Berita

KTT ASEAN 2025 di Malaysia/Net

Publika

Konsistensi ASEAN dalam Mendukung Palestina

RABU, 09 JULI 2025 | 13:20 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

PENDERITAAN bangsa Palestina masih menjadi salah satu persoalan paling krusial dalam politik internasional yang menyentuh naluri universal manusia. Rakyat Palestina masih mengalami penderitaan yang tak terperi akibat pendudukan dan kekejaman tentara Zionis serta sanksi ekonomi yang menindas. Sementara dunia masih mencari solusi yang adil dan langgeng untuk mengatasinya.

Meski demikian, media massa melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih untuk mendesak pemimpin Israel itu mengakhiri perang dengan Hamas di Gaza.

Trump dilaporkan mengatakan bahwa Israel menyetujui gencatan senjata selama 60 hari, sementara Hamas menanggapi positif usulan yang didukung AS tersebut.


Laporan terbaru tentang perundingan antara Israel dan Hamas untuk menerapkan bentuk gencatan senjata telah memicu reaksi hati-hati namun positif dari berbagai negara.

Jika diterapkan, ini akan menjadi titik awal baru untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang meningkat di Gaza dan Tepi Barat.

ASEAN diharapkan tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menyatakan dukungan atas segala upaya menuju perdamaian sejati dan langgeng.

Malaysia sebagai Ketua ASEAN 2025 dan tuan rumah Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-58 memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin suara regional dalam mendukung implementasi gencatan senjata.

Dalam konteks ini, AMM-58 yang diselenggarakan pada 8 hingga 11 Juli di Kuala Lumpur membawa harapan baru karena isu Palestina diperkirakan akan mendapat perhatian serius seiring dengan perkembangan terbaru bahwa Israel dan Hamas mungkin sepakat untuk menerapkan gencatan senjata.

Penegasan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Amran Mohamed Zin, bahwa ini merupakan isu penting bagi ASEAN patut disambut baik. Beliau juga mengatakan bahwa AMM-58 dan Pertemuan Tingkat Menteri Konferensi Keempat Kerja Sama Negara-negara Asia Timur untuk Pembangunan Palestina (CEAPAD IV) akan menyatakan posisi mereka terkait hal ini.

CEAPAD IV, yang akan diketuai bersama oleh Malaysia, Jepang, dan Palestina, akan fokus pada program peningkatan kapasitas, rekonstruksi infrastruktur penting di Palestina, serta penyediaan bantuan kemanusiaan yang komprehensif dan efektif.

CEAPAD IV diharapkan menjadi platform paling signifikan bagi negara-negara Asia Timur, termasuk ASEAN, untuk menyatakan solidaritas terhadap perjuangan Palestina dan membahas langkah-langkah untuk mendukung rekonstruksi pascakonflik negara tersebut.

ASEAN secara kolektif telah lama menunjukkan konsistensi dalam mendukung rakyat Palestina.

Para Menteri Luar Negeri ASEAN pada 12 Februari menegaskan kembali dukungan berkelanjutan mereka terhadap hak-hak asasi rakyat Palestina, termasuk hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan tanah air mereka.

Mereka mendesak semua pihak untuk terlibat dalam dialog yang bermakna guna mencapai solusi damai dan komprehensif atas konflik yang berkepanjangan, berdasarkan solusi dua negara sesuai dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) serta Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (UNGA) yang relevan.

Ini termasuk Resolusi UNGA A/RES/ES-10/23 yang diadopsi pada 10 Mei 2024 dan didukung oleh seluruh anggota ASEAN.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, saat menyampaikan pidato pembukaan pada Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN bersamaan dengan KTT ASEAN di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) pada 25 Mei lalu, mengatakan ASEAN tidak bisa tinggal diam terhadap krisis global seperti kekejaman dan penindasan rezim Zionis terhadap rakyat Gaza.

Ia juga menegaskan bahwa Malaysia akan memimpin seruan kepada masyarakat internasional agar tidak tebang pilih dalam menangani konflik kemanusiaan dan mendukung solusi dua negara berdasarkan batas wilayah 1967 sebagaimana ditetapkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB.

Hal tersebut memang telah disuarakan Malaysia di berbagai forum internasional.

Mohamad Hasan sendiri, misalnya, ketika menyampaikan pernyataan nasional pada Pertemuan Luar Biasa Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah pada 7 Maret, dengan lantang menyatakan bahwa OKI dan masyarakat internasional bertanggung jawab untuk memastikan Israel mematuhi kewajiban gencatan senjatanya, termasuk mengizinkan pasokan bantuan kemanusiaan untuk terus disalurkan ke Gaza, melaksanakan tahapan-tahapan setelah perjanjian gencatan senjata, menghentikan operasi militer sepenuhnya, dan memulai kembali proses pembangunan kembali dan pemulihan Gaza.

Berdasarkan faktor ini, para Menteri Luar Negeri ASEAN tentu akan membahas dan membentuk posisi bersama atas setiap perkembangan positif terkait negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas berdasarkan perkembangan terkini.

Sejalan dengan Tujuan ASEAN

Hal ini sejalan dengan tujuan utama ASEAN untuk menjadi suara yang berprinsip dalam isu-isu internasional, terutama yang menyangkut kemanusiaan dan hak-hak orang-orang yang tertindas.

Sikap ASEAN terhadap isu Palestina harus digunakan sebagai platform bersama untuk mendesak masyarakat internasional, termasuk negara-negara besar, untuk tidak terus menunda solusi yang adil bagi rakyat Palestina.

Isu ini juga harus diangkat dalam forum-forum seperti OKI, PBB, dan G77+China untuk membangun tekanan internasional terhadap Israel.

Hal ini karena konflik Palestina merupakan cerminan sejauh mana dunia dan kawasan seperti ASEAN siap untuk membela prinsip-prinsip kemanusiaan universal.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi dan selektif terhadap penderitaan rakyat yang tertindas, ASEAN tidak bisa tinggal diam.

AMM-58 adalah kesempatan terbaik bagi ASEAN untuk muncul sebagai blok yang tidak hanya strategis dari perspektif ekonomi dan geopolitik, tetapi juga bermartabat dari perspektif moral dan kemanusiaan.

Sikap ASEAN terhadap isu Palestina akan menjadi tolok ukur komitmen kawasan terhadap prinsip keadilan, kedaulatan, dan hak untuk hidup damai bagi setiap bangsa.

Sebagai jantung diplomasi regional, Malaysia kini memimpin ASEAN menuju suara yang lebih lantang, lebih bersatu, dan lebih berani dalam menyuarakan kebenaran tentang isu Palestina.

Dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya