Berita

Analisis Kebijakan pada Baintelkam Polri, Irjen Andry Wibowo

Publika

80 Tahun Usia Kemerdekaan dan Mimpi Pejuang Serta para Pendiri Bangsa

OLEH: ANDRY WIBOWO*
JUMAT, 15 AGUSTUS 2025 | 19:33 WIB

KEMERDEKAAN Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hasil pengorbanan seluruh pejuang dan para pendiri bangsa demi terwujudnya negara Indonesia yang berdaulat, aman, adil, dan makmur.

Pengorbanan hidup para pejuang tentu menjadi catatan sejarah yang mesti diwariskan dan ditanamkan pada jiwa dan pikiran seluruh rakyat sebagai nilai moral kehidupan bangsa Indonesia.

Semangat pengorbanan adalah nilai utama agar kehidupan sosial dan politik bangsa Indonesia dapat berjalan sesuai dengan etika moral, konstitusi, juga hukum, seiring pertumbuhan dan perkembangan masyarakat.


Pengingkaran atas pengorbanan para pejuang bangsa menjadi pintu masuk terjadinya bencana dalam kehidupan politik dan sosial.

Sikap pragmatisme akut yang terjadi pada negara negara gagal ketika menjalankan kehidupan politik dan sosial menjadi episentrum kerusakan yang mengakibatkan tidak saja gagalnya cita-cita pembangunan nasional.

Namun lebih dari itu melemahkan kedaulatan politik, menimbulkan berbagai ancaman terhadap keamanan nasional, serta munculnya rasa ketidakadilan dan potensi gagalnya upaya mewujudkan kemakmuran bangsa.  

Jika boleh bercermin kepada negara maju dan berhasil hal paling fundamental yang dirasakan dari kehidupan mereka adanya semangat untuk melindungi dan membangun kehidupan kolektif bangsanya. Kehidupan yang berpegang teguh pada komitmen dan konsensus kebangsaan seperti yang dialami oleh bangsa Cina, Amerika, Jepang, Korsel, Singapura.

Hal demikian tampak ketika pengaruh negara dirasakan pada semua sektor kehidupan, mulai dari kuatnya nilai mata uang sampai dengan terkendalinya mata rantai kehidupan masyarakat. 

Contoh aktual upaya proteksi sebuah negara adalah ancaman Presiden Trump kepada seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia soal tarif perdagangan. Hal yang menunjukkan betapa superiornya negara Amerika Serikat atas negara lain di dunia, termasuk dunia ketiga.

Dengan kepemimpinan yang baru, dalam usia kemerdekaannya yang ke-80 tahun, Negara Kesatuan Republik Indonesia diharapkan mampu menjaga mimpi besar para pejuang bangsanya, mewujudkan Indonesia yang berdaulat, aman, adil dan makmur.

Upaya dasar dan utama untuk mewujudkannya, selain melalui program pembangunan nasional adalah mendesaknya konsolidasi kepemimpinan nasional. Terutama dalam membangun apa yang disebut dengan semangat kejuangan para pemimpin politik, birokrasi, pemerintahan, militer, hukum dan kepolisian.

Sikap dan tindakan yang memberi keteladanan bagi rakyat dan mencerminkan semangat para pejuang dan pendiri bangsa. 

Sikap dan tindakan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, KH Hasyim Ashari, Cut Nyak Dien dan Kartini, Diponegoro, Sudirman ataupun Hoegeng, serta banyak tokoh pejuang lainnya, tidak sekadar dimaknai sebagai simbol nasionalisme personal.

Sikap ini harus dapat bertransformasi menjadi jatidiri kolektif para pemimpin di semua tingkatan struktur sosial dan politik.

Sikap dan tindakan pemimpin yang cinta tanah air melalui pengabdian terhadap bangsa tanpa pamrih, taat pada hukum dan berpegang teguh pada etik moral, serta berani bertanggung jawab dalam menjalankan mandat kekuasaan, menjadi basis orientasi dan tujuan utama dari sebuah pengabdian.

Prasyarat ini teramat penting untuk memastikan terwujudnya mimpi para pejuang dan pendiri bangsa tentang Indonesia merdeka.

Namun, jika pejuang dan pendiri bangsa hanya dijadikan komoditas propaganda sosial politik tanpa keteladanan sikap para pemimpin, maka mimpi besar Indonesia merdeka menjadi jauh panggang dari api. 

Jika dahulu sikap dan tindakan para pejuang dan para pendiri bangsa dapat membawa Indonesia merdeka, maka ketauladanan para pemimpin saat ini untuk menjaga asa terwujudnya Indonesia yang berdaulat, aman, adil dan makmur mutlak diperlukan.

Peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi momen refleksi sekaligus peneguhan sikap, cita cita kemerdekaan harus diwujudkan sebagai rasa hormat kepada para pejuang dan pendiri bangsa.

Dirgahayu Indonesiaku ke-80.

Penulis adalah Analisis Kebijakan pada Baintelkam Polri

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya