Berita

Pekerja di SPPG Bojong Koneng, Bogor menyiapkan MBG. (Foto: RMOL/Alifia Ramandhita)

Kesehatan

Ahli Gizi Ungkap Tantangan di Balik Program MBG

JUMAT, 31 OKTOBER 2025 | 15:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Masalah gizi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Banyak anak yang tumbuh dengan gizi kurang, anemia, atau bahkan obesitas. Kondisi ini disebut sebagai triple burden of malnutrition dan dapat memengaruhi kualitas hidup, kecerdasan, hingga produktivitas mereka di masa depan.

Program Makanan Bergizi (MBG) diluncurkan untuk menjawab tantangan ini. Tujuannya sederhana tapi penting, yaitu memastikan anak-anak, terutama dari keluarga berpenghasilan rendah, mendapatkan akses makanan sehat setiap hari di sekolah.

Mochammad Rizal, ahli gizi yang kini menempuh studi doktoral di Cornell University, menyebut program MBG bukan sekadar urusan makan siang gratis. 


“MBG adalah investasi jangka panjang untuk Indonesia Emas 2045,” ujarnya dalam pernyataannya di Jakarta, dikutip redaksi pada Jumat 31 Oktober 2025. Ia menyebut, anak-anak yang tumbuh sehat dan cukup gizi hari ini, kelak akan menjadi generasi produktif yang membawa negara ini maju. 

Jika dijalankan dengan baik, MBG tak hanya memperbaiki status gizi dan kesehatan anak, tapi juga membuat mereka lebih semangat belajar. Selain itu, rantai pasok lokal, seperti petani, nelayan, dan penyedia katering daerah, bisa ikut merasakan dampaknya secara ekonomi.

Namun, penerapan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Anak-anak kini terbiasa dengan makanan olahan seperti nugget, sosis, atau jajanan tinggi gula dan garam. Ketika disajikan menu bergizi, sering kali makanan itu tak habis dimakan. Rizal menyebut, dibutuhkan strategi bertahap agar selera makan anak bisa perlahan diarahkan ke makanan sehat tanpa membuat mereka kehilangan selera.

“Menu MBG yang ideal justru berisiko tinggi tidak dihabiskan (food waste). Sebaliknya, memberikan menu berbasis UPF seperti nugget ataupun sosis, agar makanan habis, justru mengalihkan tujuan utama pemenuhan gizi dari program ini. Perlu strategi bertahap untuk mengubah perilaku makan siswa saat ini,” ujar Rizal.

Di sekolah, evaluasi dilakukan secara berkala. Guru dan tim pelaksana mencatat berapa banyak makanan yang dihabiskan, memantau keamanan pangan, serta mengukur berat dan tinggi badan siswa setiap enam bulan. Data ini menjadi bahan penting untuk melihat apakah program benar-benar membawa perubahan.

Peran ahli gizi juga krusial dalam memastikan kualitas dan keamanan makanan. Namun, jumlah mereka masih terbatas. Dalam praktiknya, satu ahli gizi bisa mengawasi ribuan porsi makanan setiap hari, beban yang cukup berat. Kini, ada aturan baru yang membatasi produksi maksimal agar pengawasan lebih aman dan efektif. 

Rizal menekankan pentingnya edukasi gizi kepada anak dan keluarga. Program ini tak cukup hanya memberi makan, tapi juga membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. 

“MBG masih program baru. Masih banyak yang harus dibenahi, tapi potensinya besar kalau dijalankan bersama dan diawasi dengan baik,” katanya.

Dengan dukungan yang tepat, Program Makanan Bergizi bukan hanya soal menyediakan makanan, tetapi tentang membangun masa depan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya