Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Tambang Emas Tembakau Madura Minus Keadilan Sosial

KAMIS, 15 MEI 2025 | 07:05 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MADURA. Sebuah pulau tanpa gunung emas, tembaga, atau nikel seperti Papua. Tapi jangan salah, pulau ini punya tambang emas yang lebih harum --tembakau.

Namun seperti banyak kisah sukses di negeri ini, yang menikmati kekayaan itu bukanlah mereka yang memeras keringat menanamnya. Di balik harum tembakau Madura, terselip kisah getir tentang ketimpangan dan keadilan yang tak kunjung tiba.

Farid Ma’ruf, pengkaji Lemhannas RI, dalam artikelnya di Harian Disway menyebut bahwa meski tak punya tambang emas, Madura menyimpan ladang-ladang Campalok --tembakau unggulan yang bisa menembus harga Rp 5 juta per kilogram.


Tembakau tumbuh subur di tanah Sumenep dan Pamekasan. Bahkan Madura menjadi lumbung tembakau nasional. Ironisnya, meski menyumbang porsi besar dari pendapatan cukai tembakau negara, para petaninya justru tercecer di pinggiran.

Madura ibarat negeri dalam dongeng, bukan karena glamor, tapi karena absurd. Petani tembakau meneteskan peluh di tanah tandus demi hasil panen yang tak selalu setimpal. Dan tiap musim panen, harga kerap terjun bebas. Para tengkulak seolah menjadi tuan pasar, sementara petani cuma bisa pasrah.

Setiap tahun, Madura menyumbang miliaran rupiah lewat cukai hasil tembakau. Tapi mari kita tanya: ke mana larinya dana bagi hasil cukai itu (DBHCHT)? Jawabannya sering kali membuat kepala pening. Dana lebih banyak digunakan untuk pengawasan rokok ilegal dan program kesehatan, sementara petani hanya kebagian remah-remahnya.

Pabrik-pabrik raksasa seperti Gudang Garam dan Sampoerna terus menikmati untung besar. Petani tembakau? Mereka tetap bergelut dengan nasib dan musim.

Tapi jangan salah. Bagi petani Madura, tembakau bukan sekadar komoditas. Ia adalah pusaka budaya. Seperti ditulis Farid Ma’ruf, tembakau adalah “aroma peluh nenek moyang dengan kadar nikotin yang kuat.” Ia bukan hanya tanaman, tapi identitas, cuaca, dan musim.

Kini muncul harapan baru: koperasi petani berbasis desa. Mungkinkah ini jalan keluar? Mungkinkah pula muncul Koperasi Merah Putih, yang memutus dominasi tengkulak dan memperkuat posisi tawar petani?

Tapi lagi-lagi, semua ini hanya akan jadi wacana jika pemerintah tak berpihak. Jika kebijakan tetap disusun untuk kenyamanan para pemilik modal, bukan kesejahteraan petani kecil, koperasi pun bisa jadi hanya mimpi di siang bolong.

Ironisnya, negara bisa dengan bangga memamerkan triliunan pendapatan cukai, sementara petani yang menyumbang pendapatan itu justru hidup dalam ketidakpastian.

Farid menulis tegas: “Keadilan fiskal bukan hanya soal bagi-bagi dana, tapi memastikan bahwa semua yang menghidupi negeri ini --termasuk petani tembakau Madura --tidak ditinggalkan di barisan belakang.”

Karena itu, pemerintah semestinya menjadikan DBHCHT bukan sekadar alat kontrol, tapi sarana pemberdayaan. Misalnya, mengalokasikan sebagian dananya untuk riset dampak kesehatan dan ekonomi dari konsumsi tembakau.

Ini bukan hanya soal menjaga kesehatan masyarakat, tapi juga membuka ruang inovasi dan kesejahteraan bagi petani. Contohnya bisa dilihat dari inisiatif “Rumah Sehat” di Malang, hasil kajian seorang profesor Universitas Brawijaya, yang mengembangkan filter rokok yang konon bisa mengurangi dampak buruk merokok.

Meski masih perlu verifikasi ilmiah, ini menunjukkan potensi besar inovasi lokal.

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, pernah menulis soal ini, menyoroti pentingnya dukungan terhadap riset yang memberi alternatif bagi perokok dan membuka peluang baru bagi petani.

Maka, mendukung riset semacam ini seharusnya jadi prioritas. Ini tak hanya menurunkan risiko kesehatan, tapi juga memberi petani jalan menjadi bagian dari solusi, bukan hanya bagian dari masalah.

Tembakau Madura mungkin bukan emas dalam pengertian biasa, tapi bagi petani, itu adalah sumber hidup.

Dan sudah saatnya mereka turut menikmati hasil jerih payahnya. Jika negara mengantongi triliunan dari tembakau, maka negara pun wajib menjamin kesejahteraan para petani yang menanamnya.

Maka, saat kita bicara tentang tambang emas Madura, marilah jangan hanya terpaku pada hasil panen, tapi pada siapa yang menanamnya. Sebab di balik sehelai daun tembakau Madura, tersembunyi harapan, sejarah, dan keadilan yang masih harus diperjuangkan.

*Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya