Berita

Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto (kiri)/Ist

Publika

Tsunami Aceh dan Misteri Phoenix Tree

Oleh: Suroto*
KAMIS, 26 DESEMBER 2024 | 18:51 WIB

ACEH adalah tanah air yang tak akan pernah hilang dari memori hidup saya. Bukan hanya karena aktivitas proyek pengembangan koperasi dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana Tsunami Aceh yang saya kerjakan, tapi jauh sebelumnya, Tanah Rencong ini memang memberikan kenangan manis masa kecil yang tak akan terlupa. 

Tahun 1976, tepat ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dideklarasikan, saya yang baru berumur 26 hari dibawa merantau oleh orang tua ke tanah ini. Tinggal di daerah Bukit Hagu, Lhoksukun, Aceh Utara hingga umur 6 tahun sebelum kemudian kembali ke Jawa. 

Kemudian karena kedua orang tua saya yang keduanya adalah pedagang membangun usaha di pasar Bukit Hagu. Di tengah pasar inilah saya bertumbuh sebagai balita. 


Saya memang masih belia waktu itu, tapi  hutan tropis Aceh itu adalah jadi tempat bermain terindah yang pernah saya temukan di belahan bumi ini. Kami berebut dengan segala macam jenis kera, bergelantung di akar akar kayu raksasa. Aliran sungai yang membelah hutan rimbun adalah tempat kami mandi dan mencari ikan. Buah cempedak, manggis dan rambutan liar adalah makanan terhebat yang kami makan langsung dari pohonnya. 

Hanya seminggu setelah Tsunami tanggal 3 Januari 2006 melalui yayasan yang saya dirikan Lembaga Pengkajian Dan Pengembangan Koperasi (LePPeK) kami adakan diskusi di Kampus Unsoed untuk membangun konsep koperasi Universitas di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). 

Pak Robby Tulus, duta khusus International Cooperative Alliance (ICA) dari Kanada yang kebetulan sedang ke Indonesia akan mensurvei  ke Aceh untuk penanganan Tsunami di Aceh - Nias, lalu saya manfaatkan untuk diundang ke kampus Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Berdiskusi tentang konsep Koperasi Universitas bersama Alm Ibnoe Soedjono dari Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia (LSP2I) dari Jakarta. 

Tanpa saya duga, ternyata mereka berdua memilih saya untuk menjadi bagian tim riset untuk peluang pengembangan koperasi di Aceh paska Tsunami kerjasama LSP2I dan kerjasama dengan Pusat Pembangunan Pertanian(PSP), Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Riset aksi yang dilakukan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan koperasi paska Tsunami selesai. Tanpa saya duga lagi LSP2I dan ICA meminta saya jadi staf untuk membantu membangun Project Management Unit International Cooperative Alliance (ICA) di Aceh.

Bersama kolega dari Dekopin Wilayah Aceh, kami mengembangkan aktifitas kegiatan untuk menghidupkan mata pencaharian warga melalui koperasi di Daerah Banda Aceh, Lhokseudu, Pidie Jaya. Membangun kelembagaan koperasi, membangun bantuan Palung (kapal penangkap ikan tradisional), pabrik es, toko dll untuk membangkitkan kembali kehidupan masyarakat Aceh paska Tsunami. 

Kami tinggal di Blang Bintang dekat Bandara. Ada banyak kenangan manis tinggal di kantor baru Dekopinwil ini.  Mendapat saudara baru seperti Alm. Hanafiah (Ketua Dekopinwil), Pak Mahadi Bahtera, Linda Jamil Staf project, Pak Agam, dan banyak lagi. Bahagia rasanya  sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. 

Aceh adalah tempat saya mendapatkan mentor koperasi handal seperti Pak Mariano Cordero (mantan Presiden Direktur Philippine Bank), Pak Roes Haryanto (Mantan Managing Director Bank BRI) dan tentu Pak Robby Tulus (mantan Direktur ICA Asia Pasifik) dan Pak Ibnoe Soedjono dan Pak Djabarrudin dari LSP2I. 

Tepat umur 30 tahun, tanggal 11 Desember 2007 saya diberikan kesempatan untuk melihat Pemilu di Aceh dengan pelibatan partai lokal dalam Pilkada. Terpilihlah Irwandi Yusuf-Nazar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. 

Ada satu yang membuat saya sampai hari ini belum terpecahkan misterinya, saya tiba tiba waktu di Aceh dapat email dari kolega dari Jepang. Tanaka-san. Saya diminta untuk menghubungi Sdr. Khaeruloh, dosen Fakultas Pertanian di Syah Kuala, Banda Aceh. Tujuannya adalah untuk melihat kondisi pohon Phoenix, yang sedang dikarantina dan merupakan simbol harapan bagi kehidupan baru di masyarakat Jepang karena ditengarai sebagai pohon pertama yang tumbuh paska Bom Hiroshima-Nagasaki.

Dua pohon itu ditanam di kampus Universitas Syah Kuala dan rumah dinas Gubernur. Pohon Phoenix itu saya harap masih tumbuh dan jadi simbol masa depan rakyat Aceh yang dinamis dan penuh harapan. 

*Penulis adalah Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya