Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Bumi Manusia Baru

JUMAT, 20 JUNI 2025 | 06:13 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

BUMI mengalami perubahan. Manusia sebagai penggerak. Secara umum, kata Anthropocene dari dua arti kata Yunani,  yaitu anthropos yang berarti "manusia" dan cene berarti "baru". 

Manusia sebagai Penggerak. Sebelumnya manusia ibarat "pohon yang kesepian". Kini memasuki era baru manusia membentuk aspek biosfer. Artinya manusia sekarang menyaingi kekuatan alam dalam membentuk fungsi dan proses.

Teori Hijau mengakui bahwa masalah lingkungan bersifat transnasional membutuhkan kerjasama Internasional. Selanjutnya mendorong perubahan fundamental dalam sistem politik dan sosial, dengan menekankan keadilan ekologis dan demokrasi partisipatif.


Negara Gagal 

Negara yang tidak mampu memenuhi fungsi-fungsi dasar sebagai negara berdaulat, seperti menjaga keamanan, menyediakan layanan publik, dan menegakkan hukum. 

Istilah ini sering digunakan untuk negara yang kehilangan kendali atas wilayahnya, mengalami krisis ekonomi, atau tidak mampu berinteraksi secara efektif dengan komunitas internasional. 

Beberapa ciri-ciri negara gagal adalah Pemerintah tidak mampu mengendalikan wilayahnya secara efektif, termasuk perbatasan dan infrastruktur penting. Pemerintah pusat lemah dan tidak efektif, dengan korupsi yang meluas dan sistem hukum yang tidak berjalan.

Perubahan iklim dan bencana alam dapat memicu konflik, kelaparan, dan migrasi massal. Demikian juga dengan Gerakan Lingkungan sesungguhnya sedang mengalami "kegagalan pasar" (market failure) dalam menampung biaya akibat kerusakan lingkungan. 

Negara nampaknya tidak hadir dan sering absen dalam menjaga bumi pertiwi. Banyak hutan terbabat di hampir seluruh kepulauan besar, berubah menjadi perkebunan dan pertambangan.  Hal ini terjadi lebih dari lima puluh tahun dan masih berlanjut hingga kini.

Saat ini ada 4,8 juta ha yang akan segera dibagikan kepada kelompok pebisnis. Lebih dari seratus perusahaan yang berminat. Kasus Raja Ampat yang belum lama terkuak. Lokasi yang terkenal disebut sebagai " Surga Terakhir" tercabik oleh tambang nikel.

Danau Toba yang indah nian sempat menjadi bak toilet raksasa, hutan di sekitarnya dimakan industri pulp. Bahwa dunia akan  "kiamat dalam tempo 9 hari" tentu saja absurd, bahwa pulau kecil akan segera tenggelam dalam waktu yang dekat sungguh menakutkan.

Bahwa "Pulau Jawa mungkrat" adalah kepercayaan orang banyak, bahwa kiamat akan segera tiba. Karenanya adanya banjir dan alasan lain maka Ibukota segera pindah ke IKN di Pulau Kalimantan dan juga adanya Rob dari laut utara Pulau Jawa maka segera akan dibangun sebuah proyek raksasa "Great Wall". Kedua proyek memakan biaya ribuan triliun. Luar biasa!

Dalam bentuk barbarian dan tribalisme dalam negeri dan atas nama nasionalisme, maka kembali negara gagal, masa depan itu sudah hadir, setidaknya sekilas. Kita tinggal menunggu badai.

Dalam Leviathan, Hobbes menceritakan narasi palsu kesepakatan politik untuk  menggambarkan apa yang mereka lihat sebagai bentuk politik yang paling mungkin berevolusi dari krisis pemanasan global berikut segala dampaknya.

Gagasan "tatanan global" dipandang sebagai fiksi atau cita-cita, namun ada kekuatan liberal, globalisasi dan hegemoni Amerika membawa ke arah abad sebelumnya. Mungkin, dalam abad mendatang, perubahan iklim akan membalik arah jalannya. Saat ini rezim Amerika  memilih jalan politik isolasi.

Bumi Manusia Baru, menjadi gamang dan negara-negara yang selama ini  berusaha untuk membangun dunia yang bersih dan mencoba melawan kenaikan suhu, terkendala oleh rezim baru. Semua menjadi tidak pasti. Iklim berubah. Pemanasan tetap terjadi. Kesimpulan seperti awan yang selalu bergerak "the cloud of unknowing". Optimisme kita adalah "Manusia adalah Penggerak".

*Penulis adalah eksponen Gema 77/78

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya