Berita

Ilustrasi/RMOL via AI

Dunia

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem hingga 43 Derajat Celcius

RABU, 13 AGUSTUS 2025 | 07:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gelombang panas ekstrem tengah melanda berbagai wilayah Eropa, dengan suhu mencapai hingga 43 derajat Celcius. Kondisi ini memicu kebakaran hutan di beberapa negara dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Di Spanyol barat laut, petugas berjuang memadamkan api yang merusak situs pertambangan emas Romawi kuno Las Medulas, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. 

Menteri Lingkungan Hidup Daerah, Juan Carlos Suarez-Quinones, mengatakan pada hari Senin, upaya pemadaman terkendala suhu tinggi dan angin kencang hingga 40 km perjam, yang memicu pusaran api berbahaya. 


"Ini terjadi ketika suhu mencapai sekitar 40 derajat Celsius (104 Fahrenheit) di lembah yang sangat sempit, lalu tiba-tiba [api] memasuki area yang lebih terbuka dan kaya oksigen," kata Suarez-Quinones, dikutip dari Al-Jazeera, Rabu, 13 Agustus 2025.

Ia mengatakan, sekitar 700 warga masih mengungsi, dan empat orang, termasuk dua petugas pemadam, mengalami luka ringan.

Di Portugal utara, hampir 700 petugas dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di Trancoso yang mulai berkobar sejak Sabtu, 9 Agustus 2025.

Sementara itu, Prancis menetapkan siaga merah -- peringatan panas tertinggi -- di 12 wilayah . Ahli iklim pertanian, Serge Zaka, menyebut situasi ini “bukan sekadar musim panas biasa, melainkan mimpi buruk.”

Sementara Di kawasan Balkan dan sekitarnya, termasuk Bulgaria menghadapi hampir 200 kebakaran, dengan suhu di atas 40 derajat Celcius. Meski sebagian besar api telah dipadamkan, situasi masih dinilai berbahaya.

Sementara Hongaria mencatat suhu tertinggi nasional baru, 39,9 derajat Celcius, memecahkan rekor sejak 1948.

Di Albania dilaporkan ada hampir 40 titik api dalam 24 jam terakhir. Beberapa rumah rusak, meski sebagian besar kebakaran berhasil dikendalikan.

Kroasia mengerahkan 150 petugas untuk melindungi rumah-rumah di dekat kota pelabuhan Split.

Di perbatasan Yunani-Turki, tiga kebakaran besar juga masih berkobar, termasuk satu di dekat Strumyani yang kembali menyala setelah sempat padam tiga minggu lalu.

Fenomena cuaca ekstrem ini mengingatkan kembali pada risiko besar gelombang panas di Eropa, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering memicu bencana kebakaran hutan. Semakin menunjukkan bahwa dampak pemanasan global itu nyata.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya