Berita

Ilustrasi (Foto: livescience.com)

Bisnis

Chip Kuantum Google Guyur Duit, IHSG Pasrah Merah

KAMIS, 12 DESEMBER 2024 | 18:11 WIB | OLEH: ADE MULYANA

OPTIMISME pelaku pasar di Wall Street terkesan kembali bertahan di sesi perdagangan pertengahan pekan ini. Sejumlah sentimen menjadi andalan investor untuk bertahan optimis. Kabar pertama datang dari rilis inflasi bulanan AS yang diklaim sebesar 0,3 persen dan secara tahunan sebesar 2,7 persen atau sesuai ekspektasi pelaku pasar.

Rilis data inflasi tersebut juga diyakini kondusif bagi The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga lanjutan pada pertemuan pekan depan. Ekspektasi tersebut kemudian memantik aksi akumulasi secara selektif hingga mampu mengangkat Indeks mencetak rekor tertingginya.

Sentimen kemudian datang dari perusahaan raksasa teknologi internet, Alphabet yang merupakan induk dari Google. Perusahaan terkemuka tersebut mengklaim telah berhasil membuat Chip kuantum yang diklaim mampu melakukan kalkulasi hanya dalam waktu kurang dari 5 menit dibanding kinerja super komputer tercanggih saat ini yang membutuhkan waktu hingga 10 septillion tahun atau 10 triliun triliun tahun.


Kinerja sangat fantastis Chip ini kemudian memicu optimisme brutal di Wall Street. Harga saham induk perusahaan Google tercatat melambung fantastis hingga kisaran 11 persen sejak rilis Chip kuantum tersebut. Lonjakan saham Google ini kemudian turut mengangkat sentimen saham teknologi lain hingga kemudian melonjakkan indeks Nasdaq untuk mencetak rekor tertingginya sepanjang sejarah.

Rilis keberhasilan Chip kuantum akhirnya terkesan sebagai raksasa teknologi Google yang sedang mengguyur duit alias profit di bursa Wall Street. Pantauan menunjukkan, Indeks Nasdaq yang menutup sesi dengan melambung curam 1,77 persen di 20.034,89 yang sekaligus menembus level psikologis barunya di kisaran 20.000.

Namun kinerja gemilang Indeks Nasdaq tak terlalu berdampak pada sesi perdagangan di Asia. Pantauan menunjukkan, gerak Indeks di Asia yang masih bervariasi sebagai cermin dari sikap ragu pelaku pasar. Minimnya sentimen regional terutama dari China dan Jepang, memperkukuh sikap ragu pelaku pasar. Gerak Indeks akhirnya cenderung terjebak di rentang terbatas dan mixed. Pelaku pasar terlihat masih menantikan rilis data indeks harga produsen di AS yang diagendakan pada Kamis malam nanti waktu Indonesia Barat untuk lebih meyakinkan dalam mengambil keputusan.

Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) naik tajam 1,21 persen di 39.849,14, sementara indeks ASX200 (Australia) melemah 0,28 persen di 8.330,3, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) mencetak rebound lanjut dengan melompat  1,62 persen di 2.482,12. Bervariasi nya indeks  di sesi perdagangan Asia ini kemudian memaksa bursa saham Indonesia jatuh dalam pesimisme. Sentimen guyuran duit dari Google dan rilis data inflasi AS dengan demikian gagal berlanjut di Asia.

Pantauan memperlihatkan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali mengalami tekanan jual. IHSG terpantau sempat berupaya melawan dengan mampu menjejak zona penguatan tipis di sesi perdagangan pagi, namun dengan mudah kembali beralih merah. IHSG kemudian kian berada dalam tekanan jual tajam di sesi sore. IHSG akhirnya menutup sesi hari ini, Kamis 12 Desember 2024 dengan runtuh 0,94 persen di 7.394,23.

Pantauan lebih rinci dari jalannya sesi perdagangan memperlihatkan, kinerja saham unggulan yang juga bervariasi sebagai cermin dari keraguan investor. Sejumlah kecil saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan masih mampu bertahan positif, yaitu:  UNTR, PGAS, ISAT dan JPFA. 

Sedangkan sejumlah besar saham unggulan lain terseret kembali di zona merah, seperti: BBRI, BMRI, BBCA, BBNI, ASII, ADRO, TLKM, ITMG, SMGR, dan ICBP. Pantauan juga menunjukkan, kinerja saham AADI yang kembali merosot. Saham yang sempat menjadi buruan investor sejak IPO 5 Desember lalu itu tercatat menurun untuk kedua kalinya usai melambung liar di auto reject atas dalam tiga hari sesi perdagangan pertamanya. 

Namun aksi investor memburu AADI terkesan mulai reda sejak Selasa lalu. Pada sesi hari ini, AADI tercatat menutup sesi di Rp9.200 atau menurun 4,16 persen. Volume perdagangan AADI tercatat mencapai lebih dari 700 ribu lot.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya