Berita

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. (Foto: Dok PDIP)

Politik

Serangan ke Megawati Ulah Buzzer Receh Bukan Orkestrasi Penguasa

KAMIS, 06 NOVEMBER 2025 | 13:13 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Isu soal serangan buzzer terhadap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri ramai diperbincangkan setelah politisi PDIP, Guntur Romli, menyebut ada “beking kekuasaan” di baliknya. 

Hal ini pun menarik perhatiann pendiri firma analitik Big Data Evello, Dudy Rudianto. Menurut Dudy, terlalu dini menyimpulkan adanya orkestrasi dari penguasa hanya karena pola serangan terlihat seragam. 

“Justru buzzer seperti ini bisa dikatakan buzzer receh,” ujarnya lewat keterangan tertulis, Kamis, 6 November 2025.
     

     
Ia mencontohkan, pada periode 13 Februari-21 April 2022, saat publik ramai soal kelangkaan minyak goreng, PDIP justru berada dalam lingkar kekuasaan. 

“Saat itu Ibu Mega juga jadi sasaran sentimen publik, tetapi mengapa kekuasaan tidak bisa membantu memberikan opini publik? Ini menunjukkan interaksi besar tidak selalu ada tangan kekuasaan di dalamnya,” kata Dudy.

Data Evello mencatat, isu kelangkaan minyak goreng kala itu mencapai 50 juta tayangan di Instagram, 38 juta di YouTube, dan 204 juta di TikTok—semuanya tak mampu dibendung oleh kekuasaan.

Dudy juga menyinggung fenomena viralnya tagar #SaveRajaAmpat dan #PapuaBukanTanahKosong di era pemerintahan Prabowo–Gibran. 

“Gerakan #PapuaBukanTanahKosong di TikTok mencapai 206 juta tayangan dari hampir delapan ribu video, sementara #SaveRajaAmpat diunggah lebih dari 70 ribu kali dengan tayangan 1,6 miliar. Tapi kekuasaan juga tidak kuasa melawan opini publik,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika benar kekuasaan mampu mengorkestrasi buzzer, seharusnya isu soal ijazah Jokowi yang terus bergulir sejak lama bisa dibendung. 

Karena itu, Dudy menilai serangan terhadap Megawati bukanlah operasi besar yang digerakkan oleh penguasa, melainkan kerja buzzer kecil berbayaran rendah. 

“Sangat jauh untuk menyimpulkan ini orkestrasi penguasa,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya