Berita

Penyelenggaraan PRJ di JIExpo Kemayoran/Ist

Politik

Jakarta Policy Watch Usulkan PRJ Digelar di Ancol dan Gratis Masuk

RABU, 09 JULI 2025 | 01:42 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Jakarta Policy Watch menyuarakan desakan agar Pekan Raya Jakarta (PRJ) dikembalikan ke semangat awalnya sebagai pesta rakyat terbuka, bukan lagi ajang komersial tertutup yang menyingkirkan akses warga berpenghasilan rendah.

PRJ diselenggarakan setiap tahun dalam rangka memperingati ulang tahun Kota Jakarta pertama kali digelar pada 1968 di Lapangan Monas atas inisiatif Gubernur Ali Sadikin. Kala itu, PRJ hadir sebagai hiburan rakyat, terbuka dan bisa dinikmati semua kalangan tanpa pungutan tiket masuk.

Namun kini, penyelenggaraan PRJ dinilai semakin menjauh dari roh awalnya. Lokasi penyelenggaraan di JIExpo Kemayoran, yang merupakan kawasan pameran tertutup dan dikelola oleh pihak swasta, dianggap kurang representatif sebagai ruang publik. 


“PRJ adalah perayaan ulang tahun Jakarta. Seharusnya jadi pesta rakyat, bukan ajang jualan korporasi atau bisnis eksklusif. Kini, PRJ tak ubahnya exhibition berbayar di gedung pameran. Lalu di mana letak pesta rakyatnya? Ironis lagi, warga Jakarta justru terasing karena mahalnya tiket,” ujar Direktur Eksekutif Jakarta Policy Watch, Aznil Tan dalam keterangannya kepada RMOL, Selasa, 8 Juli 2025.

Sejumlah warga Jakarta yang menghadiri PRJ tahun ini juga menyampaikan keluhan serupa. Selain tingginya harga tiket masuk, banyak yang mengeluhkan antrean panjang, kemacetan menuju lokasi, dan minimnya kenyamanan fasilitas di JIExpo Kemayoran. 

Kesulitan mendapatkan lahan parkir, tingginya tarif parkir resmi, hingga maraknya parkir liar di sekitar area semakin memperburuk pengalaman pengunjung.

“Masalah ini terus berulang setiap tahun. Tiket masuk mahal, akses menuju lokasi macet, parkir sulit dan mahal, bahkan muncul parkir liar yang meresahkan. PRJ di Kemayoran ini tidak nyaman lagi untuk warga,” jelasnya.

Jakarta Policy Watch mengusulkan agar penyelenggaraan PRJ dipindahkan dari JIExpo Kemayoran ke kawasan Ancol, sebuah ruang terbuka luas milik publik yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta melalui BUMD PT Pembangunan Jaya Ancol.

Dari sisi daya tampung dan keterbukaan, Ancol menawarkan keunggulan signifikan. Dengan luas sekitar 550 hektar, kawasan ini memiliki kapasitas lebih dari 12 kali lipat dibandingkan JIExpo Kemayoran yang hanya sekitar 44 hektare.

“Luas Ancol 12 kali lipat dari JIExpo Kemayoran. Skala ini memberikan ruang yang jauh lebih fleksibel, inklusif, dan layak untuk menyelenggarakan pesta rakyat berskala besar tanpa menimbulkan penumpukan atau pembatasan akses,” papar Aznil Tan, 

Lebih dari sekadar aspek teknis, ia juga menilai Ancol memiliki keunggulan simbolik dan geografis yang tak dimiliki oleh JIExpo. Terletak langsung di tepi laut, Ancol merepresentasikan identitas Jakarta sebagai kota pelabuhan sekaligus mencerminkan wajah Indonesia sebagai negara kepulauan dan maritim.

“Ancol bukan sekadar lokasi wisata, tapi simbol ruang kota yang terbuka dan inklusif. Ia menyatu dengan laut, langit, dan kehidupan publik. Ini jauh lebih sesuai untuk PRJ yang ingin kembali ke rohnya sebagai pesta rakyat,” lanjutnya.

Keberadaan pantai dan cakrawala terbuka di Ancol juga menghadirkan suasana yang segar, merdeka, dan alami, sebuah ruang kontemplatif sekaligus panggung rakyat yang selaras dengan semangat kebersamaan dan perayaan kota.

Aznil menegaskan bahwa orientasi PRJ perlu dikembalikan dari festival korporat menjadi ajang partisipasi publik. Menurutnya, keberhasilan PRJ tidak semata diukur dari banyaknya sponsor atau brand besar yang hadir, melainkan dari sejauh mana rakyat dapat menikmati dan merasa memiliki perayaan kotanya sendiri.

“Gratis pun PRJ tetap untung, karena yang tumbuh adalah ekonomi rakyat. Dan yang jauh lebih penting dari untung rugi adalah rasa keadilan dan kebersamaan dalam merayakan Jakarta,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa PRJ sejatinya adalah bentuk hiburan rakyat, sehingga pemerintah seharusnya tidak berorientasi profit, melainkan menjadikannya sebagai bentuk pelayanan publik. Dalam kerangka itu, Pemprov DKI Jakarta dituntut konsisten membangun kota yang menganut prinsip Welfare State.

 “Jika digratiskan selama PRJ, dampak ekonominya tetap besar karena transaksi UMKM, hiburan rakyat, dan aktivitas sosial tetap bergerak. Sebagai kota global, Jakarta seharusnya memberi contoh penerapan prinsip Welfare State,” ujar Aznil.

Dengan demikian, Jakarta Policy Watch secara tegas merekomendasikan kepada Pemprov DKI Jakarta, panitia PRJ, dan BUMD terkait untuk, pertama, memindahkan lokasi PRJ dari JIExpo Kemayoran ke Ancol atau ruang publik lainnya milik pemerintah.

Kedua, menggratiskan akses masuk PRJ, termasuk tiket ke kawasan penyelenggaraan selama perayaan berlangsung.

Ketiga, memulihkan semangat kerakyatan, dengan melibatkan pelaku UMKM, seniman lokal, budaya tradisional, komunitas warga, dan hiburan rakyat.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya