Berita

Anggota Bawaslu RI, Puadi, saat menyampaikan pengantar dalam acara Peluncuran sekaligus Bedah Buku karya terbarunya berjudul "Dinamika Pengawasan Pemilu; Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan", di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Agustus 2025 (Foto: RMOL/Achmad Satryo)

Politik

Luncurkan Buku Dinamika Pengawasan Pemilu, Puadi Bongkar Kerja Substantif Bawaslu

SABTU, 30 AGUSTUS 2025 | 12:26 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia (Bawaslu RI), Puadi, meluncurkan buku karya terbarunya berjudul "Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan".

Peluncuran buku Puadi digelar di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Agustus 2025.

"Hari ini kita meluncurkan sekaligus membedah buku tentang Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Pemilu," ujar Puadi pada pembukaan acara. 


Dia memaparkan, dalam buku terbarunya tersebut diungkap satu hal substantif terkait kinerja Bawaslu di tengah penyelenggaraan pemilu.

"Pemilu adalah arena perebutan kekuasaan politik yang sarat kepentingan. Di sini hadir satu peran Bawaslu untuk menjadi penentu arah demokrasi," urainya.

Doktor Politik Universitas Nasional (UNAS) itu menyebutkan, Bawaslu tak hanya bertugas menemukan pelanggaran dan menyelesaikan sengketa proses pemilu, melainkan juga mengawal agar kompetisi politik berlangsung secara adil, transparan, dan berintegritas.

"Pengawasan pemilu tak berdiri di ruang hampa, tapi berada di interaksi antara aktor," katanya.

Dalam bukunya tersebut, Puadi juga mengemukakan posisi Bawaslu yang selalu berada di tengah interaksi kepentingan antar aktor. 

"Yakni KPU dengan kewenangan teknisnya, partai politik dengan orientasi menangnya, kandidat dengan modal politiknya, pemerintah dengan birokrasi dan ASN-nya, hingga masyarakat sipil dan media dengan agenda kontrol publik," bebernya.

"Semua berinteraksi dalam ruang yang sama. Bawaslu berada di persimpangan itu, menjadi wasit, menjadi pengawas, menjadi mediator," sambung Puadi.

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi Bawaslu RI itu menegaskan, terdapat contoh dari interaksi kepentingan yang terbentur seperti terkait pengawasan data pemilih. 

"Yang dimana Bawaslu sering terbentur oleh akses data dari KPU dan pemerintah. Dalam penindakan politik uang, Bawaslu menghadapi satu keterbatasan alat bukti, sekaligus minimnya komitmen penegak hukum," ungkapnya.

"Dalam pengawasan netralitas ASN, muncul resistensi birokrasi yang menolak intervensi eksternal.
Bahkan dalam pencalonan, tekanan politik terkait membuat keputusan Bawaslu diuji oleh pihak yang merasa dirugikan," tambah Puadi.

Sosok yang mengawali karir dari pengawas pemilu ini menyatakan, bukunya memperlihatkan kerja pengawasan adalah kerja di tengah usaha kepentingan, bukan sekadar penerapan pasal-pasal hukum tentunya.

Sehingga dari bukunya itu, Puadi mengatakan ada dua hal yang mesti diperhatikan yaitu tentang pengawasan dipahami bukan hanya sebagai fungsi normatif, tetapi sebagai kapasitas kelembagaan yang harus bernegosiasi, yang harus berkolaborasi, sekaligus berhadapan dengan kepentingan aktor. 

Yang kedua, lanjutnya, interaksi kepentingan bukan dilihat dari satu hambatan, tetapi sebagai realitas birokrasi yang menuntut Bawaslu untuk adaptif, independen, dan inovatif.

Dengan demikian, pengawasan yang efektif tidak cukup hanya pada sebuah apa yang disebut regulasi, melainkan perlu bagaimana membangun kolaborasi multi pihak dan memperkuat informasi publik.

"Hadirin yang saya hormati, Melalui buku ini, saya ingin menegaskan demokrasi elektoral hanya bisa terjaga bila pengawasan pemilu ditempatkan sebagai sebuah instrumen untuk menyeimbangkan kepentingan politik yang saling berbenturan," ucapnya.

"Akhirnya, semoga buku ini tidak hanya menjadi catatan akademis, tetapi juga rujukan praktis bagi kita semua dalam memperkuat demokrasi yang berintegritas," demikian Puadi menambahkan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya