Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Kantong Falah

JUMAT, 28 FEBRUARI 2025 | 04:37 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI suatu desa di Jawa Tengah, Falah mengabdikan hidupnya sebagai petani. Lelaki 45 tahun itu tak pernah bercita-cita menjadi miliarder atau membeli mobil mewah. Cita-citanya sederhana: hidup tanpa dihantui tagihan rentenir dan cengkeraman tengkulak. Tapi bagi seorang petani kecil, itu saja sudah terasa seperti bermimpi menjadi presiden.

Selama bertahun-tahun, hidupnya bak sinetron dengan alur yang sama: panen tiba, harga gabah anjlok, biaya produksi meroket, dan hasil yang didapat tak sebanding dengan kerja kerasnya. Mayoritas petani Indonesia bernasib serupa, dengan lahan pertanian yang tak lebih luas dari halaman rumah pejabat.

Di Indonesia, jumlah petani mencapai 27,8 juta orang (BPS, 2023). Seperti Falah, rata-rata mereka hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare. Sebanyak 4,34 juta petani memiliki lahan di kisaran 0,5-0,99 hektare. Sekitar 3,81 juta lainnya memiliki lahan 1-1,99 hektare, sedangkan hanya 1,5 juta petani yang menggarap lahan 2-2,99 hektare.


Tahun ini, ada kejutan besar: pemerintah menetapkan harga gabah Rp 6.500/kg tanpa syarat. Ini bukan sekadar kebijakan, melainkan revolusi kecil yang membuat para petani seperti Falah bisa bernapas lebih lega. Jika sebelumnya harga gabah sering dimainkan di kisaran Rp 4.500–Rp 5.000/kg, kini petani punya pegangan yang lebih jelas.

Falah pun segera menghitung: dengan lahan 0,5 hektare dan rata-rata produksi 3 ton per musim, kini ia bisa mendapatkan Rp 19,5 juta per panen. Sebelumnya, dengan harga Rp 5.000/kg, hasil panennya hanya bernilai Rp 15 juta. Selisih Rp 4,5 juta ini mungkin kecil bagi mereka yang tiap minggu makan di restoran mahal, tapi bagi Falah, ini perbedaan antara bisa membeli pupuk cukup atau kembali berutang.

Tentu, bertani tidak gratis. Biaya produksi —termasuk benih, pupuk, buruh tani, dan sewa lahan jika bukan milik sendiri— bisa mencapai Rp 8-9 juta per 0,5 hektare. Dengan harga gabah baru ini, keuntungan bersih Falah sekitar Rp 10 juta per musim. Jika ia bisa panen dua kali setahun, ia bisa mengantongi sekitar Rp 20 juta.

Sekilas, ini tampak seperti perubahan besar. Tapi apakah ini cukup untuk benar-benar menyejahterakan petani? Dengan biaya hidup yang terus meningkat, Rp 20 juta setahun bagi keluarga dengan dua anak dan kebutuhan pendidikan tentu masih jauh dari ideal. Apalagi jika harga pupuk, sewa lahan, dan biaya lainnya terus merangkak naik.

Namun, ada cara agar keuntungan bertani bisa meningkat lebih besar lagi: beralih ke pertanian organik. Saat ini, pupuk, pestisida, dan herbisida kimia merupakan beban terbesar bagi petani, dengan harga yang terus naik dan distribusi yang sering kacau. Biaya pupuk untuk 0,5 hektare bisa mencapai Rp 3-4 juta, plus pestisida dan herbisida Rp 750 ribu.

Jika Falah beralih ke pupuk alami yang dibuat sendiri —seperti kompos dari kotoran ternak atau fermentasi jerami— biaya produksinya bisa turun hingga 30-50 persen. Artinya, dari yang semula menghabiskan Rp 8-9 juta per musim, ia bisa memangkas biaya hingga Rp 4-5 juta. Keuntungan bersihnya pun melonjak.

Namun, peralihan ke pertanian organik tidak bisa hanya bergantung pada inisiatif petani. Pemerintah harus turun tangan dengan perencanaan yang matang. Sri Lanka pernah mencoba beralih sepenuhnya ke pertanian organik, tetapi gagal karena kebijakan yang tiba-tiba tanpa persiapan.

Sebaliknya, India, Korea Selatan, Vietnam, Jepang, dan Thailand berhasil menerapkan pertanian organik secara bertahap. Pemerintah di negara-negara tersebut memberikan insentif bagi petani, seperti subsidi pupuk alami yang lebih menarik, pelatihan pembuatan pupuk organik, serta jaminan pasar bagi hasil panen organik.

Jika Indonesia ingin mengikuti jejak negara-negara yang sukses, pemerintah harus membuat kebijakan yang terintegrasi. Pertama, memberikan subsidi dan pendampingan bagi petani yang mau beralih ke pupuk organik. Penyuluh pertanian harus dibekali pelatihan komunikasi yang memadai untuk mempromosikan pertanian organik.

Kedua, memastikan akses pasar yang stabil, misalnya dengan mewajibkan Bulog menyerap beras organik dengan harga lebih tinggi. Ketiga, melibatkan pesantren, koperasi, dan kelompok tani dalam produksi pupuk alami untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Harga gabah Rp 6.500/kg sudah merupakan langkah awal yang baik. Tetapi, jika pemerintah serius ingin menyejahterakan petani, kebijakan ini harus diikuti dengan reformasi pertanian yang lebih luas. Bukan hanya memastikan harga jual yang layak, tetapi juga menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing petani.

Dengan strategi yang tepat, petani seperti Falah tak hanya bisa hidup lebih baik, tetapi juga membantu menciptakan masa depan pertanian yang lebih sehat, berkelanjutan, dan mandiri. Bayangkan jika dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia tak hanya dikenal sebagai negara agraris, tetapi juga sebagai pelopor pertanian organik.

Pengalaman di banyak negara telah membuktikan bahwa pertanian organik menguntungkan petani dan menyelamatkan lingkungan. Ini bukan sekadar mimpi —ini revolusi yang harus kita wujudkan.


*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya