Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Daftar Negara yang Akan Akui Palestina pada 2025

JUMAT, 01 AGUSTUS 2025 | 09:46 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Gelombang pengakuan terhadap Palestina sebagai negara terus menguat di tengah meningkatnya kritik internasional atas aksi militer Israel di Gaza. 

Lebih dari 60 ribu warga Palestina dilaporkan tewas, sementara blokade yang menutup akses bantuan menimbulkan kelaparan masif yang oleh banyak pihak disebut sebagai kejahatan perang.

Sebagai respons, sejumlah negara mengambil langkah politik bersejarah dengan menyatakan niat mengakui Palestina secara resmi pada September 2025. 


Hingga saat ini, setidaknya 140 negara anggota PBB telah lebih dulu mengakui Palestina. Namun yang mengejutkan, beberapa negara besar G7 kini turut bergabung dalam barisan tersebut.

Prancis: G7 Pertama yang Umumkan Pengakuan

Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan lalu menyampaikan bahwa negaranya akan mengakui Palestina pada September mendatang. Pengumuman itu akan disampaikan secara resmi dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah agar perang di Gaza berakhir dan penduduk sipil diselamatkan. Perdamaian itu mungkin. Kita membutuhkan gencatan senjata segera, pembebasan semua sandera, dan bantuan kemanusiaan besar-besaran bagi rakyat Gaza,” tulis Macron di platform X.

Meski dikecam oleh Israel dan Amerika Serikat, Macron menegaskan kembali keputusannya melalui surat resmi yang dikirimkan kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas.

Inggris: Bersyarat pada Gencatan Senjata

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyatakan komitmen untuk mengakui Palestina, meski dengan syarat Israel menyetujui gencatan senjata.

“Saya selalu mengatakan bahwa kami akan mengakui negara Palestina sebagai kontribusi bagi proses perdamaian yang tepat, di saat solusi dua negara mencapai dampak maksimal. Dengan solusi tersebut yang kini terancam, inilah saatnya untuk bertindak,” ujar Starmer.

Namun, ia menegaskan bahwa pengakuan hanya akan berjalan jika Hamas membebaskan seluruh sandera dan menerima tidak akan berperan dalam pemerintahan Gaza. Langkah Inggris ini menuai respons beragam, dengan sebagian pihak menilai syarat tersebut justru melemahkan makna pengakuan.

Kanada: Dorong Reformasi Politik Palestina

Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut mengumumkan niat mengakui Palestina pada September, namun menekankan pentingnya reformasi politik internal.

“Tingkat penderitaan manusia di Gaza tidak dapat ditoleransi dan memburuk dengan cepat,” kata Carney. Ia menambahkan, pengakuan akan bergantung pada pelaksanaan pemilu demokratis oleh Otoritas Palestina, tanpa keterlibatan Hamas.

Sikap ini langsung menuai kecaman dari Israel, sementara Amerika Serikat memperingatkan bahwa keputusan Kanada dapat berdampak pada hubungan dagang kedua negara.

Negara Lain yang Siap Mengikuti

Selain Prancis, Inggris, dan Kanada, sejumlah negara Eropa seperti Malta dan Belgia telah menyatakan niat serupa. Sebelumnya, beberapa anggota Uni Eropa termasuk Siprus, Polandia, Hungaria, Slowakia, dan Republik Ceko sudah lebih dulu mengakui Palestina sebelum mereka bergabung dengan UE.

Di luar Eropa, pengakuan juga datang dari negara-negara G20 dengan ekonomi besar seperti Tiongkok, India, Brasil, Argentina, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Turki, Afrika Selatan, dan Indonesia.

Negara yang Menolak

Meski dukungan meluas, sejumlah negara tetap menolak. Italia di bawah Perdana Menteri Giorgia Meloni menyebut pengakuan sepihak sebagai langkah kontraproduktif. 

Jerman juga menegaskan belum ada rencana dalam waktu dekat, meski Menteri Luar Negeri-nya memberi peringatan keras terkait ancaman aneksasi Israel.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Jepang secara konsisten menolak untuk mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya