Berita

Ilustrasi mobil otonom level 5/Net

Publika

Ini Bukan Sihir, Kendaraan Nirsopir Sudah Hadir

OLEH: ROSDIANSYAH
KAMIS, 27 FEBRUARI 2025 | 11:16 WIB

KENDARAAN otonom kini menarik perhatian masyarakat. Berkat kemajuan teknologi, kendaraan ini bisa melaju di jalan tanpa sopir atau pengemudi. Cukup instruksi diberikan sebelum berkendara. Bisa lewat teks atau suara, piranti pengenal suara atau teks yang terhubung pada peta segera memproses secepat mungkin. Dan penumpang tinggal duduk nyaman sambil menikmati pemandangan selagi kendaraan melaju di jalan.

Suasana semacam itu mungkin baru kita lihat di film-film lima dekade silam. Film genre futuristik mempertontonkan kendaraan atau mobil canggih tanpa pengemudi. Bisa diperintah untuk mendekat, belok, atau melaju cepat. Kini, teknologi mobilitas semacam itu sudah tersedia. Berbagai perusahaan otomotif kelas dunia mulai berlomba menciptakan kendaraan canggih tersebut.

Ada beberapa level atau tingkat otonomi kendaraan. Otonom sebagian, ini level dua. Pada tingkat ini, kendaraan dapat berpindah jalur atau mengerem sendiri dalam situasi tertentu. Kemudian, tingkat tiga, yakni otomatisasi bersyarat. Kendaraan dapat menyalip, mengerem, dan mempercepat. 


Lalu, tingkat empat, otomatisasi tinggi, yaitu ketika kendaraan dapat mengatasi sendiri jika terjadi kegagalan sistem atau terjadi kesalahan. Nah, tingkat lima, ini tingkat tertinggi, tatkala kendaraan dapat melaju tanpa pengemudi.

Coba bayangkan, kendaraan tanpa pengemudi melaju sesuai instruksi yang diberikan. Tanpa pengemudi di depan setir atau kemudi. Selama dalam perjalanan, kendaraan mampu mendeteksi situasi, mengetahui rambu-rambu, dan berhenti saat lampu merah. Semua regulasi di jalan dipatuhi, kendaraan nirsopir ini seperti dalam film horor. Tentu bisa bikin kaget. Melaju sendiri, mematuhi rambu dan bisa berhenti sewaktu-waktu sesuai instruksi jarak jauh.

Selama ini, berbagai aturan atau regulasi melekat pada pengemudi. Seperti Surat Izin Mengemudi (SIM). Tiap pengemudi kendaraan wajib punya SIM. Tujuannya, ada pengakuan dari otoritas pemerintah, bahwa pemegang SIM punya keterampilan dan hak untuk memakai jalan. 

Semua aturan mengemudi, kesantunan di jalan, dan berbagai regulasi lainnya yang terkait kendaraan, melekat pada pengemudi. Tanggung jawab pemakaian kendaraan, juga melekat pada pengemudi.

Sejumlah pertanyaan pun lantas mencuat. Kenapa jalan disebut ruang publik? Apa yang dimaksud publik dalam kaitan itu? Bagaimana karakter publik yang mempengaruhi interaksi manusia? Bagaimana jika kendaraan melaju tanpa pengemudi bisa masuk ke dalam kategori publik? Bagaimana jika kendaraan tanpa pengemudi menghadapi persoalan di jalan? Siapa yang bertanggung-jawab? 

Nah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul seiring dengan kian menguatnya kendaraan nirsopir menjadi perhatian publik.

Dua pakar hukum, Guy Seidman dan Aviv Gaon, mengulasnya dalam buku "The Social and Legal Impact of Autonomous Vehicles". Ada empat bagian yang dibahas. Bagian pertama, kedua penulis membahas ihwal pro-kontra kendaraan otonom. Ada pandangan pesimis yang melihat kendaraan otonom kurang bermanfaat untuk manusia. Namun, ada pula pandangan optimis yang justru melihat kendaraan otonom bisa mengurangi risiko di jalan. 

Bagian kedua, dibahas tentang nilai ekonomis kendaraan otonom. Tentu, ini soal duit. Bukan cuma harga pembelian, tapi juga biaya perawatan atau pemeliharaan.

Ketiga, soal hukum berkendara. Hukum lalu-lintas sampai saat ini tertuju pada manusia pengguna jalan. Regulasi atau aturan yang ada memberi hak sekaligus kewajiban pada pengendara atau pengemudi kendaraan. Dan regulasi yang ada masih melihat kendaraan tergantung pemakainya. Pemakaian di jalan buruk, maka konsekuensinya pemakai melanggar aturan berlalu-lintas. Aturan belum menyasar pada otonomi kendaraan. Masih tergantung pada pemakai. 

Keempat, kendaraan otonom bisa berdampak pada isolasi sosial. Kendaraan otonom tak butuh pengemudi.

Jika kendaraan otonom berfungsi mengantar barang, saat fungsi berjalan baik, penerima barang tak perlu basa-basi atau sekadar bertegur sapa dengan kendaraan. Barang diterima, kendaraan kembali beranjak. Tak ada interaksi manusia dengan teknologi. 

Andai dalam kendaraan otonom juga terpasang mode ngobrol dengan penerima barang. Obrolan belum tentu seakrab dengan manusia. Situasi ini membentuk isolasi sosial. Kendaraan otonom berfungsi maksimal, tanpa sentuhan sosial.

Sejarah kelahiran kendaraan otonom memang tak bisa dilepaskan dari hubungan antara manusia dengan kendaraan. Kedua penulis buku ini menunjukkan tingkat demi tingkat dalam hubungan itu. Setiap tingkat menunjukkan pemenuhan kebutuhan manusia terhadap ''keterampilan'' kendaraan. Sampai pada tingkatan mutakhir, kendaraan telah full otomatisasi. Berbagai sensor ditanam dalam kendaraan tersebut yang bertujuan mengenal situasi di jalan.

Human error dalam kecelakaan lalu-lintas sering menjadi alasan utama kenapa kendaraan otonom ini dikembangkan. Menurut kedua penulis buku ini, human error itu sesungguhnya juga menunjukkan tingkat stres pengemudi meningkat saat berkendara. Akibatnya, terjadi inefisiensi dalam arus lalu-lintas. Sedangkan mesin punya potensi lebih baik dan aman ketimbang manusia, saat berkendara.

Akhirulkalam, dari buku ini terbaca optimisme kedua penulis terhadap masa depan berkendara secara aman dan nyaman. Kendaraan otonom menjadi pilihan untuk itu. Hanya saja, kecepatan manusia merilis regulasi atau aturan untuk kendaraan otonom boleh jadi tidak secepat serta seakurat kendaraan otonom itu melaju di jalan. Walahul alam bisawab!

*Penulis adalah periset

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Olah TKP Freeport

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16

Rismon Rela Dianggap Pengkhianat daripada Menyembunyikan Kebenaran

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:14

Bandung Dalam Diplomasi Konfrontasi dan Kemunafikan Diplomasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:05

Roy Suryo Tegaskan Permintaan Maaf Rismon ke Jokowi Bersifat Pribadi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:00

KPK Panggil Pengusaha James Mondong dalam Kasus Suap Impor di Bea Cukai

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:54

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:47

EMAS Rampungkan Fase Konstruksi, Fokus Kejar Target Produksi

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:40

DPR Jangan Pilih Lagi Anggota KPU yang Tak Profesional!

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:29

Kapolri dan Panglima TNI Pantau Pelabuhan Merak Via Helikopter

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:23

Trump Yakin Pemimpin Baru Iran Masih Hidup tapi Terluka Parah

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:17

Selengkapnya