Berita

Ilustrasi/RMOL

Publika

Mendesak Reformasi Perbankan Umum

Oleh: Defiyan Cori*
SABTU, 18 JANUARI 2025 | 01:48 WIB

BERDASARKAN laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2024, bahwa penyaluran kredit lembaga perbankan mencapai lebih dari Rp7.720 triliun per Desember 2024, atau mengalami kenaikan sebesar 10,79 persen secara tahunan (yoy). Secara bulanan, pertumbuhan kredit turun sebesar 0,61 persen dan kredit tahun berjalan tumbuh sebesar 5,28 persen ytd. 

Dan, pertumbuhan kredit itu terutama ditopang oleh kenaikan kredit investasi sebesar 13,77 persen secara tahunan atau naik 0,69 persen. Lalu, disusul oleh kredit modal kerja dan konsumsi, masing-masing, tumbuh sebesar 8,92 persen yoy (turun 1,83 persen bulanan) dan 10,94 persen yoy (naik 0,11 persen bulanan).

Kenaikan ini ditunjang oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh perbankan juga tumbuh sebesar 7,54 persen yoy pada November 2024, yaitu berjumlah Rp8.836 triliun. Angka ini mengalami peningkatan dibanding bulan Oktober 2024 yang tumbuh hanya 6,74 persen yoy dengan nilai Rp8.751 triliun atau naik sejumlah Rp85 triliun. 


Namun demikian, pertumbuhan kredit dan DPK perbankan juga masih diikuti oleh kualitas aset yang cukup baik. Hal ini terlihat dari rasio Non Performing Loan (NPL) Gross yang berada di level 2,19 persen dan NPL Net di level 0,75 persen pada November 2024. Pada bulan sebelumnya, rasio NPL Gross perbankan berada di level 2,20 persen dan NPL Net 0,77 persen. 

Laba dari Bunga

Secara kuantitatif, kinerja keuangan positif kembali berhasil dicapai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. (Persero) Bank Rakyat Indonesia Tbk. (kode BEI BBRI) pada tahun 2024 sehingga layak diapresiasi dengan hangat. BRI kembali membukukan laba periodik sejumlah Rp45,36 triliun meskipun mengalami penurunan sejumlah Rp15,08 triliun dibanding tahun 2023 yang sejumlah Rp60,4 triliun. Namun, raihan laba Bank Rakyat Indonesia BRI ini tetap menempatkannya sebagai pencetak laba perbankan terbesar dan menyisihkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang meraih laba sejumlah Rp41,1 triliun. 

BRI juga masih bertengger sebagai kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan laba terbesar di atas PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang hanya mampu meraih laba sejumlah Rp42,70 triliun dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencatat laba paling buncit hanya sejumlah Rp16,31 triliun. Walaupun begitu, dari sisi pertumbuhan laba, maka BCA merupakan yang paling pesat di antara perbankan lainnya, yaitu mencapai 12,80 persen secara tahunan (yoy). Bahkan, raihan laba BRI ini masih tidak mampu disaingi oleh BCA sebagai bank swasta nasional terbesar di Indonesia. BCA pada tahun lalu (2023) hanya mampu membukukan laba bersih sejumlah Rp48,6 triliun tapi juga naik sebesar 19,4 persen dibanding tahun 2022. 

Hanya saja, BRI lebih memiliki rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang cukup kuat, yaitu sebesar 27 persen. Rasio ini juga telah melampaui ketentuan Basel III yang dipersyaratkan bagi lembaga keuangan dan perbankan dengan batas minimal sebesar 17,5 persen. 

Dari sisi penyaluran kredit, justru Bank Mandiri yang berhasil mencatat pertumbuhan paling pesat hingga 22,10 persen yoy menjadi Rp1.316 triliun, lalu kedua terbesar BCA yang tumbuh sebesar 14,50 persen yoy atau mencapai Rp877 triliun. Capaian pertumbuhan kredit Bank Mandiri dan BCA ini berhasil melampaui kinerja industri perbankan yang tumbuh sebesar 10,9 persen yoy hingga September 2024. Sementara itu, kinerja penyaluran kredit BRI dan BNI masing-masing hanya tumbuh sebesar 8,20 persen dan 9,50 persen yoy (tahunan).

Mengacu pada laporan keuangan yang dipublikasikan terbatas, maka kinerja positif lembaga perbankan tidak terlepas dari pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga ini dicapai oleh BRI sejumlah Rp107,75 triliun dan terdapat kenaikan sebesar 4,6 persen yoy dibanding tahun 2023 yang sejumlah Rp103,01 triliun. Selanjutnya, BCA dan Bank Mandiri mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang cukup pesat hingga 9,50 persen yoy, sementara Bank Mandiri hanya tumbuh sebesar 3,81 persen yoy. Kenaikan pendapatan bunga ini tentu berpengaruh pada capaian laba masing-masing lembaga perbankan. Hanya BNI yang berhasil meningkatkan labanya melalui rendahnya biaya kredit dan kuatnya pendapatan non-bunga sehingga mengimbangi kenaikan beban bunga.

Penyaluran Kredit dan NPL

Kinerja positif penyaluran kredit dan raihan laba perbankan ini juga didukung oleh pengelolaan NPL yang semakin baik. Bank Mandiri mencatat tingkat NPL paling rendah, secara konsolidasi di 1,13 persen sementara untuk bank only mencapai 0,97 persen yang merupakan posisi paling rendah dalam sejarah. Sedangkan BCA dan BRI mencatatkan tingkat NPL yang juga dalam batas wajar atau cukup rendah, yaitu masing-masing 2,1 persen dan 2,0 persen. 

Hanya BNI yang mencatatkan nilai NPL paling tinggi, yaitu sebesar 2,90 persen. Atas capaian kinerja yang positif tersebut dan berdasar pola pencapaiannya pada tahun 2025 sasaran penyaluran kredit secara rasional dapat ditingkatkan menjadi 12-15 persen. 

Agar kembali mencapai pertumbuhan penyaluran kredit lebih baik dan positif maka tingkat suku bunga perbankan seharusnya lebih rendah dari yang diberlakukan tahun 2023 dan 2024. Hal ini perlu diupayakan oleh jajaran manajemen lembaga perbankan untuk menunjang capaian sasaran pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 7-8 persen. Jika hal ini tidak dilakukan, maka perbankan umum dapat dianggap tidak memberikan dukungan terhadap visi-misi dan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Artinya, capaian pertumbuhan ekonomi tidak akan bergeser dari kisaran 4-5 persen lebih sedikit per tahun.

Berbagai strategi dan aksi korporasi harus mulai disusun agar perbankan lebih kreatif dan inovatif serta tidak hanya mengandalkan pendapatan dan laba dari tingkat bunga saja. Sebab, potensi dan resiko kredit bermasalah atau NPL lembaga perbankan justru akan semakin besar persentasenya. Dengan tingkat bunga yang semakin rendah, tingkat NPL penyaluran kredit akan dapat ditekan lebih baik melalui perencanaan strategis dewan manajemen (direksi dan komisaris) serta ditunjang oleh pendekatan lembaga perbankan kepada debitur yang pro ekonomi konstitusi.

*Penulis adalah Ekonom Konstitusi dan mantan Project Appraisal Team Bank Dunia

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya