Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Korupsi: Jalur Karier yang Paling Stabil dan Menguntungkan di Indonesia?

JUMAT, 28 FEBRUARI 2025 | 11:26 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Dalam lanskap ekonomi yang penuh ketidakpastian, di mana sektor usaha bisa runtuh akibat resesi atau kebijakan global yang berubah, ada satu industri yang tampaknya kebal terhadap guncangan, itu adalah korupsi. 

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sinis, tetapi kenyataannya, korupsi telah menjadi jalur karier yang lebih menjanjikan dibandingkan sektor-sektor lain yang menuntut kerja keras dan kompetensi.  

Analisis satir karya Leigh McKiernon dari StratEx Indonesia Headhunter berjudul "Korupsi sebagai Jalur Karier: Cara Sukses di Indonesia Tanpa Benar-benar Berusaha" mengungkap bagaimana sistem telah dirancang sedemikian rupa sehingga menghargai ketidakjujuran strategis dan mengamankan masa depan mereka yang bermain dalam aturan tak tertulis ini.  


Menurutnya, sebagian besar sektor industri di Indonesia mengalami naik-turun tergantung pada kondisi pasar, korupsi justru menjadi satu-satunya bidang yang selalu bertumbuh tanpa henti. 

"Mereka mengatakan sektor minyak dan gas mendorong Indonesia, tetapi mari kita jujur, korupsi adalah tulang punggung ekonomi yang sebenarnya. Tidak seperti minyak, korupsi tidak pernah kering, dan tidak seperti gas, korupsi tidak memerlukan ekstraksi yang rumi. Korupsi mengalir secara alami, dari dana publik ke kantong pribadi, tanpa proses perizinan," papar McKiernon dalam tulisan yang ia unggahan di akun LinkedIn, seperti dikutip redaksi pada Jumat, 28 Februari 2025.

Pernyataan ini mencerminkan bagaimana dana publik sering kali dialihkan ke rekening-rekening pribadi melalui berbagai modus, mulai dari penggelembungan anggaran proyek infrastruktur hingga pengadaan fiktif. 

Sementara sektor lain harus berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi, korupsi tetap menawarkan keamanan kerja yang luar biasa, sebuah karier yang nyaris tanpa risiko jika dimainkan dengan baik.  

Menurut pandangan McKiernon, jalur menuju kesuksesan melalui korupsi jauh lebih sederhana dibandingkan dengan membangun bisnis atau meniti karier secara konvensional. Ada beberapa langkah kunci yang disebutkan untuk "berhasil" dalam industri ini. 

1. Masuk ke Industri yang Mengelola Uang Publik

Dikatakan bahwa sektor seperti energi, infrastruktur, dan perusahaan milik negara (BUMN) sering kali menjadi sarang empuk bagi praktik korupsi. Anggaran besar dan audit yang lambat membuat dana dapat dialihkan dengan mudah tanpa terdeteksi.  

"Industri terbaik bukanlah industri yang menciptakan nilai, tetapi industri yang mengelola uang orang lain?"sebaiknya dana pembayar pajak," tulisnya. 

2. Memiliki Jaringan yang Kuat
 
Dalam dunia korupsi, keberhasilan tidak ditentukan oleh keahlian atau prestasi, melainkan oleh seberapa kuat jaringan yang dimiliki.

Menurut penulis, hubungan dengan pejabat berpengaruh, aparat hukum, dan tokoh politik adalah kunci utama agar seseorang tetap aman dalam permainan ini.  

"Lupakan kredensial, gelar, atau etos kerja. Mata uang korupsi yang sebenarnya adalah koneksi," kata dia.

3. Menguasai Seni Penghilangan Anggaran

McKiernon mengatakan strategi seperti menaikkan harga kontrak pengadaan, menggunakan karyawan fiktif, atau menciptakan proyek-proyek yang tidak pernah terealisasi menjadi metode klasik dalam skema korupsi tingkat tinggi

"Tidak ada yang mengatakan 'Saya siap untuk liga besar' seperti membuat miliaran menghilang tanpa jejak," paparnya.

4. Menciptakan Normalisasi Budaya Korupsi

Ini adalah trik terbesar dalam dunia korupsi, membuatnya begitu umum hingga tidak lagi dianggap sebagai kejahatan, melainkan sebagai bagian dari "cara kerja sistem."  

"Jika cukup banyak orang yang mendapat manfaat dari sistem, tidak akan ada yang punya insentif untuk mengubahnya," kata McKiernon.   

Lebih lanjut dalam artikelnya, McKiernon menyoroti bahwa integritas bukanlah jaminan kesuksesan, melainkan justru bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan karier seseorang.

"Pernah melihat seorang whistleblower pensiun dengan nyaman? Tidak? Tepat sekali. Itu karena integritas membuat Anda dipecat, dituntut, atau secara misterius dipindahkan ke pedesaan," jelasnya.

Kasus-kasus seperti penuntutan terhadap pelapor kasus korupsi atau pembungkaman terhadap jurnalis investigatif semakin memperkuat anggapan bahwa mereka yang mencoba melawan sistem ini justru akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. 

Meskipun analisis ini disajikan dalam gaya satir yang tajam, realitasnya memang menunjukkan bahwa korupsi tetap menjadi tantangan besar di Indonesia.

Upaya pemberantasan korupsi sering kali terhambat oleh berbagai faktor, termasuk lemahnya penegakan hukum dan tingginya tingkat kompromi politik.  

Namun, masih ada harapan. Reformasi kebijakan yang lebih tegas, penegakan hukum yang tidak tebang pilih, serta partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi penggunaan dana publik dapat menjadi langkah awal untuk mengubah sistem yang telah tertanam begitu dalam ini.  

Sebagai penutup, artikel tersebut memberikan refleksi yang cukup menohok: "Pada akhirnya, sistem tidak hanya mendorong korupsi. Itu tergantung padanya. Dan jika Anda masih berpegang teguh pada gagasan 'melakukan hal yang benar,' yah.. semoga berhasil."

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya