Berita

Ahmad Khozinudin dan Said Didu. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Nusantara

Kuasa Hukum ASG: Tuduhan Said Didu tak Berdasar dan Bermotif Pribadi

SENIN, 27 OKTOBER 2025 | 21:56 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Publik kini disuguhi narasi menyesatkan dari Said Didu dan Ahmad Khozinudin terkait pembatalan Proyek Strategis Nasional (PSN) Tropical Coastland, yang seolah-olah dikaitkan dengan Proyek PIK 2. Tuduhan keduanya dinilai tidak berdasar dan bermotif pribadi.

Paman Nurlette, Kuasa Hukum Nono Sampono, Presdir Agung Sedayu Group menyebut, apa yang disampaikan Said Didu dan Ahmad Khozinudin lebih banyak berisi provokasi dibanding data. 

“Narasi mereka cenderung bersifat fitnah dan manipulatif. Tidak ada dasar hukum maupun fakta yang menunjukkan pembatalan PSN Tropical Coastland berdampak pada PIK 2,” ujar Paman Nurlette di Jakarta, Senin, 27 Oktober 2025.


Dia menegaskan, Proyek PIK 2 dan PSN Tropical Coastland adalah dua proyek berbeda dan kawasan yang terpisah. Kesalahpahaman muncul karena letak geografis keduanya berdekatan, sehingga sering disalahartikan publik seolah-olah merupakan satu kesatuan proyek.

“PIK 2 adalah proyek swasta yang sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, sementara PSN Tropical Coastland adalah proyek pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berorientasi pada pemulihan lingkungan dan pengembangan ekonomi kreatif,” jelasnya.

PSN Tropical Coastland sebelumnya masuk dalam daftar proyek strategis melalui Peraturan Menko Perekonomian No. 12 Tahun 2024 (Lampiran I huruf M Nomor 226). Namun setelah Mahkamah Agung mengeluarkan Putusan Uji Materiil Nomor 12/P/HUM/2025, pemerintah menindaklanjutinya dengan Permenko Perekonomian No. 16 Tahun 2025 tertanggal 24 September 2025, yang secara resmi menghapus proyek Tropical Coastland dari daftar PSN.

“Keputusan itu hanya berlaku untuk proyek pemerintah Tropical Coastland, bukan untuk proyek swasta seperti PIK 2,” tegas Paman Nurlette.

Ia menambahkan, seluruh proses pembebasan lahan untuk PIK 2 telah melalui mekanisme hukum yang sah dan transparan. “Tidak ada unsur perampasan tanah, intimidasi, atau kriminalisasi sebagaimana dituduhkan oleh Said Didu. Semua tuduhan itu telah berkali-kali terbukti tidak benar di pengadilan,” katanya.

Motif Pribadi dan Politisasi Isu

Lebih lanjut, Paman Nurlette menilai, motif di balik serangan terhadap PIK 2 bukanlah semata soal kepentingan publik, melainkan ada nuansa pribadi dan politis. 

Dia menyebut, Said Didu, mantan pejabat BUMN, pernah menawarkan sebidang tanah sekitar 10 hektare di wilayah Kabupaten Tangerang dengan harga fantastis hingga ratusan miliar rupiah kepada pihak PIK 2, namun ditolak karena tidak sesuai dengan ketentuan pasar dan legalitas.

Sementara Ahmad Khozinudin, yang dikenal sebagai kuasa hukum, kerap menyebar fitnah setelah klien-kliennya kalah di pengadilan.

“Ketika motif ekonomi dan hukum pribadi gagal, mereka kini menggunakan media sosial untuk menggiring opini publik. Ini bentuk frustrasi,” ujar Paman Nurlette.

Paman Nurlette mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang belum terverifikasi.

“Isu PIK 2 kerap dipolitisasi oleh pihak-pihak yang punya kepentingan tertentu. Padahal, proyek ini justru telah memberi dampak positif bagi ekonomi daerah dan penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

Menurut dia, upaya menyebar fitnah terhadap proyek yang telah berjalan sesuai hukum justru dapat menimbulkan ketidakpastian investasi dan merusak iklim usaha di tanah air.


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya