Berita

Ilustrasi/RMOL

Tekno

DeepSeek Bikin Cemas Amerika, Gedung Putih Langsung Gerak Cepat

RABU, 29 JANUARI 2025 | 09:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kehadiran aplikasi chatbot asal Tiongkok, DeepSeek, telah menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat terkait implikasi keamanan nasional. 

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Dewan Keamanan Nasional sedang meninjau dampak munculnya aplikasi kecerdasan buatan tersebut bagi keamanan Amerika Serikat.

"Dewan Keamanan Nasional sedang meninjau implikasi aplikasi tersebut," kata Leavitt, seperti dikutip dari Reuters, Rabu 29 Januari 2025.


Ia menambahkan bahwa ini menjadi peringatan bagi industri AI Amerika untuk memastikan dominasi mereka di bidang ini.

Peluncuran DeepSeek telah menyebabkan para investor menjual saham teknologi secara global pada hari Senin, karena kekhawatiran bahwa model AI berbiaya rendah dari Tiongkok dapat mengancam dominasi pasar perusahaan AI berbasis di AS seperti OpenAI dan Google. 

Selain itu, para pelaku di pasar kripto juga merasa khawatir.

Kepala bidang kecerdasan buatan dan kripto Gedung Putih, David Sacks, dalam wawancara dengan Fox News, menyatakan kemungkinan adanya pencurian kekayaan intelektual dalam pengembangan DeepSeek.

Ada teknik dalam AI yang disebut distilasi, yang akan sering Anda dengar, dan itu adalah saat satu model belajar dari model lain," kata Sacks dalam wawancara tersebut.

"Saya pikir salah satu hal yang akan Anda lihat selama beberapa bulan ke depan adalah perusahaan AI terkemuka kami mengambil langkah-langkah untuk mencoba dan mencegah distilasi. Itu pasti akan memperlambat beberapa model peniru ini," tambahnya.

DeepSeek, yang diluncurkan pada 15 Januari 2025, telah diunduh lebih dari 2 juta kali. 

Namun, aplikasi ini menimbulkan kekhawatiran karena data pengguna AS disimpan di server di Tiongkok, yang memicu masalah keamanan nasional serupa dengan yang dihadapi oleh TikTok. Selain itu, DeepSeek menunjukkan tanda-tanda sensor dengan menghindari topik-topik sensitif bagi pemerintah Tiongkok. 

Para ahli juga memperingatkan potensi risiko penggunaan DeepSeek, termasuk penyebaran misinformasi dan kemungkinan eksploitasi data oleh pemerintah Tiongkok. 

Meskipun menjadi aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di AS dan Inggris, para pejabat menyarankan untuk tidak mengunggah informasi sensitif karena kekhawatiran tentang privasi data dan kepatuhan terhadap regulasi Tiongkok. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya