Berita

Menteri Agama Nasaruddin Umar/Ist

Publika

Cinta Roh Utama Sistem Pendidikan di Indonesia

Konsep Pendidikan Transformatif ala Nasaruddin Umar
SENIN, 03 FEBRUARI 2025 | 19:03 WIB | OLEH: PROF ANDI SALMAN MAGGALATUNG

KURIKULUM berbasis cinta mengarusutamakan bagaimana cinta menjadi spirit dalam dunia pendidikan di Indonesia dapat tumbuh dengan pola pikir yang inklusif dan mampu memandang perbedaan sebagai bagian dari keragaman dan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dirawat.

Kurikulum berbasis cinta merupakan sebuah gagasan inovatif dalam dunia pendidikan yang digagas oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof Nasaruddin Umar. Konsep ini menyoroti pentingnya nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan kedamaian dalam proses pembelajaran.

Kurikulum Cinta bertujuan untuk menumbuhkembangkan atau melahirkan generasi muda yang memiliki karakter mulia, mampu menghargai sebuah perbedaan berdasarkan cinta, dan berkontribusi positif bagi masyarakat yang floral atau yang beragam.


Dalam era kepemimpinan Prof Nasaruddin Umar sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, menyampaikan konsep baru kurikulum yang akan digagas pada pendidikan di lingkup Kementerian Agama. Mempromosikan dan mengarusutamakan bagaimana cinta menjadi spirit dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di dunia pendidikan.

Nasaruddin meyakini bahwa semua agama mengajarkan cinta kasih dan kebaikan bagi umatnya. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Dalam berbagai kesempatan Imam Besar Masjid Istiqlal ini meyakini betul bahwa semakin dekat dan sadar penganut agama terhadap ajaran agamanya masing-masing, maka dunia ini akan damai dan sejuk, yang boleh jadi mungkin negara tidak memerlukan lagi polisi.

Tantangan ke depan adalah bagaimana mengonsolidasi ajaran agama kepada masyarakat secara mendalam. Gagasan berlian ini lahir dari pengalaman hidup sebagai ulama, tokoh agama, Imam Besar Istiqlal, dan juga sebagai akademisi.

Kegelisahan Rektor PTIQ ini terhadap dua fenomena global yang melilit serta merusak tatanan cinta dan kasih. Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.

Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang, maka pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia.

Nasaruddin Umar anak kampung dari Desa Ujung Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan yang saat ini bagian dari Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto terdengar serius mengampanyekan ide kurikulum berbasis cintanya untuk memberikan warnah kesejukan di muka bumi Indonesia tercinta.

Yang paling fenomenal dan tidak akan terlupakan oleh sejarah peradaban dunia, adalah ciuman Nasaruddin pada jidat Paus yang berbalas dengan ciuman Paus pada tangannya, dua lakon tokoh dunia agama ini yang kalau dihayati dan dikaji secara mendalam dapat diyakini setara menuju dan mengalir pada satu muara yang disebut “CINTA”.

Mencium kening seseorang sudah pasti dilatari oleh motif kasih, dan mencium tangan orang lain adalah lambang sebuah kepedulian. Kasih dan kepedulian merupakan dua penopang utama untuk dapat merasakan ketulusan akan cinta kasih. Tidak ada cinta tanpa rasa mengasihi, dan tidak ada cinta sejati tanpa mencontohkan kepedulian pada siapa yang dicintai.

Lahirnya "Deklarasi Istiqlal" yang sangat bersejarah itu didasari oleh kegelisahan seorang anak manusia bernama Nasaruddin Umar terhadap dua fenomena global yang mencabik-cabik dan merusak tatanan cinta kasih. Gagasan besar ini hadir dideklarasikan di Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar kelima dunia yang menjadi visi sang ulama kharismatik Anre Gurutta Nasaruddin.

Ditandai dengan ragam kekerasan dan konflik yang mencabik-cabik harkat dan martabat kemanusiaan mendistorsi agama menjadi sebuah alat kekerasan dan permusuhan.

Nasaruddin, menjadikan kurikulum berbasis cinta sebagai "kendaraan" dalam mewujudkan ajaran cinta yang mana merupakan pilihan yang sangat tepat, karena kurikulum adalah roh utama dalam sistem pendidikan.

Penanaman nilai-nilai agama, maka kurikulum semacam ini menekankan pentingnya nilai-nilai agama dalam membentuk karakter peserta didik. Namun, bukan berarti memaksakan satu agama tertentu, melainkan mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang universal.

Kaka dari itu, pengembangan empati peserta didik diajak untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, sehingga mampu membangun relasi yang harmonis, dan peningkatan toleransi.

Kurikulum berbasis cinta mendorong peserta didik untuk menghargai perbedaan agama, suku, bahasa, dan budaya, serta dapat menyelesaikan konflik secara damai yang didasari dengan cinta.

Saya mengakhiri tulisan saya ini, Insyaallah semoga tidak keliru dengan penuh keyakinan bahwa ketulusan Prof Nasaruddin ini dalam memberikan sebuah terobosan gagasan-gagasan besarnya dalam memaknai Kurikulum Berbasis Cinta dari kita untuk belajar memaknai pentingnya ketulusan cinta dalam konteks ini.

Harapan besar Kurikulum Berbasis Cinta ini hadir memiliki potensi besar untuk mengubah wajah manis pendidikan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari semua pihak anak bangsa untuk mewujudkan Kurikulum Berbasis Cinta.

Kesimpulan saya dalam Kurikulum Cinta ini merupakan sebuah konsep pendidikan yang begitu relevan dengan tantangan zaman saat ini.

Dengan menanamkan nilai-nilai cinta dan kasih sayang dan menjunjung tinggi nilai toleransi sejak dini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia Indonesia yang berkarakter mulia dan cinta kasih mampu membangun masa depan bangsa dan negara yang lebih cemerlang dan dapat dikagumi oleh negara-negara besar dunia lainnya. 

*Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Tenaga Ahli Menteri Agama RI

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya