Berita

Pengamat militer Andi Widjajanto (tangkapan layar/RMOL)

Politik

Andi Widjajanto:

UU TNI Belum Sentuh Doktrin Pertahanan Hadapi Dinamika Global

SENIN, 24 MARET 2025 | 05:30 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

UU TNI yang baru disahkan DPR pada Kamis, 20 Maret 2025 lalu terus menimbulkan polemik di publik. 

Terutama dalam menjawab tantangan global yang semakin dinamis dengan pola doktrin yang tentunya sudah berubah.
 
Pengamat militer Andi Widjajanto mengulas hal tersebut dalam podcast yang dikutip dalam kanal Youtube Abraham Samad SPEAK UP, Senin, 24 Maret 2025. 


“Undang-undang Pertahanan dibuat tahun 2002, lalu undang-undang TNI nya sendiri dibuat 2004, 21 tahun (lalu). Jadi mestinya ada kesempatan bagi kita dengan menggunakan momentum revisi undang-undang TNI itu untuk sekaligus mengevaluasi 20 tahun Reformasi,” ujar Andi.

Mantan Gubernur Lemhannas itu menyoroti penurunan indeks demokrasi di Indonesia lima tahun terakhir di tengah upaya TNI yang semakin profesional. 
  
“Pertanyaan mendesaknya adalah 20 tahun Reformasi di ujungnya, di lima tahun terakhir, kita melihat ada kemunduran demokrasi. Semua indeks demokratisasi kita sampai tahun ini turun. Sementara TNI-nya sudah berusaha kita letakkan di koridor demokrasi, tapi kok demokrasinya menurun,” tegasnya.

Lanjut dia, TNI kini tidak lagi berpolitik praktis, berbisnis dan tidak memiliki doktrin dwifungsi yang tentunya tidak lagi bisa ditempatkan di banyak posisi (kementerian/lembaga).

“Kalau saya selalu berpendapat, undang-undang TNI itu sebaiknya dievaluasi dengan satu pertanyaan kritisnya. Doktrinnya berubah atau tidak? Karakter doktrinnya berubah atau tidak?” tegasnya lagi. 

“Kalau doktrin militer itu mau diubah, biasanya ada tiga variabel utama yang harus kita lihat. Apakah karakter ancaman berubah? Apakah karakter perang berubah? Dan yang ketiga adalah apakah ada lompatan teknologi baru? Nah, jadi misalnya di antara 2004 sampai 2020, ada satu kata yang muncul, yang 2004 sama sekali tidak ada, cyber,” bebernya.

Andi yang pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Kabinet di awal pemerintahan Joko Widodo itu melihat perkembangan dunia militer kini semakin dinamis. Sebagai contoh peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Bentuk peperangan tesebut sarat dengan penggunaan teknologi mutakhir.   

“Kita melihat adanya hipersonik, misalnya. Kita juga melihat terminologi baru seperti perang hibrida atau perang wilayah abu-abu. Ya, itu ada terminologi baru tersebut yang belum diadaptasi oleh organisasi militer,” ungkap dia. 

Oleh karena itu, ia menghendaki agar poin-poin tersebut seharusnya menjadi substansi dari UU TNI yang baru.

“Jadi (revisi UU TNI) tidak ngutak-ngatik konstruksi besar tentang doktrin, tidak ngutak-ngatik konstruksi besar tentang sistem pertahanan, dan seterusnya itu diasumsikan akan tetap status quo, walaupun ada banyak perubahan yang signifikan terjadi terutama di lingkungan global,” pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya