Berita

Vafa Shabanova, seorang penumpang pesawat Azerbaijan Airlines yang jatuh di Kazakhstan, menerima perawatan di sebuah rumah sakit di Baku, Azerbaijan, pada Jumat, 27 Desember 2024/Net

Dunia

Korban Selamat di Pesawat Azerbaijan Dengar Suara Ledakan Sebelum Jatuh

SABTU, 28 DESEMBER 2024 | 10:33 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Dua penumpang dan satu awak pesawat Azerbaijan Airlines yang jatuh di Kazakhstan mendengar satu suara ledakan keras saat mendekati wilayah Grozny di Rusia selatan.

Penerbangan J2-8243 jatuh pada hari Rabu, 25 Desember 2024 di dekat kota Aktau di Kazakhstan setelah berbelok dari Grozny tempat Rusia berulang kali menggunakan sistem pertahanan udara untuk menembaki serangan drone Ukraina.

Sedikitnya 38 orang tewas sementara 29 orang selamat dalam kecelakaan itu.


"Setelah ledakan itu saya pikir pesawat itu akan hancur," kata Subhonkul Rakhimov, salah satu penumpang di rumah sakit.

Saat itu Rakhimov mulai membaca doa dan bersiap menghadapi akhir setelah mendengar ledakan itu.

"Jelas bahwa pesawat itu telah rusak dalam beberapa hal. Seolah-olah pesawat itu diluar kendali," paparnya.

Penumpang lain di pesawat itu mengatakan ia juga mendengar ledakan keras.

"Saya sangat takut," kata Vafa Shabanova, seraya menambahkan bahwa ada juga ledakan kedua, seperti dimuat Reuters pada Sabtu, 28 Desember 2024.

Ia kemudian disuruh oleh seorang pramugari untuk pindah ke bagian belakang pesawat.

Kedua penumpang mengatakan tampaknya ada masalah dengan kadar oksigen di kabin setelah ledakan itu.

Pramugari Zulfugar Asadov mengatakan pendaratan ditolak di Grozny karena kabut sehingga pilot berputar-putar dan terdengar suara benturan di luar pesawat.

"Pilot baru saja mengangkat pesawat ketika saya mendengar suara benturan dari sayap kiri. Ada tiga benturan," kata dia.

Azerbaijan Airlines menangguhkan sejumlah penerbangan ke kota-kota Rusia pada hari Jumat, 27 Desember, mengatakan mereka menganggap kecelakaan itu disebabkan oleh apa yang disebutnya "gangguan eksternal fisik dan teknis".

Sayangnya mereka tidak merinci gangguan apa itu.

Empat sumber yang mengetahui temuan awal investigasi Azerbaijan atas bencana itu mengatakan pertahanan udara Rusia tidak sengaja menembak jatuh pesawat itu.

Rusia mengatakan penting untuk menunggu investigasi resmi selesai untuk memahami apa yang terjadi.

Kecelakaan itu telah menggarisbawahi risiko bagi penerbangan sipil bahkan ketika pesawat terbang ratusan mil dari zona perang, terutama ketika perang pesawat nirawak besar sedang berlangsung.

Bencana sebelumnya termasuk penembakan jatuh Pesawat Ukraine International Airlines Penerbangan PS752 pada tahun 2020 oleh Garda Revolusi Iran, yang menewaskan semua 176 orang di dalamnya.

Pada tahun 2014, Pesawat Malaysia Airlines Penerbangan MH17 ditembak jatuh di atas Ukraina timur oleh sistem rudal BUK Rusia yang mengakibatkan hilangnya 298 penumpang dan awak.

Pada tahun 1983, Uni Soviet menembak jatuh Pesawat Korean Airlines Penerbangan 007 setelah menyimpang dari jalur dan terbang melewati wilayah udara terlarang. Pada tahun 1988 selama Perang Iran-Irak, kapal perang AS Vincennes menembak jatuh pesawat Iran Air di atas Teluk, menewaskan semua 290 orang di dalamnya. Perang pesawat nirawak

Pesawat Azerbaijan Airlines mengalami masalah di dekat Grozny yang berjarak lebih dari 850 km dari garis depan di Ukraina, tetapi masih menjadi target berulang pesawat nirawak Ukraina yang menyerang jauh di belakang garis Rusia.

Rusia menggunakan peralatan pengacau elektronik canggih untuk membingungkan lokasi dan sistem komunikasi pesawat nirawak Ukraina dan sejumlah besar sistem pertahanan udara untuk menembak jatuh pesawat nirawak tersebut.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya