Berita

Zulkifli Hasan memberikan sambutan di acara Muktamar PUI.

Publika

Ishlah dan Cinta Ala Pak Zul

RABU, 14 MEI 2025 | 06:16 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

MUKTAMAR ke-15 Persatuan Ummat Islam (PUI) dibuka dengan gegap gempita di aula utama Smesco, Jakarta. Tentu saja, bukan hanya karena tata suara yang membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, tetapi juga karena kehadiran tokoh di panggung ormas ini: Zulkifli Hasan.

Ya, Pak Zul, Menteri Koordinator Bidang Pangan kita, hadir untuk pertama kalinya di acara akbar PUI. Ketua Umum PAN dan tokoh Muhammadiyah sejati ini tiba-tiba menjadi bintang panggung, bicara penuh semangat tentang dua kata yang, katanya, bisa menyelamatkan bangsa: ishlah dan cinta.

Dan seperti biasa, kita harus angkat topi. Bukan hanya karena tata suara yang bisa membuat telinga berdzikir sendiri, tetapi juga karena kejelian panitia membaca strategi: hadirkan Pak Zul, dukung ketahanan pangan, lalu sematkan kata “kerja sama strategis.” Selesai sudah.


Semua senang. PUI senang, Pak Zul senang. Bahkan mungkin, Kepala Kepolisian RI, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pun senang. Apalagi, namanya disebut berkali-kali sebagai tokoh yang paling rajin hadir di tengah-tengah ormas Islam, termasuk di PUI bersama jajaran penuh.

Tapi mari kita refleksikan sejenak. Pak Zul menyebut ishlah dan cinta sebagai kunci penyelesaian semua persoalan. “Dengan ishlah dan cinta, selesai semuanya,” katanya dengan penuh keyakinan dan gaya lembutnya ?"seperti sedang kampanye, tapi bukan kampanye.

Tentu saja kita bisa tersenyum, lalu bertanya dalam hati: “Sudahkah cinta itu masuk ke kebijakan?” Kesadaran ini barangkali tumbuh dalam diri Pak Zul sejak lama. Tapi mungkin kini ia menyadarinya lebih dalam, setelah tahu dua kata itu jadi jargon dalam Intisab PUI.

Untuk memberi ilustrasi, Pak Zul mengangkat nostalgia tentang masa Orde Baru, dengan semangat seperti anak kos yang mengenang masakan ibu. Katanya, dulu kita punya pesawat terbang, satelit yang pertama, kapal canggih, dan tentu saja, swasembada pangan.

Sekarang? Ia pun membandingkan. Sawahnya masih itu-itu saja, bahkan ratusan ribu hektare lenyap tiap tahun ?"antara lain menjadi perumahan. Lalu, reformasi yang sudah berusia hampir 30 tahun? “Reformasi tanpa cinta,” katanya, “ya begini hasilnya.”

Sebentar, mari kita luruskan. Benar bahwa banyak capaian Orde Baru yang monumental?"terutama di bidang pangan dan infrastruktur. Tapi, apakah kita ingin mengulang masa itu sepenuhnya, apalagi di ranah politik, dengan paket lengkap termasuk represi dan pembungkaman?

Reformasi, istilah lain ishlah, mestinya berjalan ke arah perbaikan, bukan sekadar romantisme masa lalu. Tapi ketika ishlah berjalan tanpa cinta, hasilnya ya bisa seperti sekarang: rakyat menonton elite saling berebut kursi, sementara sawah tetap tenggelam saat musim hujan.

Pak Zul juga mengkritik reformasi yang penuh bansos tapi tanpa cinta. “Cinta pemerintah ke rakyat seperti ini hanya pura-pura,” katanya. Pernyataan ini cukup berani. Tapi di era mana, Pak? Bukankah PAN juga ikut dalam banyak rezim yang menjalankan bansos demi partai?

Namun kita setuju: cinta itu bukan sekadar bansos menjelang pemilu. Cinta itu adalah kehadiran negara yang membangun kemandirian rakyat. Dan di sinilah, menurut Pak Zul, Presiden Prabowo Subianto mulai menghadirkan cinta yang sejati: mengalirkan dana hampir seribu triliun ke desa, lewat koperasi dan program berbasis rakyat.

Kita tentu berharap ini bukan sekadar cinta musiman. Karena cinta sejati itu membangun, bukan menjanjikan. Dan koperasi, jika dikelola serius, bisa menjadi jalan nyata bagi kesejahteraan. Tapi sejarah juga mencatat, betapa koperasi kerap menjadi alat politik, bukan alat produksi.

Yang unik, Pak Zul sang pengusaha tajir juga jatuh hati pada Intisab PUI. Entah karena iramanya yang indah, atau karena isinya yang pas dengan narasi politiknya. “Kalau sudah baca Intisab, berarti sudah jadi PUI,” katanya berseloroh.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya