Berita

Taliban/Net

Dunia

Rusia Jadi Negara Pertama Akui Pemerintahan Taliban

JUMAT, 04 JULI 2025 | 09:45 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Taliban di Afghanistan mengumumkan bahwa Rusia telah menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui kekuasaan mereka, menyebut langkah itu sebagai keputusan yang berani.

Pengakuan ini diumumkan setelah pertemuan antara Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi dengan Duta Besar Rusia untuk Afghanistan, Dmitry Zhirnov, di Kabul. 

"Keputusan yang berani ini akan menjadi contoh bagi yang lain. Sekarang setelah proses pengakuan dimulai, Rusia berada di depan semua orang," ujar Muttaqi dalam video yang dirilis melalui platform X, seperti dimuat AFP pada Jumat, 4 Juli 2025.


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Taliban, Zia Ahmad Takal, juga mengonfirmasi hal tersebut. 

"Rusia adalah negara pertama yang secara resmi mengakui Emirat Islam," kata dia, menggunakan nama resmi Taliban untuk pemerintahan mereka.

Kementerian Luar Negeri Afghanistan menyebut langkah ini sebagai awal dari fase baru hubungan yang positif, saling menghormati, dan keterlibatan yang konstruktif.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan di Telegram bahwa pengakuan resmi ini diharapkan meningkatkan pengembangan kerja sama bilateral yang produktif antara negara kita di beberapa bidang. 

Rusia juga menyoroti potensi kerja sama dalam sektor energi, transportasi, pertanian, dan infrastruktur, serta komitmen untuk membantu Afghanistan dalam memerangi terorisme dan perdagangan narkoba.

Langkah pengakuan tersebut merupakan kelanjutan dari upaya Moskow untuk menormalisasi hubungan dengan Taliban. 

Pada April lalu, Rusia menghapus Taliban dari daftar organisasi teroris dan sebelumnya telah menerima penunjukan duta besar Taliban di Kabul. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut Taliban sebagai sekutu dalam perang melawan terorisme pada Juli 2024.

Namun, keputusan ini menuai kritik tajam dari banyak pihak, terutama aktivis hak perempuan Afghanistan dan mantan anggota parlemen.

Mariam Solaimankhil, mantan anggota parlemen Afghanistan, mengutuk langkah Rusia. 

“Langkah tersebut melegitimasi rezim yang melarang anak perempuan mengenyam pendidikan, memberlakukan hukuman cambuk di depan umum, dan melindungi teroris yang disetujui PBB,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa tindakan ini menunjukkan bahwa kepentingan strategis akan selalu lebih utama daripada hak asasi manusia dan hukum internasional.

Fawzia Koofi, mantan wakil ketua parlemen Afghanistan, juga mengecam pengakuan tersebut. Ia menegaskan bahwa pengakuan apa pun terhadap Taliban tidak akan membawa perdamaian, tetapi akan melegitimasi impunitas dan berisiko membahayakan tidak hanya rakyat Afghanistan, tetapi juga keamanan global.

Hingga kini, banyak negara besar, termasuk Tiongkok dan Pakistan, telah menerima perwakilan diplomatik Taliban, namun belum secara resmi mengakui Emirat Islam tersebut. 

Negara-negara Barat masih menahan pengakuan formal karena kekhawatiran terhadap pelanggaran hak asasi manusia, khususnya terhadap perempuan dan anak perempuan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya