Berita

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI M Hanif Dhakiri. (Foto: Dokumentasi DPR RI)

Publika

Target Ekonomi Prabowo 2026 Harus Jadi Kenyataan

OLEH: M. HANIF DHAKIRI*
MINGGU, 17 AGUSTUS 2025 | 05:52 WIB

Pengantar

PKB mendukung penuh target ekonomi Presiden Prabowo 2026 sebagai arah pembangunan nasional. Target ini mencerminkan optimisme sekaligus keberanian pemerintah dalam membawa Indonesia melangkah lebih cepat menuju kemandirian dan kemakmuran rakyat.

Angka-angka makro memang penting, tapi jauh lebih penting adalah bagaimana angka itu berubah menjadi kesejahteraan nyata. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti sebagai statistik, melainkan harus tercermin pada pekerjaan yang layak, harga kebutuhan pokok yang stabil, dan pemerataan kesejahteraan. 


Bagi PKB, target boleh ambisius, tapi harus realistis, terukur, dan berpihak pada rakyat kecil. Karena itu, PKB akan terus menjadi mitra strategis pemerintah yang loyal dan konstruktif yakni: mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo, sekaligus mengawal dengan kritis agar setiap janji pertumbuhan benar-benar hadir di dapur, di sawah, dan di kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia.


Catatan PKB atas Target Ekonomi 2026

- Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen

Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen selalu jadi harapan besar rakyat. Namun, angka 5,4 persen tidak akan tercapai dengan pola lama. Dibutuhkan industrialisasi yang menghasilkan lapangan kerja berkualitas, hilirisasi yang konsisten agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, serta pemangkasan birokrasi yang sering jadi penghambat investasi “Pertumbuhan 5,4 persen bukan hadiah, tapi buah dari industrialisasi yang nyata dan birokrasi yang efisien.”

- Inflasi 2,5 Persen

Inflasi rendah hanya punya arti kalau harga kebutuhan pokok terkendali di pasar. Stabilitas harga beras, minyak goreng, cabai, dan energi adalah indikator sesungguhnya yang dirasakan rakyat. Karena itu, penguatan ketahanan pangan, rantai distribusi yang lancar, dan subsidi yang tepat sasaran harus jadi fokus. "Inflasi 2,5 persen hanya berarti bila rakyat bisa belanja kebutuhan pokok dengan tenang.”

- Nilai Tukar Rp16.500 Per Dolar AS

Rupiah yang stabil memberi rasa aman bagi dunia usaha sekaligus menjaga daya beli rakyat. Target Rp16.500 per dolar AS bisa diterima, tapi yang lebih penting adalah mencegah gejolak. Pemerintah perlu menjaga cadangan devisa, mengendalikan defisit transaksi berjalan, dan memastikan arus modal tetap sehat. “Yang rakyat butuhkan bukan angka kurs Rp16.500, tapi rupiah yang stabil dan tidak mudah diguncang.”

- Suku Bunga SBN 10 Tahun 6,9 Persen

Target yield obligasi ini bisa tercapai bila disiplin fiskal benar-benar dijalankan. Tanpa pengelolaan defisit yang sehat, pasar akan merespons dengan bunga yang lebih tinggi, dan pada akhirnya beban utang rakyat akan bertambah. Kredibilitas kebijakan fiskal menjadi kunci kepercayaan pasar. “Pasar hanya percaya pada fiskal yang jujur dan disiplin, bukan pada janji yang longgar.”

- Pengangguran 4,44–4,96 Persen dan  Kerja Formal 37,95 Persen

Bonus demografi bisa jadi berkah besar atau justru bencana. Jika pemerintah serius memperluas lapangan kerja formal melalui digitalisasi, industrialisasi, dan dukungan UMKM naik kelas, maka angka pengangguran bisa turun signifikan. Tapi jika tidak, generasi muda hanya akan terjebak di pekerjaan informal dengan upah murah. “Bonus demografi bisa jadi berkah, tapi tanpa kerja formal, ia berubah menjadi beban.”

- Kemiskinan 6,5-7,5 Persen dan Kemiskinan Ekstrem 0-0,5 Persen

Target menekan kemiskinan ekstrem mendekati nol adalah ambisi besar yang layak diapresiasi. Namun, itu tidak bisa tercapai hanya dengan bantuan sosial. Perlu kebijakan yang presisi, pemberdayaan ekonomi desa, akses ke permodalan, dan program yang menghubungkan warga miskin ke dunia kerja produktif. “Kemiskinan ekstrem nol persen harus menjadi wajah nyata keadilan sosial, bukan sekadar janji politik.”

- Rasio Gini 0,377-0,380

Pertumbuhan ekonomi harus dinikmati semua lapisan rakyat, bukan hanya segelintir elit. Itu artinya akses pendidikan, kesehatan, dan perumahan layak harus diperluas. Jika tidak, ketimpangan akan melebar dan rasa keadilan publik kian terkikis. "Pertumbuhan tanpa pemerataan hanya melahirkan kesenjangan yang lebih dalam.”

- Lifting Migas 610 Ribu Barel/Hari dan Gas 984 Ribu BOE

Produksi migas terus menurun, sementara kebutuhan energi meningkat. Target lifting migas 2026 menuntut percepatan eksplorasi, insentif investasi, dan perbaikan tata kelola. Namun, pada saat yang sama, pemerintah juga harus serius memacu transisi energi agar Indonesia tidak selamanya bergantung pada migas. "Migas adalah jembatan menuju energi baru terbarukan, bukan tempat kita berdiam selamanya.”

- Indeks Modal Manusia 0,57 & Kesejahteraan Petani 0,7731

Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas SDM dan kesejahteraan petani. Indeks ini tidak bisa naik tanpa investasi serius pada pendidikan, kesehatan, serta akses petani terhadap teknologi dan pasar. Petani yang sejahtera akan menjamin pangan nasional, sementara SDM yang unggul akan membawa Indonesia bersaing di kancah global. "Petani yang sejahtera adalah benteng ketahanan pangan. SDM yang unggul adalah tiket Indonesia maju.”

Penutup

PKB menegaskan, target ekonomi 2026 adalah agenda besar bangsa, bukan sekadar hitungan statistik. PKB akan berdiri di barisan depan: memberi dukungan penuh, mengawal dengan kritis, dan memastikan setiap capaian benar-benar dirasakan rakyat banyak. Bagi PKB, ukuran keberhasilan ekonomi bukan angka di kertas, tapi perubahan nyata di meja makan, di lapangan kerja, dan di dompet rakyat.

Penulis adalah Wakil Ketua Komisi XI DPR RI/ Wakil Ketua Umum DPP PKB



Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya