Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Tangkapan layar/RMOL)

Bisnis

Ini Strategi Indonesia Tempuh Jalur Diplomatik Hadapi Tarif AS

SELASA, 08 APRIL 2025 | 20:07 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah Indonesia merespons kebijakan tarif 32 persen yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap RI dengan menyiapkan sejumlah langkah strategis melalui jalur diplomatik dan negosiasi. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Indonesia memandang AS sebagai mitra strategis, sehingga pendekatan yang digunakan akan mengedepankan dialog dan kerja sama.

"Pemerintah Indonesia sendiri telah memutuskan untuk berbagai langkah strategis diantaranya melalui jalur negosiasi dengan mempertimbangkan AS sebagai mitra strategis," kata Airlangga dalam keterangan resmi setelah Forum Sarasehan Ekonomi Jadi Penegasan Membangun Ekonomi Di Atas Kaki Sendiri bersama Presiden Prabowo Subianto pada Selasa 8 April 2025.


Ia merinci salah satu upaya negosiasi yang akan ditempuh adalah melalui revitalisasi Trade and Investment Framework Agreement (TIFA). Selain itu, pemerintah juga akan melakukan deregulasi terhadap Non-Tariff Measures (NTMs) dengan cara merelaksasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) asal AS, termasuk produk dari GE, Apple, Oracle, dan Microsoft, evaluasi terhadap kebijakan larangan terbatas (lartas) dan percepatan sertifikasi halal.

Selain itu, Airlangga menambahkan bahwa pemerintah akan melakukan penyeimbangan neraca perdagangan dengan AS melalui pembelian sejumlah produk dari negara tersebut. 

"Melalui pembelian produk agriculture dari AS seperti Soya Bean, pembelian peralatan engineering, pembelian LPG, LNG, dan Migas oleh Pertamina. Langkah selanjutnya, Pemerintah juga menyiapkan Insentif Fiskal atau Non-Fiskal, untuk mendorong impor dari AS dan menjaga daya saing ekspor ke AS," tuturnya.

Sebelumnya, pemerintah juga telah memulai proses negosiasi melalui pertemuan antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan United States Trade Representative (USTR), serta melakukan sosialisasi dan menjaring masukan masyarakat dengan melibatkan asosiasi pelaku usaha

Presiden Prabowo Subianto yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi nasional di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Negara-negara ekonomi yang terkuat membuat kebijakan-kebijakan memberi peningkatan tarif yang begitu tinggi kepada banyak negara ini bisa dikatakan menimbulkan ketidakpastian  dunia. Saya bertahun-tahun saya sudah ingatkan mari kita bangun ekonomi kita dengan sasaran berdiri di atas kaki kita sendiri,” tegas Presiden Prabowo Subianto.

Sejumlah negara lain juga telah mengambil langkah serupa. Tiongkok menetapkan tarif balasan sebesar 34 persen, sementara Vietnam, Thailand, Uni Eropa, India, dan Malaysia memilih jalur diplomasi dan negosiasi, termasuk mempertimbangkan diversifikasi pasar.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para menteri dan wakil menteri Kabinet Indonesia Maju, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, perwakilan LPS, serta berbagai pemangku kepentingan dari sektor ekonomi, serikat pekerja, pelaku usaha, dan analis pasar modal.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya