Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Bisnis di Atas Segalanya

MINGGU, 26 JANUARI 2025 | 08:41 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA ungkapan yang cukup populer di dunia politik: "Keputusan besar membutuhkan pemikiran besar." Namun, bagaimana jika keputusan besar justru didasarkan pada ego besar? Ini dilakukan Donald Trump yang, begitu dilantik jadi Presiden, langsung membuat keputusan untuk menarik Amerika Serikat dari World Health Organization (WHO).

Keputusan Trump tersebut tampaknya menjadi perwujudan nyata dari prinsip "bisnis adalah segalanya." Sebagai seorang pengusaha ulung, Trump mengklaim bahwa WHO terlalu mahal bagi anggaran pemerintahnya, seolah-olah kesehatan global hanyalah laporan rugi-laba. Bagi Trump, membantu WHO merugikan pemerintah AS.

Trump bukanlah yang pertama mengkritik WHO. Siti Fadilah Supari, mantan Menteri Kesehatan Indonesia, sudah melontarkan kritik keras terhadap organisasi ini jauh sebelum Trump mengambil alih panggung. Siti dengan berani mengungkapkan dugaan adanya konspirasi di balik kebijakan vaksin global. Bedanya, Trump bahkan hengkang dari WHO.


Bedanya lagi, meskipun cuma mengkritik, Siti berakhir di balik jeruji besi dengan kasus yang dicari-cari, untuk menunjukkan pemerintah tunduk patuh pada bantuan WHO. Sementara Trump, dengan tanda tangan flamboyannya, hanya melenggang pergi dari WHO. Dua tokoh, satu pandangan, tetapi nasib yang sangat berbeda.

Trump adalah sosok yang memahami "value for money." Dengan kontribusi tahunan lebih dari $100 juta, AS merupakan negara donor terbesar WHO. Namun, bagi Trump, investasi ini tidak menghasilkan "return" yang memuaskan. Menurut kalkulasi bisnis Trump, mestinya AS yang mendapatkan nilai penjualan vaksin tersbesar, bukan China.

Di balik itu, Trump lantas mencari-cari alasan tambahan. Ia menuduh WHO gagal dalam menangani pandemi COVID-19 dan terlalu tunduk pada pengaruh politik negara-negara anggotanya, terutama China. Tentu, tuduhan ini menarik perhatian, tetapi apakah ini cukup menjadi alasan untuk menghancurkan pilar kesehatan global?

Siapa pun pengusaha ulung akan selalu melihat masalah sebagai peluang. Bagi Trump, mungkin menarik diri dari WHO merupakan langkah jitu untuk menciptakan sistem baru yang lebih menguntungkan—tentu saja untuk Amerika Serikat. Kita belum tahu apa sistem baru yang dia maksud.

Namun, dalam konteks kesehatan global, logika ini tampak seperti seorang petani yang membakar ladangnya karena merasa pupuknya terlalu mahal. Keputusan AS untuk keluar dari WHO bukan hanya urusan angka-angka dalam anggaran. Ini adalah ancaman nyata bagi negara berkembang yang sangat bergantung pada bantuan WHO. 

Bayangkan, program imunisasi, pencegahan HIV, dan pengendalian tuberkulosis menjadi taruhan besar. Apa yang terjadi jika negara-negara miskin kehilangan akses ke vaksin hanya karena sang penyumbang utama memutuskan berhenti membayar tagihan? Dari mana WHO harus mencari pengganti dana 100 juta dolar?

Ironisnya, Trump sepertinya lupa bahwa virus tidak mengenal perbatasan. Dengan menarik diri dari WHO, AS sebenarnya merisikokan kesehatan rakyatnya sendiri. Bayangkan jika wabah berikutnya muncul di negara yang tidak memiliki akses ke pengawasan epidemiologi. Tanpa kerja sama global yang dimediasi oleh WHO, akan sulit bagi dunia —termasuk Amerika Serikat— untuk merespons dengan cepat.

Di Indonesia, Siti Fadilah Supari pernah menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi negara-negara maju di WHO. Kritiknya terhadap keharusan membeli vaksin dari perusahaan asing sangat relevan dengan apa yang dilakukan Trump. Namun, keberanian Siti yang tak didukung kekuatan politik dan ekonomi membuatnya jatuh. 

Sebaliknya, Trump memiliki "amunisi" kekuasaan yang cukup besar untuk menghantam WHO tanpa harus memikirkan konsekuensi pribadi. Jadi, apakah langkah Trump benar-benar solusi bagi slogan "America Great Again"? Atau ini hanya cara lain untuk menegaskan superioritas Amerika di panggung dunia? 

Fakta menunjukkan bahwa keputusan ini justru membuka jalan bagi China untuk memperkuat pengaruhnya di WHO. Jika tujuan Trump adalah mengurangi ketergantungan WHO pada China, maka langkahnya justru menghasilkan efek sebaliknya. Bukan mustahil, China menutup anggaran WHO 100 juta dolar yang diganjal oleh Trump.

Keputusan AS untuk keluar dari WHO adalah momen reflektif bagi dunia. Apakah kesehatan global hanyalah permainan politik? Ataukah ini panggilan untuk membangun sistem yang lebih adil dan transparan? Seperti yang dikatakan oleh beberapa ahli, solusi terbaik bukanlah menarik diri, tetapi bekerja dari dalam untuk memperbaiki kelemahan.

Dunia membutuhkan WHO, bukan karena organisasi ini sempurna, tapi karena inilah satu-satunya lembaga yang mampu mengoordinasikan respons global terhadap krisis kesehatan. Sebagai bangsa yang mengklaim diri sebagai pemimpin dunia, AS memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat, bukan menghancurkan, sistem ini.

Langkah Trump menarik AS dari WHO mungkin dianggap "gebrakan hebat" oleh para pendukungnya. Namun, sejarah mencatat ini sebagai pengingat bahwa ego besar tanpa empati hanya akan menghasilkan kehancuran besar. Dan bagi kita semua, inilah waktu merenung: apakah kesehatan global layak menjadi korban dari permainan politik?

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya