Berita

Enik Susilowati, siswi Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 2 Banyuwangi. (Foto: Kemensos)

Nusantara

Sekolah Rakyat, Ruang Toleransi Beragama yang Menguatkan Mimpi Enik

SABTU, 01 NOVEMBER 2025 | 01:03 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Udara dingin yang turun dari lereng Ijen menyelimuti Sekolah Rakyat Terpadu  (SRT) 2 Banyuwangi. Bangunan yang dulunya Balai Diklat PNS kini beralih fungsi menjadi sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. 

Berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota, suasana sekolah terasa tenang dan asri, jauh dari hiruk pikuk jalanan. Dari kejauhan, suara anak-anak belajar bercampur dengan gemerisik dedaunan yang tertiup angin gunung.

Di sebuah kelas sederhana, empat murid duduk setengah melingkar. Mereka serius memperhatikan penjelasan Sarjono, guru yang setiap Jumat datang mengajar bimbingan agama Hindu. 


Di antara mereka ada Enik Susilowati (17), gadis asal Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore yang duduk rapi dengan seragam pramuka, Enik tampak tekun mendengar. Ia adalah satu dari sedikit siswa Hindu di sekolah yang mayoritas muridnya beragama Islam.

Enik adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Orang tuanya berpisah saat ia masih duduk di bangku SD. Hal itu membuatnya harus ikut sang ibu, Laminem, dan hidup menumpang di rumah nenek. Sang ibu bekerja serabutan sebagai buruh tani dan kadang mencari sayur pakis di hutan untuk menghidupi keluarga kecilnya. 

Sekolah Rakyat menjadi titik balik hidupnya. Dengan dukungan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di desanya, ia bersedia didaftarkan meski awalnya diliputi rasa ragu. 

“Kalau tidak ada sekolah ini, kemungkinan besar (saya) tidak bakalan lanjut sekolah, karena bantu ibu kerja dan tidak punya biaya buat nerusin sekolah,” kata Enik dikutip Sabtu 1 November 2025. Ia mengaku semua kakaknya hanya bisa melanjutkan sekolah sampai jenjang SMP. 

Kehidupan di asrama membawa kebiasaan baru. Tidur bersama teman-teman membuatnya merasa lebih tenang. “Kalau di rumah tidur sendirian, kasurnya juga keras. Di sini ada teman, kasurnya empuk,” ujarnya tersenyum. 

Pola makannya pun berubah. Dari sebelumnya tak teratur, kini ia selalu makan tiga kali sehari ditambah camilan. “Tadi siang ada capcay, tempe, ikan, dapat snack juga. Enak sekali,” tambahnya dengan mata berbinar.

Yang paling berharga baginya adalah suasana toleransi yang hangat. Meski berbeda keyakinan, ia tidak pernah merasa dibeda-bedakan. 

Sehari-hari, ia juga tetap bisa menjalankan sembahyang tiga kali pada pagi, siang dan sore dengan nyaman, kadang di kelas, kadang di asrama. Teman-temannya bahkan sering mengingatkan dengan canda hangat, “Kamu sudah sembahyang belum?”

Hidup sederhana tak membuat cita-citanya mengecil. Enik bermimpi bisa kuliah di Universitas Brawijaya Malang untuk menjadi desainer. Harapannya bisa membahagiakan orang tua, mengangkat derajat ibu, supaya tidak jadi buruh tani. Sebelum mengakhiri ceritanya, ia berbisik lirih, penuh rasa syukur.

“Terima kasih Pak Prabowo, berkat program Sekolah Rakyat ini saya bisa sekolah lagi. Kalau tidak ada, mungkin saya sudah ikut ibu jadi buruh tani,” kata Enik.

Guru Bimbingan Konseling, Zulfi Wardha Azizah, melihat Enik sebagai pribadi istimewa. Meski pemalu, ia mudah bersosialisasi dan peduli pada sekitarnya serta pandai mengontrol emosi. Jika berbuat salah, ia tak segan mengakui. 

“Saya salah, mohon maaf ya, Bu,” begitu ucapnya setiap kali khilaf. Di asrama, ia dikenal rajin dan bertanggung jawab. Bahkan, meski berbeda keyakinan, ia kerap membangunkan teman muslimnya untuk salat Subuh. Sikap sederhana itu membuatnya disayangi banyak teman dan guru.

Semua itu berjalan sesuai arahan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang menekankan pentingnya sekolah yang aman dari kekerasan, perundungan, dan intoleransi.

“Di SRT 2 Banyuwangi ini ada siswa kami yang beragama Islam dan Hindu, semua saling berdampingan secara damai,” kata Kepala SRT 2 Banyuwangi, Chitra Arti Maharani. 

SRT 2 Banyuwangi berdiri di atas lahan seluas 36.300 meter persegi, dengan fasilitas empat asrama, 28 ruang tidur, lima ruang kelas, dua laboratorium, perpustakaan, musala, dan ruang makan. Saat ini ada 124 siswa, terdiri dari 66 laki-laki dan 58 perempuan, dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Mereka didampingi 22 guru, 16 wali asuh dan asrama, serta 12 tenaga pendidik.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya