Berita

CEO Facebook, Mark Zuckerberg (Foto: martech.org)

Bisnis

Facebook Bisa Tamat, IHSG Raja Asia

JUMAT, 10 JANUARI 2025 | 17:07 WIB | OLEH: ADE MULYANA

RAKSASA perusahaan teknologi asal AS nampaknya sedang kurang beruntung. Akibat kebijakan terkininya yang diumumkan langsung oleh pendirinya, Mark Zuckerberg, sentimen suram akhirnya memukul harga sahamnya. Laporan yang beredar sebelumnya menyebut, pihak pimpinan Facebook yang akan menghentikan fitur layanan pengecekan fakta yang selama ini diandalkan pengguna untuk menyaring kabar hoaks.

Ditambah dengan hubungan dekat Mark Zuckerberg dengan presiden terpilih AS Donald Trump, kebijakan tersebut dicurigai akan menjadi instrumen bagi Trump dalam mengendalikan informasi. Merespon kecurigaan tersebut, pengguna Facebook di Amerika Serikat akhirnya dilaporkan beramai-ramai untuk menutup akun Facebook.

Situasi tersebut kini diyakini akan menghadirkan tekanan jual pada saham facebook di Wall Street. Tinjauan RMOL menunjukkan, saham Facebook yang ditutup turun tajam lebih dari 1 persen pada sesi perdagangan Rabu 8 Januari 2025. Beruntungnya, bursa Wall Street libur di sesi Kamis untuk menghormati wafatnya mantan Presiden AS Jimmy Carter.


Namun bila sentimen suram dari kebijakan terkini facebook tersebut tidak segera diantisipasi, perusahaan sosial media terbesar dunia itu bisa terancam tamat, setidaknya untuk pasar terpentingnya di Amerika Serikat. Situasi menjadi semakin runyam dan tak lagi mujur akibat sebelumnya sentimen datang dari tinjauan The Fed yang menurunkan traget penurunan suku bunga menjadi dua kali di tahun ini.

Situasi kurang mujur juga kembali berlanjut di sesi perdagangan penutupan pekan ini di Asia, Jumat 10 Januari 2025. Akibat liburnya bursa Wall Street, pelaku pasar di Asia mencoba mengalihkan fokus perhatiannya pada sentimen regional, di mana otoritas Jepang merilis runtuhnya belanja rumah tangga sebesar 0,4 persen untuk bulan November 2024 lalu. Kabar kurang menguntungkan ini kemudian mengarahkan investor untuk melanjutkan tekanan jual hingga merontokkan kembali indeks Nikkei.

Indeks Nikkei terpantau konsisten menjejak zona merah di sepanjang sesi hari ini, untuk kemudian menutup dengan anjlok 1,05 persen di 39.190,4. Kinerja merah juga terjadi di bursa saham Australia dengan indeks ASX200 terkoreksi 0,42 persen setelah berakhir di 8.294,1. Sedang Indeks KOSPI di Korea Selatan menutup sesi dengan turun moderat 0,24 persen di 2.515,78.

Kabar positif justru mampu ditorehkan bursa saham Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menapak zona penguatan signifikan secara konsisten di sepanjang sesi perdagangan. Mengawali sesi perdagangan pagi dengan kenaikan moderat, IHSG terkesan mendaki semakin tinggi menjelang sesi perdagangan pagi ditutup. IHSG kemudian melanjutkan gerak positif di sesi perdagangan sore untuk akhirnya menutup sesi dengan naik moderat 0,34 persen di 7.088,86 dengan sempat mencetak titik tertingginya di kisaran 7.121 atau melonjak 0,81 persen.

Kemampuan IHSG membukukan lonjakan tajam kali ini terbilang menonjol dibanding kinerja bursa saham Asia yang justru masih terjebak dalam tekanan jual cukup signifikan. Sikap pelaku pasar di Jakarta terlihat mencoba beralih optimis menyusul rilis data pertumbuhan penjualan ritel. Laporan yang beredar menyebutkan, pertumbuhan penjualan ritel untuk periode November 2024 lalu yang tumbuh 0,9 persen secara tahunan.

Kinerja pertumbuhan tersebut sesungguhnya masih mencerminkan perlambatan dibanding bulan sebelumnya yang dilaporkan tumbuh hingga 1,5 persen. Namun investor terlihat mendapatkan pijakan positif dari rilis data ini hingga mampu mengangkat IHSG secara signifikan.

Pantauan lebih jauh juga menunjukkan, kinerja sejumlah saham unggulan yang turut menyokong lonjakan IHSG. Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan menutup sesi dengan lonjakan bervariasi, seperti: TLKM, UNTR, INDF, PTBA, SMGR, ICBP serta PGAS.

Sementara sejumlah saham unggulan lain masih terseret di zona merah, seperti: BBRI, BBCA, BMRI, ADRO, ASII, ITMG, CPIN dan BBNI.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya