Berita

Saksi Nurhasan (kiri)/RMOL

Hukum

Satpam PDIP Ngaku Didatangi 2 Pria Tegap, Minta Telpon Harun Masiku dan Rendam Handphone

KAMIS, 08 MEI 2025 | 19:03 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Satpam kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Nurhasan mengaku sempat didatangi 2 orang pria berbadan tegap untuk segera menghubungi Harun Masiku untuk menenggelamkan handphone.

Hal itu diungkapkan langsung Nurhasan saat menjadi saksi yang dihadirkan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sidang perkara dugaan suap dan perintangan penyidikan dengan terdakwa Hasto Kristiyanto selaku Sekretaris Jenderal PDIP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 8 Mei 2025.

Nurhasan mengaku, selain bertugas di kantor DPP PDIP, dia juga berjaga di Rumah Aspirasi di Jalan Sutan Syahrir nomor 12A, Menteng, Jakarta Pusat. Pada 8 Januari 2020, Nurhasan mengaku didatangi oleh 2 orang yang tidak dikenal.


"Datang 2 orang, pintu itu kan nggak saya kunci ngga saya slot, saya duduk, ada yang ketok-ketok, saya samperin lah. Ada dua orang itu, menanyakan Harun. 'Pak Harun, ada Pak Harun?', begitu seingat saya," kata Nurhasan.

Kedua orang itu disebut langsung masuk ke area Rumah Aspirasi tepatnya di pos satpam. Satu di antaranya kata Nurhasan, langsung mengambil ponsel miliknya yang sedang dalam kondisi diisi daya. Sementara lainnya mengajaknya berbincang.

Dalam perbincangan itu kata Nurhasan, salah seorang yang berperawakan layaknya aparat memintanya untuk mengikuti semua perintahnya.

"Setelah ambil HP saudara tadi apa yang dilakukan?" tanya Jaksa Wawan Yunarwanto kepada saksi Nurhasan.

"Ini kamu ngomong sama ini. Tapi sebelum ngomong itu saya itu disuruh entar kamu bilang ya 'amanat' gitu," tutur Nurhasan menirukan pernyataan orang tak dikenal tersebut.

"Pokoknya Pak ada amanat. itu sebelum telepon diarahkan dulu, setelah menyambung baru saya ngomong, langsung di loudspeaker. Dua orang itu mengarahkan saya," ungkap Nurhasan.

Saat itu, tak diketahui siapa yang akan ditelepon. Tapi Nurhasan mengingat jika satu dari dua orang tak dikenal itu terus memberikan kode agar komunikasi dalam telepon sesuai dengan keinginannya.

"Pada waktu itu komunikasinya hanya sekadar tanya di mana atau ada komunikasi lain?" tanya Jaksa Wawan.

"Dia itu minta ketemuan pak, yang telepon orang sananya minta ketemuan," jawab Nurhasan.

Karena dipaksa oleh dua orang tak dikenal dan di bawah tekanan, Nurhasan mengikuti kemauan orang yang ditelepon. Mereka memutuskan untuk bertemu di area masjid yang berada di wilayah Cut Mutia.

"Dia minta ketemuan di masjid, Masjid Cut Meutia," sebut Nurhasan.

"Yang menawarkan bertemu 2 orang tadi atau yang dituju?" tanya Jaksa Wawan.

"Yang di ujung sana, yang teleponan dengan saya," jawab Nurhasan.

Untuk menuju lokasi pertemuan, Nurhasan mengendarai sepeda motor. Sementara dua orang tak dikenal memantaunya dari kejauhan.

Hingga akhirnya, pertemuan itupun terjadi. Orang yang diteleponnya ternyata Harun Masiku. Sosoknya diketahui Nurhasan sebagai buronan KPK itu setelah ramai diperbincangkan.

"Nggak tahu saya karena saya belum kenal," sebut Nurhasan.

"Saudara mulai tahu kapan (kalau Harun Masiku)?" tanya Jaksa Wawan.

"Yaitu pas ramai-ramai, saya oh ini orang kemarin maaf pak saya agak kesal juga," kata Nurhasan.

Dalam pertemuan itu, Harun Masiku disebut memberikan tas laptop. Namun, Nurhasan tak tau isi di dalamnya karena tak sempat membuka. Terlebih, tas laptop itu langsung diberikan kepada dua orang tak dikenal yang terus mengawasi pertemuan tersebut.

"Itu nggak lama sih pak, dia (Harun) kasih tas ke saya tas laptop," sebut Nurhasan.

"Siapa?" tanya Jaksa Wawan.

"Itu si Harun itu. dia bilang 'titip ya'," kata Nurhasan.

Setelah itu, tim JPU memutarkan rekaman percakapan telepon antara Nurhasan dengan Harun Masiku.

"Ini ada amanat pak, bapak handphonenya harus di rendam ke air, bapak standby di DPP," kata Nurhasan kepada Harun Masiku.

Harun Masiku pun menanyakan lokasinya di mana. Nurhasan pun kembali menjelaskan bahwa handphone Harun Masiku harus di rendam di air, setelah itu standby di DPP PDIP.

"Direndam di air pak," tegas Nurhasan.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya