Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Kristal Tajam Asam Urat

MINGGU, 22 DESEMBER 2024 | 09:38 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

HARI yang santai kemarin, saya memulai pagi dengan semangat: menemui seorang kawan, dokter cantik yang menguasai integrative & functional medicine. Mari kita sebut dia Dr. Widya Murni, yang jilbabnya tidak kalah mistis dari namanya. Praktiknya terkenal karena pendekatan revolusioner, yaitu memperbaiki kesehatan melalui sulih hormon.

Dengan senyuman profesional dan secangkir teh hijau, Dr. Widya menyambut saya di ruang prakteknya yang penuh tanaman hijau dan aroma lavender. “Kamu tahu nggak,” katanya sambil memandang saya dengan sorot mata yang menembus jiwa, “banyak pasien saya datang dengan keluhan klasik: asam urat.”

Pasien-pasien itu datang mengeluhkan sakit di persendian, jari-jari kaku, dan kadang mengira penyebabnya karena terlalu banyak mengetik WhatsApp. Mereka suka makan enak seperti daging merah, jeroan, makanan laut, tetapi jarang menyentuh sayuran hijau, buah-buahan, atau produk olahan susu rendah lemak.


“Lalu, apa hubungannya dengan hormon?” saya bertanya, mencoba terdengar intelektual sambil mengamati dekorasi ruangannya yang estetik.

“Ah, bagus kamu tanya itu!” jawabnya dengan antusias. “Hormon memainkan peran penting dalam metabolisme asam urat,” lanjutnya. Insulin, misalnya. Jika kadarnya terlalu tinggi—seperti pada orang dengan resistensi insulin—ginjal akan kesulitan membuang asam urat dari tubuh. Hasilnya? Kristal asam urat menumpuk di persendian.

Mendengar istilah kristal, saya langsung membayangkan sesuatu yang berkilauan, mungkin seperti permata. Namun, Dr. Widya segera meluruskan khayalan saya. Dalam konteks asam urat, kristal yang dimaksud adalah kristal monosodium urat (MSU). Kristal ini terbentuk ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi, kondisi yang disebut hiperurisemia.

Ternyata, asam urat juga bisa meningkat akibat konsumsi karbohidrat yang berlebihan. Mengeceknya mudah, cukup lakukan tes laboratorium untuk melihat kadar asam urat dan trigliserida. Jika keduanya meningkat, besar kemungkinan karbohidrat ikut berkontribusi terhadap tingginya kadar asam urat dalam tubuh.

“Lalu, mengapa kristal ini berbahaya?” tanya saya, kembali ke topik.

“Kristal monosodium urat berbentuk tajam seperti jarum,” jawabnya. “Ketika menumpuk di persendian, mereka menyebabkan peradangan hebat. Tubuh menganggap kristal ini sebagai benda asing, memicu respons imun berlebihan, yang berujung pada nyeri akut seperti ditusuk jarum. Kalau dibiarkan, kristal ini juga bisa merusak tulang rawan dan jaringan di sekitar sendi.”

Penumpukan kristal jarang terjadi pada orang di usia belia. Itu karena, pada wanita, hormon seks estrogen melindungi mereka dari asam urat sampai menopause. Setelah berhenti haid, hormon estrogennya turun membuat risiko kena asam urat meningkat. Sementara pada pria, kadar testosteron yang rendah juga sama, bisa meningkatkan risiko.

Saya mengangguk sambil mencoba mencerna semuanya. Namun, satu pertanyaan muncul. “Tapi, dok, kenapa ada yang merasa sakit di seluruh tubuh, seperti kaku-kaku?”

“Itu belum tentu asam urat,” katanya. “Bisa jadi penyakit lain, seperti fibromyalgia. Tapi jika jari-jari terasa kaku dan nyeri muncul tiba-tiba, apalagi disertai pembengkakan dan kemerahan, itu kemungkinan besar asam urat. Serangan ini sering datang di malam hari, seperti tamu tak diundang.”

Saya tertawa kecil. Sementara itu, Dr. Widya menjelaskan bahwa terapi sulih hormon, seperti estrogen untuk wanita menopause atau testosteron untuk pria dengan kadar rendah, dapat membantu mencegah serangan.

“Keseimbangan hormon itu penting, termasuk hormon kortisol, yang memengaruhi peradangan. Stres kronis bisa memperburuk kondisi,” tuturnya. "Makanya, jangan suka marah-marah atau uring-uringan."

Dia menutup dengan tambahan nasihat bijak. “Jangan hanya mengobati gejala. Perbaiki akar masalahnya, dan kamu tidak perlu hidup dalam ketakutan setiap kali makan daging.”

Keluar dari kliniknya, saya merasa tercerahkan. Asam urat ternyata bukan hanya soal makan daging, tetapi juga tentang hormon, gaya hidup, dan tubuh yang perlu seimbang.

*Penulis adalah wartawan senior

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya