angin komoditas belum sepenuhnya berpihak, sekalipun hilirisasi terus digenjot. Intinya: tanpa penopang konsumsi yang solid dan impor bahan baku/kapital yang pulih (tanda pabrik benar-benar menambah input), lari 5% rawan menjadi “lari di tempat.”

Menguji Asumsi dan Arah Kebijakan

Asumsi populer: “Selama ekspor dan investasi kuat, kita aman.” Namun realitas ekonomi tidak sesederhana itu. Ekspor kuat yang tidak diikuti impor input produksi bisa berarti hanya margin sesaat, dan bukan ekspansi kapasitas berkelanjutan. Investasi yang tinggi namun tidak menetes ke produktivitas tenaga kerja dan TFP (total factor productivity) tentu akan cepat habis napasnya. Sementara konsumsi rumah tangga yang goyah dapat memutus transmisi multiplier investasi ke sektor lain.

Karena itu, toolbox kebijakan perlu lebih tajam: (i) menjaga daya beli (targeted food/transport support yang terukur, bukan pemborosan), (ii) memperlancar logistik impor bahan baku/kapital untuk manufaktur (reformasi perizinan dan layanan kepabeanan yang menurunkan dwell time), (iii) mendorong PMTB yang berkualitas -terutama program digitalisasi proses produksi UMKM dan manufaktur tingkat menengah- agar investasi benar-benar meningkatkan produktivitas, dan (iv) memperkuat pasar tenaga kerja (reskilling) supaya ledakan jasa pendidikan hingga dua digit berujung pada kompetensi yang dipakai industri.

Penutup

Angka triwulan ini memberi bahan bakar optimisme dan ekspektasi ekonomi semakin positif: PMTB naik, manufaktur menguat, ekspor impresif. Namun alarm kecil juga menyala: konsumsi melemah secara kuartalan, impor turun, dan sebagian sektor jasa publik/keuangan tertekan. Kinerja 5,04% seharusnya menjadi “dasar lantai”, bukan “plafon atas”.

Tugas kebijakan berikutnya adalah memastikan ekspor-investasi tidak berdiri sendiri, melainkan menetes ke produktivitas dan daya beli. Baru dengan begitu, 5,04% berubah dari stabilitas yang rapuh menjadi realitas ekonomi riil dan menjadi pijakan untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan.

*Penulis adalah Guru Besar Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI dan Direktur Riset GREAT Institute.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya