Berita

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel/Net

Dunia

Kuba Kecam Langkah AS Perketat Blokade Ekonomi

SENIN, 03 FEBRUARI 2025 | 11:07 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Kuba dengan tegas menolak keputusan terbaru Amerika Serikat yang memperketat blokade ekonomi terhadap negara tersebut. 

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada 31 Januari 2025 mengumumkan pencabutan penangguhan gugatan berdasarkan Title III of Helms-Bolton Act, serta menambahkan perusahaan pemrosesan pengiriman uang Kuba, Orbit S.A., ke dalam Daftar Entitas Kuba yang Dibatasi. 

Title III of Helms-Bolton Act adalah undang-undang yang disahkan pada 1996, yang menetapkan embargo terhadap Kuba.


Sejak 1996, pemerintah AS tetap menangguhkan penerapan undang-undang itu untuk mencegah tindakan yang memungkinkan warga AS menuntut perusahaan dan individu asing karena perdagangan properti yang disita oleh pemerintah Kuba beberapa dekade lalu.

Langkah yang diterapkan pemerintah baru AS untuk menerapkan kembali Helms-Burton Act dipandang sebagai upaya tambahan untuk menghambat pembangunan ekonomi Kuba dan memperburuk kondisi kehidupan rakyatnya.  

Dalam pernyataan resmi, pemerintah Kuba mengutuk tindakan AS sebagai langkah agresif yang bertujuan menciptakan keresahan sosial serta menekan ekonomi negara secara tidak sah. 

"Ini bukan hanya serangan terhadap Kuba, tetapi juga terhadap hukum internasional dan prinsip kedaulatan," tegas pernyataan yang dilihat redaksi pada Senin, 3 Februari 2025. 

Kuba menilai langkah ini tidak hanya mengancam stabilitas hubungan bilateral tetapi juga melanggar hak rakyat Kuba untuk menerima dukungan finansial dari keluarga mereka di luar negeri. 

"Tindakan ini merupakan bentuk intimidasi yang bertujuan menghalangi investasi asing dan merusak perekonomian kami," lanjut pernyataan tersebut.  

Sejak diberlakukannya kembali Judul III Undang-Undang Helms-Burton pada tahun 2019, sekitar 45 tuntutan hukum telah diajukan di pengadilan AS, sebagian besar terhadap perusahaan-perusahaan Amerika sendiri. 

Langkah ini pun bertentangan dengan keinginan banyak pelaku bisnis AS yang ingin menjalin kerja sama ekonomi dengan Kuba.  

PBB, organisasi internasional, dan negara-negara sekutu telah berulang kali mengecam kebijakan AS yang dianggap bersifat ekstrateritorial dan melanggar aturan perdagangan global. 

Sejumlah negara, seperti Spanyol, Swiss, Kanada, Inggris, Jerman, dan Prancis, telah mencapai kesepakatan kompensasi dengan Kuba terkait nasionalisasi aset setelah Revolusi 1959, sesuatu yang hingga kini ditolak oleh Washington.  

Kuba menegaskan kembali Undang-Undang No. 80 tentang Penegasan Martabat dan Kedaulatan Kuba, yang menyatakan bahwa: "tidak ada klaim terhadap properti nasionalisasi yang akan diakui oleh pemerintah Kuba". 

Selain itu, pemerintah juga mengingatkan tentang keputusan Pengadilan Provinsi Rakyat Havana pada 1999, yang menuntut AS untuk membayar ganti rugi sebesar 181,1 miliar dolar atas kerusakan manusia dan 121 miliar dolar atas kerusakan ekonomi yang diakibatkan oleh blokade berkepanjangan.  

"Kami tidak akan tunduk pada intimidasi atau tekanan ekonomi,"** tegas pemerintah Kuba dalam pernyataan resminya. 

"Rakyat Kuba telah bertahan selama lebih dari enam dekade menghadapi blokade yang tidak adil ini, dan kami akan terus mempertahankan hak kami dengan keteguhan dan martabat," tambahnya.

Pemerintah Kuba mengajak masyarakat internasional untuk bersatu dalam menolak kebijakan AS yang dinilai tidak adil, sewenang-wenang, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. 

"Mereka mungkin mencoba menciptakan lebih banyak penderitaan dengan kebijakan mereka yang kejam dan pengecut, tetapi mereka tidak akan pernah membuat Kuba bertekuk lutut," pungkasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya