Berita

Mantan Presiden Soeharto. (Foto: Istimewa)

Politik

Menutupi Dosa Sejarah dengan Narasi Jasa Seperti Bius Amnesia

SENIN, 10 NOVEMBER 2025 | 10:42 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sejumlah aktivis dan tokoh publik lintas latar belakang menyuarakan keprihatinan dan penolakan terhadap keputusan pemerintah yang menganugerahi Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional.

Melalui pernyataan bersama yang dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, mereka menilai keputusan itu berpotensi menodai integritas moral bangsa dan melukai keadilan sejarah.

Dalam dokumen yang ditandatangani antara lain oleh Andi Arief, Rachland Nashidik, Rocky Gerung, Bivitri Susanti,  Syahganda Nainggolan, Denny Indrayana, dan sejumlah tokoh lain, disebutkan bahwa pengakuan terhadap jasa seseorang tak boleh dijadikan dalih untuk menutupi kesalahan masa lalu.


“Kami tak menolak mengakui jasa siapa pun terhadap Republik ini , termasuk Soeharto. Tetapi kepahlawanan adalah hal yang jauh lebih besar dan penting dari sekadar menghargai jasa seseorang,” demikian pernyataan bersama yang diunggah Andi Arief lewat akun X miliknya, Senin, 10 November 2025.

Para aktivis menegaskan, gelar pahlawan tidak semestinya dijadikan alat untuk menormalisasi kekuasaan yang sarat pelanggaran. Mereka menyebut, menutupi kejahatan sejarah dengan narasi jasa sama saja dengan menyuntikkan bius amnesia sejarah ke tubuh bangsa.

“Kepahlawanan adalah mekanisme moral kolektif: Cara suatu bangsa untuk mendidik anak-anaknya membedakan benar dari salah dalam sejarah. Memilih mana yang patut dihormati dan mana yang harus menjadi pelajaran,” sambung pernyataan tersebut.

Lebih jauh, para aktivis juga menyinggung soal ketimpangan dalam rekonsiliasi sejarah. Jika rekonsiliasi dimaksudkan untuk menyembuhkan luka-luka bangsa, mereka mempertanyakan mengapa negara tidak memberi pengakuan serupa kepada para tokoh kiri Indonesia yang berperan dalam perjuangan anti-kolonialisme namun dihapus dari catatan sejarah resmi karena perbedaan ideologi.

"Apakah bangsa ini telah kehilangan keberanian untuk mengakui sejarahnya sendiri? Apakah nilai-nilai yang hendak diajarkan kepada anak anak dan cucu kita dari sikap inkonsisten dan mau menang sendiri tersebut? Bahwa kekuasaan boleh berbuat apa saja sepanjang mendatangkan kemakmuran? Bahwa kepatuhan pada negara lebih penting daripada kemanusiaan dan solidaritas sosial? Bahwa kebebasan adalah ancaman konstan pada pembangunan ekonomi?“ tanya para aktivis.

Pernyataan bersama itu ditutup dengan penegasan bahwa bangsa yang menutupi masa lalunya bukan sedang membangun masa depan, melainkan memperpanjang bayang-bayang sejarah yang belum selesai.

“Terhadap kemungkinan itu, kami menyatakan tidak setuju,” demikian para aktivis.



Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya