Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Publika

Sejahtera 0,7

RABU, 24 SEPTEMBER 2025 | 06:34 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KEMARIN di Senayan, gedung parlemen yang lebih mirip benteng ketimbang rumah rakyat karena pojok-pojoknya dijaga tentara, diketok palu: Undang-Undang APBN 2026 resmi disahkan. Anggaran, seperti biasa, defisit.

Yang mengejutkan bukan itu. Toh rakyat sudah kenyang dengan defisit yang diwariskan dari generasi ke generasi, seperti utang warisan keluarga yang tak pernah kita tanda tangani tapi harus kita bayar dengan pajak yang mencekik leher.

Yang bikin jidat berkerut adalah munculnya angka baru yakni Indeks Kesejahteraan Petani (IKP) dipatok sebesar 0,7. Nah, apa arti 0,7 ini? Apakah itu artinya petani kita hidupnya tinggal 70 persen layak, atau sisanya 30 persen hidup sambil pura-pura bahagia?


Kalau nilai rapor, angka 0,7 itu sama dengan 7 dari 10. Lumayanlah, tidak merah. Tapi kalau ini bicara nasib hidup 17 juta petani gurem, angka 0,7 lebih mirip rating warung kopi pinggir sawah di Google Maps, “Enak sih, tapi sering kehabisan gula.”

Mari kita coba masuk ke contoh konkret. Sebut saja Makmur, bukan nama asli, karena kalau asli rasanya menyinggung. Makmur ini petani jagung di Jawa Timur yang hidupnya justru jauh dari makmur. Tahun lalu, hujan terlambat datang, pupuk raib entah ke mana.

Belum lagi hama menyerang lebih ganas dari komentar netizen di medsos. Hasil panennya anjlok, sementara anaknya butuh uang SPP. Kalau ditanya soal IKP 0,7, Makmur mungkin hanya garuk-garuk kepala sambil bertanya, “Itu bisa buat beli beras, nggak?”

Di Riau, ada juga Sabar, petani sawit yang lahannya kecil, hanya dua hektar, kalah jauh dibanding raksasa sawit yang punya ribuan hektar. Hasil kebunnya dijual murah ke pengepul, sementara harga pupuk naik lebih cepat daripada isi dompetnya.

Kalau negara bilang IKP 0,7, Sabar mungkin menjawab lirih: “Kalau 0,7 itu skala Richter, sawah saya sudah ambruk.”

Padahal BPS sudah sejak 2023 bikin survei untuk mengukur kesejahteraan petani. Jadi sebenarnya pijakannya ada. Pihak BPS sadar bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) yang lama hanya hitung-hitungan harga jual dan harga beli.

NTP terbatas: tidak bicara soal kesehatan, pendidikan, apalagi soal kualitas hidup. Nah, IKP ini katanya multidimensi: lihat pendapatan, gizi, akses pendidikan, hingga risiko gagal panen. Terdengar keren, mirip laporan PBB.

Tapi masalahnya, angka 0,7 yang dipatok dalam APBN 2026 itu maksudnya apa? Dan nanti siapa yang benar-benar merasakan? Apakah itu hanya angka-angkaan untuk keren-kerenan bahwa kita sudah punya indeks yang menghitung kesejahteraan petani?

Sebab, mari kita jujur bahwa lebih dari 60 persen petani Indonesia itu gurem, seperti Makmur, yang lahannya rata-rata di bawah 0,5 hektare. Bandingkan dengan segelintir konglomerat agraria yang lahannya seluas drone memandang.

IKP 0,7 untuk petani kecil sama artinya dengan memberi harapan palsu. Itu kayak bilang, “Tenang, kamu sudah sejahtera versi statistik,” padahal di dapurnya cuma ada mi instan yang diirit untuk dua kali makan.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita memang perlu indeks semacam ini? Atau jangan-jangan indeks hanyalah cara elegan negara untuk menutup mata, sambil berkata, “Lihat, kami sudah mengukur kesejahteraan petani, angkanya jelas, 0,7!”

Padahal yang dibutuhkan petani bukan angka IKP, tapi akses lahan, pupuk murah dan mudah didapat, harga panen yang adil, bebas dari mafia tengkulak, serta tentu saja keberpihakan kebijakan yang nyata dari pemerintah.

Namun, jangan buru-buru sinis. Indeks ini boleh jadi tetap penting. Ia bisa jadi peta, bukan tujuan. Tanpa peta, kebijakan pertanian sering nyasar: mau membantu petani kecil, eh yang dapat malah perkebunan besar.

Dengan IKP, pemerintah bisa ditodong, “Hei, IKP masih 0,7, kapan jadi 1,0?” Artinya, indeks ini bisa jadi alat kontrol publik. Tapi, lagi-lagi, indeks tak bisa dimakan. Sama seperti Anda punya sertifikat vaksin, tapi masih harus bayar obat sendiri di apotek.

Akhirnya, kita kembali ke tragedi klasik yaitu petani yang memberi makan bangsa, justru paling sering lapar. Tragedi itu memang pahit, tapi dalam kepahitan itu kadang ada tawa getir. Kalau tidak sejahtera, setidaknya mereka merasa bahagia dengan tertawa-tawa.

Angka 0,7 bisa kita anggap sebagai nilai ujian negara dalam menyejahterakan petani. Nilai cukup, tapi nyaris remedial. Dan seperti anak sekolah yang nakal, negara kita sering bangga dengan angka pas-pasan itu.

Jadi, mari kita belajar tertawa di tengah ironi: ternyata kesejahteraan petani bisa dihitung, dibulatkan, bahkan diumumkan di gedung parlemen dengan segala wibawa. Bahwa, bangsa Indonesia baru saja, setelah 80 tahun merdeka, punya IKP.

Yang tak bisa dihitung adalah kesabaran dan kemakmuran para petani kecil yang tetap bangun jam lima pagi, mencangkul tanah, menanam benih, berharap pada langit, dan akhirnya berdoa agar hidupnya tidak sekadar jadi angka di tabel BPS.

Karena, bukankah hidup petani lebih berharga dari sekadar 0,7?

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya