Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Katong Samua Basudara

SENIN, 09 DESEMBER 2024 | 06:50 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DEMOKRASI, kata para filsuf, termasuk salah satu pilihan bentuk berpemerintahan terbaik dari yang terburuk. Dan di negeri kita tercinta, Pilkada Serentak 2024 berlangsung secara kolosal sebagai salah satu festival besar demokrasi ini, lengkap dengan warna-warni strategi, intrik, dan momen mengharukan. 

Kini, ketika euforia sudah mulai surut, grup-grup WhatsApp kita mulai dihiasi seruan yang seolah bijak: “Pilkada sudah selesai, mari kembali ke laptop.” Sebuah nasihat yang terdengar seperti ajakan memungut puing-puing keterbelahan dan melanjutkan hidup, sambil berharap laptopnya masih hidup dan tak kena virus.

Tapi tunggu sebentar, apa yang sebenarnya tersirat dari ajakan ini? Apakah ini murni panggilan untuk rekonsiliasi, atau malah tanda menyerah atas kenyataan pahit yang terus berulang? Faktanya, pengkubuan antara yang religius dan yang nasionalis masih ada. Mari kita ulas dengan sedikit humor, tetapi tetap mengakar pada fakta.


Pilkada memang berjalan aman, lancar, tentu banyak riak-riak. Itu fakta. Tidak ada kerusuhan besar, tidak ada perang mulut massal di jalanan. Paling ada lempar-lemparan kursi di arena TPS. Yang lebih parah, terjadi pembacokan di Sampang, serta saling lempar panah di Papua. Namun, di luar itu, juga ada aroma cawe-cawe yang sulit diabaikan. 

Bukankah kita semua mendengar bisik-bisik tentang pejabat yang "terlalu aktif membantu" atau aparat yang "kebetulan salah arah"? Kita juga tahu soal money politics yang entah kenapa selalu berhasil menjadi bumbu wajib pesta demokrasi. Sepertinya, bagi sebagian orang, demokrasi bukan sekadar hak suara, tetapi hak "uang suara."

Seruan untuk rekonsiliasi tadi muncul dalam berbagai bentuk di platform media sosial. Lihat saja komentar yang viral di grup-grup WhatsApp: “Yang menang kita hormati, yang kalah kita sayangi.” Sebuah kalimat yang nyaris menyamai kebijakan ibu-ibu PKK membagi jajanan arisan secara adil dan merata. 

Ini merupakan refleksi dari harapan bahwa setelah semua debat panas, setelah pencoblosan yang bebas-rahasia, ada yang coba menyegarkan suasana dengan humor: “Kita lupakan perbedaan, mari kita karaoke.” Seolah-olah Pilkada hanya selingan sebelum pesta dansa berikutnya. Ada juga yang mencoba mengingatkan bahwa kita ini bersaudara. 

Dikutiplah peribahasa Maluku yang terkenal, Ale rasa _eta rasa, katong samua basudara, seng ada lawange, yang maknanya mencerminkan nilai persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat. Dalam bahasa Indonesia, artinya, “Perasaanmu adalah perasaanku; kita semua bersaudara, tak ada permusuhan.” 

Frasa “Ale rasa beta rasa” menegaskan pentingnya memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ini menunjukkan, setiap individu memiliki nilai yang sama dalam tatanan sosial. “Katong samua basudara” adalah prinsip dasar bahwa semua orang, terlepas dari suku, agama, atau status sosial, adalah satu keluarga besar.

Sementara frasa “Seng ada lawange” berarti tidak ada permusuhan. Dalam masyarakat Maluku, konflik diselesaikan dengan dialog dan musyawarah, mengutamakan perdamaian di atas segalanya. Ini filosofi mendalam tentang empati, solidaritas, dan kerukunan dalam masyarakat meskipun hidup dari latar belakang yang berbeda.

Peribahasa ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh isu-isu politik, sosial, dan budaya. Ini mengajarkan filosofi bahwa perbedaan tidak harus menjadi pemisah, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk bersatu. Konflik diminimalisir, dan persaudaraan nasional dijaga.

Kita perlu menyatukan hati. Sebab, setelah Pilkada, pekerjaan rumah kita baru dimulai. Kita harus memastikan bahwa para pemenang tidak hanya berpesta kemenangan, tapi juga bekerja sesuai mandat rakyat. Kita harus memastikan yang kalah tidak sibuk mencari celah untuk menggugat, melainkan mencari cara lain untuk berkontribusi. 

Dan yang paling penting, kita semua sebagai rakyat harus tetap kritis. Bersama itu, di tengah kekurangan dan masalah yang ada, mari kita jadikan ini momen konstruktif. Pilkada adalah cermin besar yang memantulkan wajah kita sebagai bangsa. Jika ada yang kusam, mari kita poles. Jika ada yang retak, mari kita perbaiki. 

Tujuannya bukan untuk sekadar terlihat cantik, tetapi agar demokrasi kita benar-benar menjadi instrumen perubahan dan perbaikan (ishlah). Mari kita kembali ke laptop, tapi jangan lupa untuk memastikan perangkat lunak demokrasi kita terus diperbarui, bebas virus, dan tetap terkoneksi ke realitas yang menunggu di depan mata.

Pilkada selesai, atau akan segera selesai, tapi tugas kita tidak, bahkan menunggu di depan mata. Itu artinya, demokrasi tidak hanya soal siapa menang atau kalah, tapi bagaimana semua ini bisa menjadi jalan untuk membangun bangsa. 

Sekali lagi, ale rasa beta rasa, katong samua basudara. Kata orang Jawa, sapa saudara sai sedulur, siapa pun adalah saudara. Dan ya, semoga laptopnya tidak hang.

*Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya