Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tolak Kanada dan AS, Thailand Malah Deportasi Uighur ke Tiongkok

RABU, 05 MARET 2025 | 16:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kanada dan Amerika Serikat telah menawarkan suaka kepada 48 etnis Uighur yang telah ditahan di Thailand selama lebih dari satu dekade. 

Namun, pemerintah Thailand memilih untuk mendeportasi mereka secara diam-diam ke Tiongkok minggu lalu, sebuah langkah yang menuai kritik internasional.

Menurut laporan Reuters pada Rabu, 5 Maret 2025, tawaran pemukiman kembali dari Kanada dan AS tidak diambil oleh Thailand karena kekhawatiran akan reaksi dari Tiongkok. 


Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pemerintahnya telah berulang kali menawarkan solusi bagi para Uighur tersebut. 

"Amerika Serikat telah bekerja sama dengan Thailand selama bertahun-tahun untuk menghindari situasi ini, termasuk dengan secara konsisten dan berulang kali menawarkan untuk memukimkan kembali warga Uighur di negara lain, termasuk, pada satu titik, Amerika Serikat," kata pejabat AS tersebut.

Selain AS dan Kanada, Australia juga dikabarkan telah menawarkan suaka kepada kelompok Uighur ini. Tetapi, semua tawaran tersebut tidak pernah diajukan secara resmi oleh Thailand kepada warganya, menurut beberapa sumber diplomatik.

Wakil Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, membela keputusan deportasi tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintahnya menunggu lebih dari 10 tahun tanpa ada tawaran konkret dari negara lain.

"Kami menunggu selama lebih dari 10 tahun, dan saya telah berbicara dengan banyak negara besar, tetapi tidak ada yang memberi tahu saya secara pasti," kata Phumtham.

Sementara itu, mantan Duta Besar Thailand untuk Kanada dan AS, Pisan Manawapat, mengungkapkan bahwa setidaknya tiga negara telah menawarkan pemukiman kembali bagi Uighur tersebut, tetapi pemerintah Thailand enggan mengambil keputusan yang dapat memperburuk hubungan dengan Tiongkok.

"Kami tidak ingin membuat marah Tiongkok," kata Pisan, seraya menyoroti hubungan perdagangan dan bisnis yang erat antara Bangkok dan Beijing.

Keputusan Thailand untuk mendeportasi para Uighur ini memicu reaksi keras dari berbagai kelompok hak asasi manusia dan PBB.

Para pakar hak asasi manusia PBB memperingatkan bahwa kelompok tersebut menghadapi risiko penyiksaan, perlakuan buruk, dan "kerugian yang tidak dapat diperbaiki" di Tiongkok.

Australia pun mengecam tindakan Thailand ini. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyatakan bahwa pemerintahnya "sangat tidak setuju" dengan keputusan tersebut.

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Bangkok dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa mereka hanya memulangkan "40 migran ilegal China yang tidak melakukan kejahatan serius" agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga mereka.

Setelah deportasi dilakukan, badan pengungsi PBB mengeluarkan pernyataan bahwa mereka telah berulang kali dilarang mengakses kelompok Uighur ini oleh otoritas Thailand. 

Seorang sumber menyebutkan bahwa karena larangan tersebut, badan pengungsi tidak dapat memproses status mereka sebagai pencari suaka, yang pada akhirnya memperumit proses pemukiman kembali mereka.

Kini, nasib para Uighur yang telah dideportasi ke Tiongkok masih menjadi perhatian global. Beberapa pihak mendesak agar Thailand dan negara-negara lain lebih proaktif dalam melindungi hak-hak para pengungsi Uighur yang masih tertahan.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Febrie Adriansyah Resmi Ajukan Gugatan Praperadilan ke PN Jaksel

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:27

Menko Polkam: Aktivitas Masyarakat Tetap Normal, Pasar dan Mal Ramai

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:26

Gelombang Reshuffle Berlanjut, Zelensky Pecat Dubes Ukraina untuk AS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:22

Harga Garam Brebes Anjlok saat Panen Raya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:16

Kelakuan SPPG di Ketapang: Rumah Wartawan Dikepung, Istrinya Diintimidasi

Rabu, 05 Agustus 2026 | 14:02

Situasi di Dalam Negeri Sangat-sangat Mantap

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:52

Laba Tergerus, Saham Lufthansa Anjlok 8 Persen

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:51

Kepemilikan Aset Tak Wajar Jadi Indikator Awal Pencucian Uang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:40

Api Membakar Lahan, Seorang Ayah Tak Pernah Pulang

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:31

Koperasi Merah Putih Dinilai Jadi Penentu Implementasi Pasal 33 UUD 1945

Rabu, 05 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya