Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street: Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi

RABU, 12 NOVEMBER 2025 | 09:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Wall Street bervariasi dengan Dow Jones Industrial Average ditutup pada rekor tertinggi. Penguatan ini didorong kemajuan menuju berakhirnya penutupan pemerintahan (government shutdown) Amerika Serikat yang terpanjang dalam sejarah. 

Anggota DPR Amerika kembali ke Washington untuk melakukan pemungutan suara terkait kesepakatan yang dapat mengakhiri penutupan pemerintahan selama 53 hari. Platform prediksi Polymarket bahkan sepenuhnya memperkirakan penyelesaian akan tercapai minggu ini.

"Pasar berekspektasi penutupan pemerintahan segera berakhir. Aktivitas ekonomi akan kembali normal, data ekonomi kembali dirilis, dan ketidakpastian akan berkurang," ujar Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA Research, dikutip dari Reuters.


Dari sisi politik, Presiden AS Donald Trump memperingatkan potensi "bencana ekonomi dan keamanan nasional" jika Mahkamah Agung memutuskan menentang penggunaan undang-undang darurat untuk memberlakukan tarif impor secara luas.

Dow Jones ditutup melonjak 1,18 persen atau 559,33 poin menjadi 47.927,96 pada penutupan perdagangan Selasa 11 November 2025 waktu setempat. S&P 500 naik 0,21 persen atau 14,18 poin ke posisi 6.846,61, sementara Nasdaq Composite Index melemah 0,25 persen atau 58,87 poin jadi 23.468,30. 

Sebanyak 10 dari 11 sektor dalam S&P 500 mencatat kenaikan, dipimpin sektor kesehatan yang melesat 2,33 persen. Kinerja sektor ini ditopang kenaikan lebih dari 2 persen pada saham Eli Lilly, Johnson & Johnson, dan AbbVie.

Namun, saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti Nvidia melemah akibat kekhawatiran baru atas valuasi yang terlalu tinggi. Investor asal Jepang, SoftBank Group, mengumumkan telah menjual saham Nvidia senilai 5,8 miliar Dolar AS, membuat saham perusahaan pembuat chip tersebut anjlok hampir 3 persen.

Sentimen pasar juga tertekan oleh laporan tenaga kerja dari ADP yang menunjukkan perusahaan swasta memangkas rata-rata 11.250 pekerjaan per minggu selama empat pekan hingga 25 Oktober, memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun di S&P 500 dengan rasio 2,2 banding satu. Volume perdagangan Wall Street relatif ringan, yakni 15,3 miliar saham, dibandingkan rata-rata 20,8 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya karena pasar obligasi AS tutup untuk memperingati Hari Veteran.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya