Berita

Juru Bicara Pemerintahan Maroko, Mustapha Baitas/Net

Global

Maroko Bentuk Komisi Perancang Amandemen Undang-Undang Keluarga

JUMAT, 17 JANUARI 2025 | 18:48 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Maroko membentuk komisi perancang untuk merevisi Undang-Undang Keluarga, langkah yang mencerminkan komitmen negara dalam merespons perkembangan sosial dan hukum yang dinamis.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Juru Bicara Pemerintahan Maroko, Mustapha Baitas dalam konferensi pers setelah rapat mingguan Dewan Pemerintah pada Kamis, 16 Januari 2025. 

“Dewan memutuskan untuk membentuk Komisi Perancang yang terdiri dari departemen-departemen yang secara langsung terkait dengan revisi Undang-Undang Keluarga, mengingat sifat khusus undang-undang ini,” kata Baitas.
 

 
Dikatakan bahwa Komisi baru melibatkan Kementerian Kehakiman, Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, Kementerian Solidaritas, Inklusi Sosial, dan Keluarga, serta Sekretariat Jenderal Pemerintah (SGG).  

Komisi ini tidak hanya mencakup kementerian, tetapi juga melibatkan para ahli hukum, peradilan, dan ulama. Jika diperlukan, kata Baitas, komisi dapat meminta masukan dari spesialis di bidang lain. 

“Sekretariat Jenderal Pemerintah dilibatkan karena keahliannya dalam merumuskan dan menilai kerangka hukum, serta kontribusinya dalam menangani tumpang tindih antara undang-undang yang ada,” jelasnya.

Keputusan pembentukan komisi diambil berdasarkan Instruksi Tinggi Kerajaan yang menetapkan garis besar revisi dan tujuan utama yang diusulkan untuk publik pada 26 Desember lalu. 

Menurut Baitas, pemerintah kini berada pada tahap perancangan hukum untuk menetapkan ketentuan, prosedur, dan cara pelaksanaan revisi tersebut.  
  
Menanggapi diskusi yang berkembang seputar revisi ini, Baitas menekankan pentingnya menghormati peran Majelis Ulama Tertinggi sebagai satu-satunya otoritas resmi yang diakui untuk mengeluarkan fatwa. 

“Upaya untuk melemahkan institusi ini bertentangan dengan Pasal 41 Konstitusi,” tegasnya.  

Baitas juga menyoroti keterbukaan pemerintah terhadap masukan dari berbagai pihak. 

“Kami menyambut baik proposal dan pengamatan dari cendekiawan, peneliti, serta pelaku politik dan masyarakat sipil. Semua masukan ini bertujuan untuk menyempurnakan rancangan undang-undang, dengan tetap berpegang pada konstanta keagamaan Kerajaan serta kebutuhan untuk memastikan stabilitas keluarga,” ujarnya.  

Revisi Undang-Undang Keluarga telah menjadi prioritas utama pemerintah. Pemerintah memastikan bahwa komunikasi terkait isu ini akan terus berlangsung secara transparan selama proses penyusunan. 

“Saat ini, terlalu dini untuk membahas proposal spesifik atau potensi tantangan implementasi. Namun, pemerintah akan tetap menyediakan informasi yang relevan di setiap tahap,” ujar Baitas.  

Dengan langkah ini, pemerintah Maroko berupaya menciptakan landasan hukum yang tidak hanya selaras dengan prinsip-prinsip keagamaan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya