Berita

Direktur Eksekutif DEEP Indonesia, Neni Nurhayati. (Foto: Dokumentasi pribadi Neni Nurhayati)

Politik

Gelar Pahlawan untuk Soeharto Peroleh Sentimen Positif di Publik

SELASA, 11 NOVEMBER 2025 | 01:59 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto oleh Presiden Prabowo Subianto menuai sentimen positif di publik.

Hal tersebut terpotret dalam penelitian kuantitatif opini publik yang dilakukan Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia di media massa dan sejumlah platform media sosial pada medio 1 hingga 10 November 2025.

Direktur Eksekutif DEEP Indonesia, Neni Nurhayati menjelaskan, selama 10 hari tersebut pihaknya memperoleh 5.989 pemberitaan yang tersebar di media online, cetak, dan elektronik. Serta, 39.351 percakapan di media sosial meliputi X, Facebook, Instagram, YouTube dan Tiktok. 


"Penarikan data dilakukan pada 1 November 2025 hingga 10 November 2025 pukul 11.13 WIB dengan keyword Soeharto, Suharto, PahlawanNasional, TolakSoehartoPahlawanNasional," urai Neni kepada RMOL di Jakarta, Senin, 10 November 2025.

Dari jumlah informasi yang berhasil diperoleh DEEP Indonesia dari berbagai media massa dan media sosial tersebut, didapat mayoritas wacana yang berkembang bermuatan positif terhadap pemberian gelar Pahlawan bagi Soeharto.

"Sentimen di media arus utama menunjukkan dominasi positif yang sangat kuat dengan 73 persen. Angka ini jauh melampaui sentimen negatif 21 persen, dan netral 6 persen," ujar Neni.

Selain itu, ia juga menemukan sentimen positif terhadap pemberian gelar Pahlawan bagi Soeharto, juga punya bertendensi positif di media sosial seperti X.

"Di platform X, sentimen positif juga mendominasi dengan 71 persen, diikuti sentimen netral 20 persen, dan sentimen negatif 9 persen. Pola ini serupa dengan media arus utama, menunjukkan bahwa narasi pro-Soeharto juga kuat di Twitter," ucapnya.

Berbeda dengan X yang sering menjadi medan perdebatan politik yang sengit, di Facebook menunjukkan sentimen netral menjadi yang paling tinggi dengan 38 persen diikuti sentimen negatif 35 persen dan sentimen positif 26 persen. 

"Ini menandakan bahwa diskusi di Facebook cenderung lebih berimbang, dan menunjukkan keragaman pandangan. Persentase netral yang tinggi bisa jadi mencerminkan pengguna yang berhati-hati dalam menyatakan posisi, atau adanya konten informatif yang disajikan tanpa bias sentimen yang kuat," jelasnya.

Sementara di Instagram, Neni memperoleh data yang menunjukkan sentimen netral mendominasi dengan angka 58 persen, diikuti sentimen negatif 29 persen, dan sentimen positif 13 persen.

"Di YouTube, sentimen negatif menjadi yang tertinggi dengan 39 persen, diikuti sentimen netral 38 persen, dan sentimen positif 23 persen. TikTok menunjukkan dominasi sentimen netral 57 persen, diikuti sentimen negatif 35 persen dan sentimen positif 16 persen," paparnya.

Lebih lanjut, Neni berkesimpulan atas penelitian pihaknya tersebut bahwa data yang diperoleh menggambarkan adanya polaritas sentimen yang jelas dalam masyarakat Indonesia, khusus mengenai figur Soeharto. 

"Media arus utama dan platform seperti Twitter didominasi sentimen positif yang cenderung menonjolkan capaian dan jasa. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kepentingan editorial, kekuatan narasi pendukung, atau audiens yang memang cenderung memiliki pandangan tersebut," ucapnya.

"Di sisi lain, platform seperti YouTube, Facebook dan Tiktok menunjukkan sentimen negatif yang lebih tinggi atau lebih berimbang, mengindikasikan adanya ruang bagi diskursus kritis dan penolakan. Instagram dan TikTok dengan dominasi netral, mungkin mencerminkan karakteristik konten yang lebih visual dan cepat," pungkas Neni.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya