Berita

Ilustrasi/Net

Global

WNA India Terjerat Kasus Penggelapan Dana Perusahaan Arab Saudi di Indonesia

MINGGU, 16 FEBRUARI 2025 | 15:28 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perusahaan besar Arab Saudi yang telah berinvestasi di Indonesia sejak 2012 melaporkan dua warga negara asing (WNA) asal India, Abdul Samad dan Samsu Hussain, ke Polda Metro Jaya atas dugaan penggelapan dana.

Laporan tersebut dilayangkan pada 17 Oktober 2022 dengan nomor laporan No.LP/B/5281/X/2022/SKPT melalui kantor advokat Abraham Sridaja.

Disebut bahwa kerugian yang dialami perusahaan Arab Saudi tersebut ditaksir mencapai 62.000.000 dolar AS atau sekitar Rp967 miliar.


Dugaan tindak pidana yang dilaporkan mencakup menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik dan penggelapan dalam jabatan yang melanggar Pasal 266 KUHP dan/atau Pasal 374 KUHP.

“Laporan polisi itu bernomor No.LP/B/5281/X/2022/SKPT tentang dugaan tindak pidana menempatkan keterangan palsu ke dalam akta otentik dan atau penggelapan dalam jabatan yang melanggar pasal 266 KUHP dan atau pasal 374 KUHP,” bunyi laporan tersebut yang dikutip redaksi pada Minggu, 16 Februari 2025.

WNA India Abdul Samad dan Samsu Hussain sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur dan Direktur di perusahaan besar Arab Saudi tersebut.

Keduanya dilaporkan terkait perjanjian perdamaian homologasi yang sesuai dengan putusan PKPU No.164/PDT-SUS.PKPU/2021/PN.NIAGA.JKT.PST di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Mereka diduga membuat dan menggunakan surat palsu dalam perkara PKPU, yang mengakibatkan perusahaan harus membayar tagihan sebesar Rp17 miliar.

Kasus ini ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Abdul Samad dan Samsu Hussain telah ditetapkan sebagai tersangka dan sempat ditahan oleh Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Namun, kasus ini memunculkan dugaan adanya permainan di Polda Metro Jaya. Kedua tersangka dibebaskan melalui mekanisme perdamaian atau restorative justice pada tahun 2023, tanpa sepengetahuan dan keterlibatan pemilik perusahaan Arab Saudi.

"Mekanisme perdamaian restorative justice yang diputuskan oleh Polda Metro Jaya dilakukan tanpa sepengetahuan dan melibatkan pemilik dari perusahaan besar Arab Saudi," ujar sumber dari pihak yang dirugikan.

Pemilik perusahaan menyatakan hingga kini belum menerima pengembalian kerugian dari kedua tersangka. Dugaan adanya campur tangan salah satu petinggi partai besar di Indonesia semakin memperkuat kecurigaan adanya intervensi dalam penanganan kasus ini.

"Ada dugaan keterlibatan salah satu petinggi partai besar di Indonesia sehingga terjadi perdamaian yang tidak melibatkan pemilik perusahaan. Selain itu, tidak ada pengembalian dalam bentuk apapun dan perkara ini dihentikan," tambah sumber tersebut.

Atas dasar fakta-fakta ini, pemilik perusahaan mengganti pengurus dan kembali melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya.

Namun hingga setahun berjalan, laporan tersebut tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Sebaliknya, laporan sebelumnya yang diduga mendapat pengawalan dari petinggi partai besar di Indonesia, langsung diproses dan dalam waktu kurang dari sebulan kedua WNA asal India itu ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Pihak perusahaan juga telah mengajukan pengaduan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri atas penghentian laporan dan mekanisme restorative justice yang dilakukan tanpa melibatkan pemilik perusahaan sebagai korban. Sayangnya, pengaduan tersebut juga dihentikan tanpa tindak lanjut lebih jauh.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya