Berita

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro (Foto: Dok Pribadi Komaidi Notonegoro)

Bisnis

Industri Kilang Minyak jadi Penopang Rantai Hilirisasi

RABU, 20 AGUSTUS 2025 | 16:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintahan Presiden Prabowo menetapkan pelaksanaan kebijakan hilirisasi sebagai tulang punggung dalam mencapai target Indonesia Emas yang di antaranya direpresentasikan melalui target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Kebijakan hilirisasi yang akan dilakukan untuk 8 sektor dan 28 komoditas sampai dengan tahun 2040 diproyeksikan akan memberikan sejumlah manfaat ekonomi, di antaranya

- mendatangkan investasi sebesar 618 miliar Dolar AS
- meningkatkan nilai ekspor sebesar 857,9 miliar Dolar AS

- meningkatkan nilai ekspor sebesar 857,9 miliar Dolar AS
- meningkatkan PDB sebesar 235,9 miliar Dolar AS
-  menyerap 3.016.179 tenaga kerja. 

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan dalam konteks hilirisasi, industri migas pada dasarnya telah melaksanakan hilirisasi jauh sebelum kebijakan hilirisasi yang digalakkan dalam beberapa waktu terakhir.

“Keberadaan kilang minyak dan gas sejak periode Pemerintahan Kolonial Belanda, merupakan bentuk dari hilirisasi migas,” kata Komaidi kepada media di Jakarta, dikutip Rabu 20 Agustus 2025.

Minyak mentah dan gas yang diproduksikan oleh KKKS, dilakukan proses pengolahan lebih lanjut (hilirisasi) menjadi sejumlah produk seperti (1) Bahan Bakar Minyak (BBM), (2) Bahan Bakar Gas (BBG), (3) Lequified Petroleum Gas (LPG), (4) Pupuk, dan (5) produk petrokimia.

Komaidi menekankan, hilirisasi migas penting dan relevan bagi Indonesia setidaknya karena tiga hal. Pertama, berpotensi menciptakan efek berganda dan nilai tambah ekonomi yang mendukung target pertumbuhan 8 persen. Kedua, sudah berjalan dengan baik di Indonesia berkat keberadaan industri kilang dan sektor pendukung, baik dari sisi hulu maupun hilir. Ketiga, sektor ini memiliki keterkaitan luas dengan perekonomian nasional. 

“Keduanya memiliki keterkaitan antar sektor yang luas dan berperan dalam penciptaan efek berganda ekonomi yang signifikan,” ujar Komaidi.

Berdasarkan analisis Input-Output (IO) 2016, terdapat sedikitnya 12 sektor yang menggunakan output dari sektor pertambangan migas. 

Tiga sektor dengan porsi input terbesar adalah barang hasil kilang migas (sektor 95), kimia dasar kecuali pupuk (sektor 96), dan pupuk (sektor 97). 

Dalam 10 tahun terakhir, ketiga sektor tersebut menghasilkan nilai tambah ekonomi Rp 17.671 triliun. 

Rinciannya, Rp 6.508 triliun dari sektor barang hasil kilang migas, Rp 6.802 triliun dari kimia dasar, dan Rp 4.361 triliun dari pupuk. 

Hasil perhitungan menunjukkan, ketiga sektor memiliki indeks keterkaitan di atas rata-rata. Sektor 95 mencatat backward linkage 0,91025 dan forward linkage 3,70034. Sektor 96 memiliki backward linkage 1,10624 dan forward linkage 5,66037. 

Sedangkan sektor 97 mencatat backward linkage 1,06363 dan forward linkage 1,92073.

Dengan basis data IO 2016, multiplier effect ketiganya juga relatif tinggi, yakni 7,18 untuk sektor barang hasil kilang migas, 7,53 untuk kimia dasar, dan 4,73 untuk pupuk. “Dengan nilai indeks tersebut, ketiganya tergolong sebagai sektor-sektor dengan tingkat multiplier effect yang kuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Komaidi.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya