Berita

Ilustrasi. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Sebelas Frasa Cahaya Tauhid

SENIN, 13 OKTOBER 2025 | 00:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SUDAH lama saya membaca kalimat itu setiap pagi, sebagaimana ribuan orang lainnya, lafaz yang akrab di bibir. Di tengah rutinitas shubuh yang setengah mengantuk, lidah ini mengulang:

“Tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik seluruh kerajaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Mahahidup; tidak mati. Di tangan-Nya tergenggam segala kebaikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu dan kepada-Nya semua kembali.”

Menariknya, kalimat ini ditinggikan maknanya oleh para sufi dan ulama, sebab ia ditegaskan langsung oleh Rasulullah  dalam banyak riwayat. Ia disebut dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari dan juga dari Muadz bin Jabal, sebagaimana tercantum dalam Musnad Ahmad, Sunan an-Nasa’i, dan Sahih Ibn Hibban.


Nabi menjanjikan pahala besar bagi siapa yang membacanya sepuluh kali (hadis lain menyebut “seratus kali”) setiap pagi atau setelah magrib: dicatat sepuluh kebaikan, dihapus sepuluh kesalahan, diangkat sepuluh derajat, seolah membebaskan empat orang budak, dan dijaga dari setan hingga waktu berikutnya.

Kalimat itu sudah akrab, kita sering membacanya tiap pagi sebagai zikir subuh. Tetapi di Hayrat Vakfi, di sebuah meja kayu yang penuh goresan, saya mendengar sesuatu yang membuat lafaz yang sama terdengar baru.

Menurut Syeikh Badiuzzaman Said Nursi dalam karyanya al-Maktubat, kalimat ringkas itu merupakan rangkaian sebelas frasa. Setiap frasa seperti lilin kecil yang bila dinyalakan meruntuhkan gelap di satu titik jiwa.

Kawan saya dari Hayrat, Ustaz Cemal Sahin, menutup naskah lama itu dan berkata, “Kalau kau pikir itu hanya lafaz, berarti kau belum membaca peta yang ada di dalamnya.” Di Üsküdar, Istanbul, di kamar kecil di lantai tiga asrama Hayrat Vakfi, saya membaca peta itu.

Dalam perjalanan pulang ke kamar penginapan saya memegang secarik kertas kecil berisi pembagian frasa menurut Nursi. Saya ulangi pelan, bukan untuk menghafal, melainkan untuk mengizinkan makna menelusup pelan ke dalam urat nadi.

Saya akan menuturkannya di sini satu per satu. Tapi jangan bayangkan penuturan saya seperti daftar kering. Biarkan tiap frasa mengalir seperti cerita pendek yang menyulut ingatan, mungkin mempermudah pemahaman ketimbang membaca langsung dari al-Maktubat yang agak rumit.

Pertama, di ayat itu ada pengakuan mutlak yaitu La ilaha illallah. Di sini dimulai semua pembebasan. Ketika mulut mengucapnya, ia memecah semua berhala yang kita bangun sendiri: bukan lagi sekadar batu atau patung, tapi berhala bergaya modern -status, akun, prestise- yang meracuni kesederhanaan.

Nursi menaruh awal tauhid di situ bahwa pengakuan bahwa doa, pengharapan, dan penghambaan hanya layak ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika kita membaca ini cepat-cepat sambil membayangkan gaji yang belum datang, berarti kita membaca setengah hati; bedanya cuma seutas niat.

Kedua, lafaz wahdahu -- “Dia sendirilah” -- memampatkan keesaan menjadi kenyataan yang meresap bahwa tidak ada sekutu dalam hakikat dan tindakan-Nya. Bila kau masih mencari sekutu dalam keputusan hidupmu  -- mentor, koneksi, “insta-guru” -- maka frasa ini menampar pelan bahwa otoritas terakhir bukan manusia, melainkan Zat yang sendirilah yang menentukan arus. Di sana letak kebebasan: bila kau menemukan-Nya sebagai sandaran, segala takut akan manusia mereda.

Ketiga, La syarikalah membawa kelegaan yang lain yang bukan sekadar menolak sekutu filosofis, tapi menafsirkan bahwa Rububiyyah-Nya adalah tanpa perantara. Dalam dunia di mana birokrasi memanjang dan “perantara” menikmati komisnya, frasa ini memerdekakan jiwa: tidak ada kemacetan antara hajat dan Tuhan, kecuali kita membuatnya sendiri lewat ragu dan takabur.

Keempat, ketika datang kalimat lahu al-mulk, tiba keinsafan pemilikan total bahwa “kerajaan” ini bukan milik kita. Lucunya, kita berlagak sebagai direktur utama hidup sendiri -- menandatangani semua keputusan seolah semua aset milik pribadi -- padahal kita hanyalah pekerja harian yang diberi tugas untuk sementara.

Said Nursi mengajak kita melihat dunia bukan sebagai gudang kepemilikan, melainkan sebagai amanah bahwa kerja yang membuat kita berzikir kalau paham posisinya.

Kelima, wa lahu alhamd menyalakan nada syukur bahwa segala puji semata untuk-Nya. Ini bukan sekadar lafaz ritual; ia adalah kacamata untuk melihat rahmat yang terselip di balik kegagalan, dan memberi rasa bahwa bahkan kehilangan terkadang adalah pintu kepada nikmat lain.

Saya sering melihat jamaah yang mengucap “Alhamdulillah” dengan nada klausa, “Alhamdulillah, tapi…”. Said Nursi menggeser ucapan hamdalah itu menjadi pujian yang murni, tanpa syarat, sebuah tindakan estetika hati.

Keenam dan ketujuh, pembacaan beralih ke kuasa penciptaan yaitu Ya hayyu ya qayyum. Di sini hidup dan mati tidak lagi menjadi musuh; keduanya adalah dua sisi pekerjaan Tuhan. Hidup yang diberi adalah amanah, mati yang datang adalah pembebasan tugas.

Dalam percakapan dengan salah seorang pembaca Rasail al-Nur, saya mendengar cara beliau menafsirkan kematian bukan sebagai tragedi final melainkan sebagai panggilan pulang yang wajar -- sebuah ironi lembut buat mereka yang memegangi hidup seperti tiket konser yang tak bisa dipulangkan.

Kedelapan, pernyataan Wahuwa hayyun laa yamuutuwa menyodorkan paradoks pemeliharaan bahwa Tuhan itu hidup hakiki; kita hanya menerima kilasan kehidupan dari-Nya.

Di tengah manusia yang berlenggang dengan teknologi yang mencoba “membuat hidup abadi” lewat data dan memori, Said Nursi mengingatkan bahwa keabadian yang sejati bukan di server atau memori flash, melainkan di Zat yang tidak pernah mengalami kehilangan napas.

Kesembilan, bi yadihi al-khayr memberi keyakinan bahwa segala kebaikan berada di tangan-Nya. Pembacaan ini menaruh kembali arti upaya: bekerja bukan sia-sia; kebaikan yang tampak kecil akan menjadi besar bila Allah menghendaki.

Saya teringat seorang tukang teh di Istanbul yang berkata singkat, “Kamu bikin teh untuk orang, tapi keberkahan bukan di gelas, melainkan di tangan yang memberi.” Begitu juga amal kita: bentuknya kecil, hasilnya rahasia.

Kesepuluh, Wa huwa 'al? kulli shay'in qad?r adalah obat untuk kegelisahan modern bahwa tidak ada perkara yang berat bagi-Nya.

Saat manusia sombong ingin memprogram hujan, mengedit gen, atau mendesain nasib, frasa ini mengundang kita kembali kepada kerendahan: ada hal-hal yang hanya pantas ditanggung oleh Tuhan. Tugas kita adalah tawakal yang cerdas, bukan ambisi yang merusak.

Kesebelas, penutup yang menengahkan yaitu wa ilayhi al-ma??r -- kepada-Nya segalanya kembali. Ini bukan kalimat puitis semata melainkan jangkar eksistensial. Di ujung usaha dan lelah, di titik kebahagiaan dan duka, ada tujuan yang memberi bentuk artinya perjalanan.

Said Nursi menempatkan frasa ini sebagai penutup yang mengikat semua frasa sebelumnya menjadi satu alur yaitu pengenalan, penyerahan, kepemilikan, pujian, hidup, mati, kuasa, dan kembali.

Di meja kecil medrasa Hayrat, kawan saya menutup buku dan menatap laut yang memisah dua benua. “Kita sering membaca ini setiap pagi,” katanya, “tapi membaca pagi tidak sama dengan hidup pagi. Yang membedakan adalah: apakah kalimat itu mengubah cara kau berpakaian jiwa, mengubah cara kau memegang dompet dan mengucap selamat tinggal.” Saya tersenyum, menyeruput teh yang kini terasa seperti obat.

Perjalanan ke Turki beberapa tahun lalu bukan sekadar perjalanan geografis. Untuk saya, ia adalah perjalanan pulang: pulang pada makna yang tiap pagi berbisik di bibir kita tapi terlalu sibuk ditelan rutinitas.

Sekarang, ketika saya mengulang kalimat itu, saya sengaja memberi jeda antar frasa  -- segar seperti menyirami tanaman rohani yang selama ini terabaikan. Kadang harus pergi jauh untuk menyadari bahwa yang kita cari itu sudah lama ada di asbak doa kita sendiri.

Semoga pembacaan kecil ini, yang merangkum sebelas cahaya tauhid menurut Al-Maktubat, bukan hanya menambah informasi tetapi menjadi bahan renungan dan, bila dimatangkan di rumah ibadah, menjadi khotbah yang menenangkan.

Karena di balik retorika politik, di balik bising pasar digital, ada kalimat ringkas yang, bila dipahami, mampu membuat manusia kembali menjadi manusia yang tenang.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya