Berita

Ilustrasi. (Foto: Depositphotos)

Publika

Pilih Perusahaan Kapitalis atau Sosialis?

JUMAT, 10 OKTOBER 2025 | 03:59 WIB

SELAMA hampir 13 tahun menempuh pendidikan di fakultas ekonomi jurusan manajemen, saya menyadari bahwa seluruh ilmu manajemen perusahaan yang diajarkan ternyata hanya berasal dari satu model, yaitu perusahaan kapitalis. Semua modul, teori, dan studi kasusnya mengandaikan bahwa perusahaan hanya dapat dimiliki oleh investor, penanam modal, atau pemegang saham. Tujuannya tunggal: mengejar keuntungan.

Formula pembagian keuntungan juga sederhana. Semakin besar investasi, semakin besar laba yang diperoleh. Pengambilan keputusan pun mengikuti logika yang sama, dimana mereka yang memiliki saham terbanyak memegang kuasa penuh menentukan arah perusahaan. Dengan begitu, perusahaan kapitalis menjadi kerajaan modern, di mana kekuasaan ekonomi terkonsentrasi di tangan para pemilik modal.

Dalam sistem seperti ini, buruh tidak memiliki kendali apa pun. Mereka hanyalah mesin penggerak yang tak memiliki suara. Konsumen pun hanya diperlakukan sebagai objek strategi bisnis. Demi mempertahankan dominasi, perusahaan kapitalis terus memperkuat modal, memperluas pasar, dan menyingkirkan pesaing. Hukum rimba ekonomi berlaku tanpa kompromi dimana yang kuat menelan yang lemah.


Kita dapat melihat hasilnya di pasar.  Meskipun kompetisi dikatakan terbuka, pemenangnya selalu mengerucut. Di berbagai sektor, hanya tersisa dua atau tiga pemain besar yang menguasai pasar—duopoli dan monopoli menjadi wajah keseharian. Dalam bisnis transportasi daring, misalnya, tinggal ada Gojek dan Grab. Di industri motor, Honda dan Yamaha saling berbagi dominasi. Dalam produk pasta gigi, Pepsodent dan Ciptadent menguasai rak-rak toko. Mekanisme pasar yang disebut bebas pada akhirnya dikuasai segelintir pemodal besar.

Koperasi sebagai Alternatif 

Namun, perusahaan kapitalis bukan satu-satunya bentuk organisasi ekonomi. Ada model lain yang berseberangan dalam motif, tujuan, dan cara kerja, yaitu koperasi. Dalam koperasi, kepemilikan tidak ditentukan oleh besarnya modal yang disetor, melainkan oleh keanggotaan. Setiap anggota adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. Prinsip pengambilan keputusannya demokratis. Satu anggota, satu suara. Keuntungan pun dibagi berdasarkan besarnya partisipasi ekonomi anggota, bukan besar kecilnya saham semata. 

Koperasi menempatkan manusia di atas modal, solidaritas di atas persaingan, dan kesejahteraan bersama di atas laba individu. Oleh karena itu koperasi bisa disebut sebagai perusahaan sosialis dalam arti yang paling murni, yaitu usaha ekonomi yang dimiliki bersama untuk kemaslahatan bersama.

Koperasi sejatinya dapat berkembang di semua sektor ekonomi. Data World Cooperative Monitor 2023 yang diterbitkan oleh ICA dan Euricse menunjukkan bahwa koperasi telah tumbuh menjadi kekuatan besar dunia. Dari 300 koperasi terbesar dunia (Top 300 Global Cooperatives), terdapat koperasi di sektor keuangan, ritel, pertanian, energi, perumahan hingga kesehatan. 

Groupe Crédit Agricole dan Groupe BPCE dari Prancis adalah raksasa keuangan dunia yang berbentuk koperasi. REWE Group dari Jerman adalah koperasi ritel modern dengan ribuan gerai di Eropa. Zen-Noh dari Jepang menjadi pengendali rantai pasok pertanian global, sementara Fonterra di Selandia Baru menjadi pengolah susu terbesar dunia. Fakta ini menunjukkan bahwa koperasi bukanlah organisasi ekonomi pinggiran, tetapi model bisnis modern yang terbukti efisien dan tangguh.

Namun di Indonesia, koperasi belum tumbuh sebagai kekuatan utama ekonomi. Hambatannya bukan pada konsep, melainkan pada sistem dan cara pandang yang keliru terhadap koperasi itu sendiri. Ada tiga hal yang membuat koperasi sulit berkembang: paradigma yang sempit, regulasi yang kaku, dan kebijakan publik yang kontraproduktif.

Pertama, persoalan paradigma. Dunia pendidikan kita mengajarkan manajemen perusahaan hanya dengan perspektif kapitalistik. Di kampus-kampus ekonomi, nyaris tidak ada mata kuliah manajemen koperasi yang diajarkan dengan bobot seimbang seperti mana.

Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya