Berita

Ilustrasi/AI

Publika

Larang Sana, Larang Sini

RABU, 05 FEBRUARI 2025 | 09:35 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DUNIA teknologi sedang menyaksikan sebuah drama besar: Amerika Serikat (AS), sang penjaga gerbang inovasi, berusaha mengunci pintu rapat-rapat, sementara China, dengan senyum dermawan, justru membuka gerbangnya selebar-lebarnya. Dunia menonton persaingan ini dengan kepalan tangan, "Yes!"

Episode terbaru dari saga ini menampilkan DeepSeek, startup AI asal China yang sukses menarik perhatian global. Namun, alih-alih menyambut inovasi ini dengan tangan terbuka, AS justru memilih menebarkan larangan. Pertanyaannya: sampai kapan AS bisa terus bermain sebagai "polisi AI dunia" tanpa merugikan dirinya sendiri?

Ketika DeepSeek, diikuti Qwen, melesat sebagai pemain utama dalam teknologi AI, banyak yang terkejut melihat reaksi berlebihan dari Washington. NASA buru-buru melarang penggunaan DeepSeek dengan alasan keamanan nasional, sementara Angkatan Laut AS juga menginstruksikan personelnya untuk menjauhi teknologi ini. 


Senat AS juga ribut. Senator Josh Hawley mengajukan rancangan Undang-undang yang melarang perusahaan AS berinvestasi di sektor AI China. Bahkan, dia meminta pemerintah mengenakan ancaman sanksi 1 juta dolar dan penjara bagi warga AS yang ketahuan mengunduh DeepSeek. Entah kenapa, dia tidak menyertakan nama AI lainnya, Qwen.

Jika ini bagian dari episode dari serial drama geopolitik, maka AS jelas sedang berperan sebagai "antagonis defensif" yang panik melihat lawannya berkembang terlalu cepat. Dengan Donald Trump sebagai presiden yang berlagak seperti pesilat mabuk, Amerika terlihat makin kacau, makin jauh dari cita-cita "great again."

Pasalnya, larangan-larangan yang diberlakukan Amerika ini justru memunculkan pertanyaan: apakah proteksionisme ini efektif? Fakta menunjukkan bahwa AS telah mencoba strategi serupa terhadap Huawei dan TikTok, tetapi hasilnya justru berbanding terbalik. Perang tarif mereka pun dipastikan akan gagal.

Bukannya melemah, China justru semakin kreatif dan mandiri dalam mengembangkan teknologinya. Seperti kata Fu Cong, perwakilan tetap China di PBB, "Jangan pernah meremehkan kecerdikan ilmuwan dan insinyur China." Ini menunjukkan, China sendiri tak akan menyerah, bahkan semakin berpengalaman, menghadapi segala pembatasan AS.

Perbedaan pendekatan antara AS dan China dalam AI semakin jelas: AS bersikeras mempertahankan model tertutup, sedangkan China justru mengadopsi pendekatan open-source. DeepSeek, misalnya, mengusung prinsip berbagi teknologi dengan komunitas global, memberikan kesempatan bagi pengembang di berbagai belahan dunia untuk ikut serta dalam revolusi AI.

Di sisi lain, perusahaan AI asal AS seperti OpenAI justru semakin eksklusif, menutup akses ke model-model terbaru mereka. Ironisnya, sementara AS menuduh China tidak transparan, justru China yang kini terlihat lebih inklusif. 

Dampaknya? Narasi global pun bergeser: China yang sejak dulu dikenal sebagai negeri komunis tampak sebagai sosok dermawan yang membagikan teknologi, sementara AS sebagai negeri kapitalis semakin terkesan pelit dan paranoid.

Reaksi AS terhadap DeepSeek bukan hanya soal persaingan teknologi, tapi juga soal citra dan kepercayaan global. Banyak negara di Global South melihat langkah AS sebagai bentuk ketakutan yang berlebihan, sementara pendekatan China lebih menarik karena memberi kesempatan bagi negara berkembang ikut serta dalam revolusi AI.

Tidak heran jika raksasa teknologi seperti Microsoft, Nvidia, dan Amazon tetap memilih mengadopsi model reasoning terbaru dari DeepSeek, terlepas dari tekanan politik di Washington. Jika tren ini terus berlanjut, AS bisa kehilangan daya tariknya sebagai pusat inovasi global, karena dunia tidak akan menunggu negara yang terlalu sibuk menutup pintu untuk melindungi dirinya sendiri.

Sejarah telah membuktikan bahwa proteksionisme teknologi lebih sering gagal daripada berhasil. AS mungkin bisa memperlambat laju China dengan berbagai larangan, tetapi tidak bisa menghentikan inovasi yang sudah menjadi arus utama. 

Sebaliknya, semakin banyak larangan yang diberlakukan, semakin besar simpati dunia terhadap China, yang kini tampil sebagai pemimpin teknologi yang lebih terbuka. Tak peduli China itu Embahnya negeri komunis.

Jika AS ingin tetap relevan dalam perlombaan AI, mungkin sudah saatnya mengubah pendekatan. Alih-alih menutup pintu, mengapa tidak mulai membuka dialog dan membangun model kerja sama yang lebih sehat? Boleh jadi, pada akhirnya AS meninggalkan gaya gertaknya?

Karena jika terus menerapkan strategi "banned here, banned there," larang sana, larang sini, maka jangan heran jika dunia pada akhirnya akan memilih berpaling dan mencari alternatif yang lebih ramah serta terbuka. Dan China menyediakan apa yang mereka cari.

Sampai kapan AS ingin terus main "kucing-kucingan" dengan inovasi? Dunia sedang menunggu jawaban.

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya