Berita

Cover buku 'Republik Yang Menunggu'. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Resensi

Menemukan Pancasila sebagai Fondasi Ekonomi

KAMIS, 23 OKTOBER 2025 | 03:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Peresensi: Ryo Disastro (Pimred Banrehi) 

 Judul Buku: Republik Yang Menunggu 
 Terbitan: Kalam Nusantara Jakarta
 ISBN: 978-979-18-722-1-8
 Tahun: 2009

 Tahun: 2009
 Jumlah hlm: 339+iv
 Penulis: Yudhie Haryono, Ph.D
 Editor: Andi Sukmono Kumba
 Ukuran: 14,8 x 21 cm.

Buku Republik yang Menunggu karya Prof. Yudhie Haryono bukan sekadar menelusuri halaman demi halaman tentang ekonomi. Ia seperti memasuki ruang besar bernama “Indonesia”, tempat di mana cita-cita, kegelisahan, dan kemarahan terhadap ketimpangan berpadu menjadi energi untuk berpikir ulang tentang siapa kita sebagai bangsa.

Saya menulis resensi ini bukan semata karena kekaguman saya pada karya beliau, tetapi juga karena saya merasa punya tanggung jawab moral untuk memperkenalkan sosok Yudhie Haryono, seorang ekonom Pancasila yang selama lebih dari dua dekade menulis, mengajar, dan berjuang menghidupkan kembali ide besar ekonomi yang berakar pada jati diri bangsa sendiri: ekonomi Pancasila.

Sebagai seseorang yang banyak belajar dari Prof. Yudhie, saya merasa terhormat untuk menulis sekelumit tentang buku ini. Republik yang Menunggu bukan buku biasa. Ia adalah mahakarya?"magnum opus yang merangkum seluruh perjalanan intelektual seorang pemikir yang hidup sepenuhnya untuk mencari jawaban: bagaimana menjadikan Indonesia berdiri di atas kakinya sendiri secara ekonomi dan moral.

Membaca buku ini, jujur, tidak mudah. Saya bukan berlatar belakang ekonomi, dan banyak istilah yang terasa berat di awal. Tapi justru di situlah letak keindahan buku ini. Ia mengundang intrik, memaksa kita untuk tidak sekadar membaca, tetapi berpikir. Setiap bab seperti menguliti satu per satu luka lama negeri ini: dari eksploitasi sumber daya, ketimpangan sosial, hingga kegagalan negara memahami hakikat kesejahteraan rakyatnya.

Yudhie tidak menulis dengan gaya akademis kaku. Ia menulis dengan semangat seorang pejuang. Kalimat-kalimatnya berapi, tapi penuh logika. Ia mengutip data, teori, dan sejarah bukan untuk pamer pengetahuan, melainkan untuk menggugah kesadaran kita. Ia ingin kita berhenti menjadi penonton dari “drama panjang” bangsa ini -- drama yang selama puluhan tahun memperlihatkan rakyat sebagai korban sistem ekonomi yang tak pernah berpihak.

Dalam buku ini, kita diajak memahami bahwa ekonomi bukan sekadar angka-angka pertumbuhan atau stabilitas makro. Ekonomi bagi Yudhie adalah soal moralitas, soal kemanusiaan, soal keadilan. Pancasila, dalam pandangannya, bukan jargon politik, tetapi fondasi ekonomi yang paling masuk akal bagi negeri dengan keragaman dan kekayaan seperti Indonesia.

Ia menyebut ekonomi Pancasila sebagai jalan tengah, bukan kapitalisme yang rakus, bukan sosialisme yang represif, melainkan sistem yang berakar dari gotong royong, dari kebersamaan, dari semangat menolak penindasan dalam bentuk apa pun. Di sinilah letak kekuatan Republik yang Menunggu: ia menegaskan bahwa Pancasila bukan masa lalu, melainkan masa depan yang belum kita perjuangkan secara sungguh-sungguh.

Yang paling saya kagumi dari Prof. Yudhie adalah kemampuannya memetakan masalah ekonomi Indonesia dengan sangat tajam. Ia menunjukkan bagaimana oligarki ekonomi tumbuh dari rahim politik, bagaimana ketimpangan bukan sekadar akibat kebijakan yang salah, melainkan cerminan sistem nilai yang sudah bengkok. Ia juga menawarkan arah perubahan, bukan utopia kosong, tapi strategi berbasis ideologi dan moral bangsa.

Saya sering merasa bahwa buku ini seharusnya dibaca oleh siapa pun yang peduli pada masa depan Indonesia, bukan hanya ekonom, tapi juga aktivis, mahasiswa, politisi, bahkan pengusaha. Karena di dalamnya, kita akan menemukan peta jalan menuju republik yang sesungguhnya: republik yang menyejahterakan, bukan mengeksploitasi.

Namun, saya juga merasa bahwa gagasan-gagasan Yudhie Haryono tidak boleh berhenti di antara lembar-lembar buku ini. Ia harus menjelma menjadi virus intelektual yang menjangkiti anak muda Indonesia, mereka yang haus makna, mereka yang masih percaya bahwa bangsa ini bisa berubah.

Buku ini harus menjadi semacam Di Bawah Bendera Revolusi bagi generasi baru, atau Madilog versi ekonomi untuk mereka yang ingin melawan kebodohan struktural. Karena, seperti dua tokoh besar itu, Yudhie menulis bukan untuk dikenang, tetapi untuk menggugah.

Dan saya percaya, Republik yang Menunggu adalah panggilan--bukan hanya untuk berpikir, tetapi juga bertindak. Republik itu memang masih menunggu. Tapi ia menunggu kita: generasi yang berani berpikir berbeda, berani menolak ketimpangan, dan berani menegakkan kembali nilai-nilai Pancasila di tengah dunia yang semakin kehilangan arah.

Buku ini bukan bacaan ringan, tapi ia sangat layak dibaca. Ia tidak menjanjikan hiburan, tapi memberikan kesadaran. Dan di zaman ketika kebodohan sering tampil lebih percaya diri daripada kebenaran, membaca Yudhie Haryono adalah bentuk perlawanan kecil yang sangat berarti.

Karena pada akhirnya, republik ini akan tetap menunggu--sampai kita siap menjemputnya.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya