Berita

Saf dalam salat umat muslim

Publika

Umat Terpecah, Katanya

SABTU, 18 JANUARI 2025 | 09:07 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA sebuah dongeng tua tentang seekor keledai yang mati kelaparan karena tidak bisa memutuskan akan memakan jerami di kiri atau di kanan. Cerita ini, meskipun konyol, seringkali teringat ketika kita berbicara tentang "disunity" atau perpecahan umat Islam.

Betapa mudahnya umat Islam di seluruh dunia terjebak dalam narasi yang sama: "Kita ini tidak bersatu!" Seruan yang dramatis, penuh air mata, tapi kadang lebih mirip drama telenovela daripada refleksi yang benar-benar kritis.

Namun, mari kita bongkar mitos ini dengan cara yang lebih santai, sambil tetap serius. Benarkah umat Islam sedemikian terpecah seperti klaim banyak pihak?


Shaykh M. A. Kholwadia dalam opininya di Al Jazeera mengajak kita untuk membuka mata (dan mungkin juga sedikit kepala) bahwa persatuan umat sebenarnya sudah ada —meski tidak dalam bentuk pan-Islamisme utopis ala Kekhalifahan Ottoman.

Kita sering mendengar orang berkata, "Kita harus bersatu!" Tapi, apa yang sebenarnya mereka maksud? Sebagian mungkin membayangkan peta dunia dengan garis-garis perbatasan yang hilang, semua wilayah Muslim bersatu di bawah satu bendera. Romantis? Mungkin. Realistis? Hampir tidak.

Faktanya, persatuan umat Islam sudah nyata dalam hal yang sering kita abaikan. Ritual salat lima waktu, puasa Ramadan, hingga tradisi kurban di Idul Adha menunjukkan persamaan yang melampaui batas politik, budaya, dan bahkan bahasa. Tapi, ya, itu tidak keren di media sosial.

Siapa yang mau memposting foto jemaah Salat Subuh dengan caption, "Lihat betapa kita semua kompak berjemaah?" Itu tidak instagramable.

Shaykh Kholwadia mengingatkan bahwa narasi "disunity" ini sebenarnya hadiah busuk dari para penjajah kolonial. Bayangkan seseorang datang ke rumah Anda, merampas tanah, lalu berkata, "Kalian sekeluarga tidak kompak, sih, makanya tanah kalian mudah diambil."

Ironis, bukan? Begitu pula nasib umat Islam. Perbatasan-perbatasan artifisial yang dibuat oleh penjajah masih menjadi sumber konflik hari ini. Namun, mari kita tepuk tangan untuk fakta bahwa meski dirajam dengan propaganda selama ratusan tahun, umat Islam tetap mempertahankan tradisi yang sama.

Perjalanan haji, doa-doa yang diucapkan dengan bahasa Arab yang sama, dan solidaritas untuk Palestina, itu semua bukti bahwa persatuan kita ada—meski mungkin tidak seperti yang diimpikan para penggemar serial sejarah Kekhalifahan Ottoman.

Salah satu kesalahan terbesar kita adalah menganggap perbedaan dan keragaman sebagai sumber masalah. Padahal, sebagaimana ditegaskan Shaykh Kholwadia, sejak awal Islam itu inklusif.

Perbedaan pendapat dalam mazhab? Itu bukan tanda perpecahan, melainkan kekayaan intelektual. Namun, mari kita jujur: kadang perbedaan ini jadi alasan debat kusir.

Sebagai contoh, ketika kita sibuk bertengkar soal posisi tangan saat salat —di dada atau di bawah pusar— mungkin musuh-musuh kita sedang tertawa sambil berkata, "Lihat, mereka ribut soal tangan!" Selama ratusan tahun kita bertengkar soal qunut, apa hasilnya?

Shaykh Kholwadia memberi contoh inspiratif tentang bagaimana para ulama Deoband di India bangkit dari kekalahan setelah Pemberontakan 1857 melawan Inggris. Bukannya menangis sambil menyalahkan "disunity", mereka memilih untuk bangkit.

Hasilnya? Lembaga pendidikan seperti Darul Uloom Deoband menjadi mercusuar ilmu pengetahuan Islam di anak benua India.

Kita, umat Islam hari ini, perlu belajar dari mereka. Daripada terjebak dalam ratapan tanpa solusi, kita harus fokus pada apa yang bisa kita bangun bersama, dari pendidikan hingga ekonomi, dari teknologi hingga solidaritas sosial.

Jadi, mari kita berhenti menjadi "keledai yang lapar." Kita punya lebih dari cukup alasan untuk percaya bahwa umat Islam sebenarnya lebih bersatu dari yang kita pikirkan. Perbedaan bukanlah musuh, tapi rahmat, dan kita tidak perlu bendera pan-Islamisme untuk menunjukkan kekuatan kita.

Sebagai umat yang percaya pada kebesaran Allah, mungkin saatnya kita menggeser fokus dari ratapan ke tindakan. Karena, seperti yang diingatkan Shaykh Kholwadia, persatuan bukan soal seragam, tapi soal keberanian untuk bergerak maju meskipun dalam keragaman. Jadi, apa langkah Anda berikutnya?

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya