Berita

Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI), Rasminto (tengah)/Ist

Politik

Sinergi Kampus dan Militer Diperlukan Buat Kemajuan Bangsa

MINGGU, 27 APRIL 2025 | 23:23 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Resistensi terhadap keterlibatan TNI dalam aktivitas di lingkungan kampus sebagai bentuk dikotomi keliru antara militer dan sipil.  

Direktur Eksekutif Human Studies Institute (HSI), Rasminto, menilai pembatasan ini lahir dari tafsir lama yang tidak lagi relevan dengan perkembangan dunia saat ini. 

“Di luar negeri sana, khususnya di negara-negara Eropa, hubungan sipil-militer justru makin kuat dan harmonis melalui konsep Civil Military Cooperation (CIMIC). Jadi, membangun sinergi, bukan menciptakan sekat-sekat baru," ujar Rasminto dalam keterangannya, Minggu malam, 27 April 2025.


Ia menjelaskan, anggapan bahwa dunia militer dan kampus adalah dua dunia yang bertolak belakang merupakan kesalahan besar. Ia mencontohkan bagaimana negara-negara dengan Indeks World Competitiveness Ranking tinggi, seperti Swiss, Denmark, dan Swedia, mampu membangun nasionalisme dan kedisiplinan masyarakatnya melalui sinergi erat antara sektor pendidikan dan militer. 

"Berdasarkan data IMD World Competitiveness Ranking 2024, negara-negara tersebut menempati peringkat teratas bukan hanya karena teknologi dan inovasi, tetapi juga karena faktor kohesi sosial, disiplin, dan kesadaran bela negara. Kita harus belajar dari mereka. Semakin maju sebuah negara, semakin kokoh pula hubungan antara akal sehat akademik dan semangat pengabdian terhadap nusa bangsa," jelasnya. 

Menurutnya, militer dan kampus dapat menjadi kawah candradimuka untuk membentuk generasi muda yang berdisiplin tinggi, nasionalis, dan berwawasan global. 

"Kampus tidak cukup hanya membentuk intelektual kritis, tetapi juga butuh membangun karakter pejuang. Dan sebaliknya, militer butuh intelektualitas kampus agar kekuatan mereka tidak hanya berbasis hard power, tapi juga berbasis smart power," ujar dia. 

Sinergi ini, lanjutnya, akan memperkuat daya tahan nasional Indonesia menghadapi tantangan zaman. Terlebih, Ia menilai program seperti Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) merupakan contoh konkret pembangunan jejaring sipil-militer yang positif. 

“Melalui Latsitardanus, para taruna dan mahasiswa berbaur dalam membangun desa, mengajar, serta melakukan karya bakti. Ini bukan hanya tentang kedekatan sosial, tapi membangun rasa saling percaya antara unsur sipil dan militer sejak dini,” paparnya. 

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun jejaring sosial sejak dini untuk membentuk pemimpin masa depan yang visioner dan berkarakter. Menurutnya, tanpa relasi lintas sektor yang kuat, seorang pemimpin akan mudah terombang-ambing oleh dinamika politik global. 

"Pemimpin masa depan tidak boleh buta. Ia harus tahu siapa kawan sejati bangsa ini, dan siapa yang datang dengan kepentingan tersembunyi," tegasnya.

Pakar Geografi Manusia Unisma ini menekankan bahwa di tengah dinamika global yang semakin kompetitif, Indonesia perlu menyiapkan generasi muda yang berjiwa nasionalis, disiplin, dan mampu berkolaborasi lintas sektor. 

"Jika kita masih terus berpikir sektoral, kita hanya akan jadi penonton di rumah sendiri. Saatnya membangun kekuatan bersama, bukan menciptakan jurang pemisah," jelasnya lagi.

Ia mendorong publik untuk tidak melihat keterlibatan TNI di kampus sebagai bentuk militerisasi, tetapi sebagai upaya memperkuat kohesi nasional. 

"Sinergi ini tentang menyatukan intelektualitas dan patriotisme. Ini tentang membangun bangsa yang kuat, bukan sekadar pintar," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya