Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Instagram)

Publika

Tahun Pertama Prabowo dan Kebangkitan Kedaulatan

JUMAT, 17 OKTOBER 2025 | 19:17 WIB

NEGARA kita ini memang suka menahan napas. Terlalu sering. Lama-lama ya pingsan juga.

Tapi, kalau Presiden Prabowo Subianto yang baru menjabat setahun ini memimpin, ada yang berubah total. Bukan hanya ganti baju di Istana, bukan sekadar ganti jargon. Inilah soal Grammar Kekuasaan. Cara negara kita bicara tentang dirinya sendiri. Itu yang tampak berubah.

Dulu, negara kita itu kayak gadis piatu. Gagap gugup kalau ketemu tuan-tuan besar pemilik modal. Selalu main negosiasi. Keadilan ditukar stabilitas. Kepatuhan ditukar konsesi. Namanya bukan mengelola negara, itu namanya berdagang.


Sekarang?

Tata bahasanya sudah diinstal ulang. Negara tidak lagi berbisik. Negara sekarang bertindak.
 
Bukan Angka, Itu Cuma Gejala
 
Kita ini selalu bangga kalau dengar aset triliunan disita. Wah, hebat! Padahal, angka-angka itu cuma gejala. Kayak demam tinggi. Bukan diagnosis penyakitnya.

Penyakitnya apa? Struktur kekuasaan yang bisa diatur, yang bisa dibeli! itu dia.
Puluhan tahun ini, oligarki besar kepala karena negara kita hilang suara. Kehilangan kata “TIDAK.”
Selama bertahun-tahun, kalimat seperti itu adalah tata bahasa kekuasaan kita. Kalimat yang membuat kejahatan terdengar seperti kebiasaan, dan keserakahan terdengar profesional.??Logika itu sekarang dibalik. Prabowo dan pemerintahnya seperti bilang: Kedaulatan ini bukan lagi menu di meja makan malam Anda.

Efeknya langsung terasa di mana-mana. Di pelabuhan, di ladang sawit, di ruang sidang pidana. Pemain besar yang selama ini tidur nyenyak di balik backingan partai, media, atau jubah hukum, tiba-tiba jet lag. Mereka bingung mau menyogok siapa. Mau bicara dengan siapa.

Singkatnya: Negara ini tidak bisa ditelepon tengah malam lagi.
 
Sinergi Baru, Bukan Sekadar Rapat
 
Saya hafal sekali. Istilah "sinergi antarlembaga" itu artinya: Rapat berkepanjangan, kadang hasil kerja nol koma. Kali ini beda. Kejaksaan, Polri, TNI, kementerian teknis mereka akhirnya bergerak seperti satu irama. Ini bukan sinergi administrasi yang cuma tanda tangan di kertas. Ini sinergi operasional.

Satu perintah di pusat, satu tindakan di lapangan. Beres. Kenapa bisa? Ego sektoral yang selama ini jadi tembok tebal, dipatahkan tanpa perlu gincu tebal untuk memberi bedak citra berlebihan. Semua tahu, ada Komando Sentral yang harus dipatuhi.

Kebijakan nasional jadi orkestra, bukan lagi group band yang rebutan mikrofon. Memang, ada kelemahan mendasarnya masih sama: Berbasis Figur.

Kalau figurnya hilang, daya dorongnya bisa lenyap. PR besarnya adalah: bagaimana mengubah kekuatan figur ini menjadi Sistem Tahan Banting yang tetap jalan walau komandan berganti.
 
Perang Ekonomi Bukan Cuma Penegakan Hukum
 
Prabowo tampaknya mengerti. Predator ekonomi itu bukan maling motor. Mereka itu Perusahaan Kejahatan yang punya modal dan punya waktu dan segalanya. Melawan perusahaan, jangan pakai pidato hukum saja. Harus pakai Strategi Perang Ekonomi!

Ada tiga serangan yang dilakukan:
  1. Amputasi Finansial: Korporasi hitam itu jangan cuma dipenjara orangnya. Pisahkan mereka dari uangnya! Miskinkan sejak awal penyidikan.
  2. Percepatan Hukum: Waktu adalah senjata predator itu. Negara jangan kasih mereka waktu untuk lobi-lobi atau suap-suap. Tangkap!
  3. Transparansi Izin: Buka data perizinan ke publik. Biar ekosistem gelap tidak punya tempat sembunyi.
Ini bukan populisme, ini geopolitik ekonomi. Negara sedang merebut kembali apa yang memang miliknya. Dulu, kita sibuk nangkap tikus satu per satu. sulit dan berbelit. Rezim sekarang memilih cara lain: Bakar habis LUMBUNG-nya. Tutup akses AIR-nya. Biar tikus-tikus itu keluar sendiri.

Ini keras, tapi ini juga mencerminkan kebutuhan zaman. Negara kita ternyata sedang bereaksi terhadap tekanan global, korupsi, dan kehilangan kendali atas sumber daya.

Dalam setahun ini, ada pergeseran paradigma. Dari Hukum Reaktif menjadi Strategi Ofensif. Dari menghukum Individu menjadi memenangkan Sistem.

Prabowo sedang menulis ulang grammar kekuasaan Indonesia. Kata yang diucapkan sekarang sudah lain. Pesannya menusuk: Kebocoran harta negara ini tidak bisa lagi dinegosiasikan. No Mercy! Kibas dan libas para perampok negeri!

Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Akademisi Universitas Udayana

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya